659 Views

Hati dan Profesionalitas dalam Pelayanan Kasih Seksi PSE

(by: Leo Depa Dey)

Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Paroki St Ignatius Loyola, Semplak, telah melaksanakan rapat kerja perdana di aula paroki pada pada Minggu (28/2). Selain ketua seksi, wakil ketua, sekretaris dan bendahara, dalam rapat ini hadir pula wakil dari dewan paroki dan para pengurus di lima sub-seksi pada Seksi PSE yakni sub-seksi kesehatan, sub-seksi kardiwilasa, sub-seksi pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan, sub-seksi pemberdayaan SDM (pendidikan & tenaga kerja), dan sub-seksi sosial kemasyarakatan. Agenda utama rapat adalah penyusunan program kerja tahun 2016.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyajikan program kerja dari rapat tersebut, tetapi membagikan semangat dalam diri anggota seksi PSE dan menanggapi beberapa isu strategis pengelolaan program. Berikut hal-hal strategis sebagai perhatian serius dalam rapat kerja tersebut.

            Pertama, penyusunan program dan pengambilan keputusan berdasarkan data. Memberikan pelayanan kasih secara efektif dan efisian perlu data umum dan data khusus per kluster perihal situasi dan kondisi umat se-paroki. Misalnya, data jumlah orang dengan usia lanjut, data keluarga yang paling butuh dukungan biaya pendidikan anak-anak. data kebutuhan biaya aktual pemakaman disandingkan dengan iuran dari umat, data potensi kapasitas sampah plastik dari rumah tangga yang dapat dikelola. Lalu jumlah keluarga prasejahtera sesuai indikator yang dapat dipertanggungjawabkan.

            Kedua, menjunjung tinggi prinsip akuntabilitas dan transparansi pengelolaan program. Setiap kebijakan, keputusan, tindakan, produk, pelayanan dapat dipertanggungjawabkan, dipertanyakan, diawasi, dan dapat dipersalahkan/dikoreksi. Ada tiga kriteria dalam membangun akutabilitas yakni pertanggungjawaban, penyajian tepat waktu, dan pemeriksaan. Sedangkan transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang kebijakan, pembuatan dan pelaksanaan, serta hasil yang dicapai. Transparansi dicirikan oleh pertanggungjawaban terbuka, aksesibilitas terhadap informasi kinerja, laporan program termasuk keuangan, dan publikasi laporan. Dalam konteks kerja PSE, kedua hal itu berarti pelayanan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak-pihak yang berhak tahu yakni pemimpin umat dan umat itu sendiri. Hal itu berarti Pastor Paroki, DPPH, DKP dan terutama umat Paroki Semplak. Tidak kalah penting adalah ketersediaan informasi yang dapat diakses umat. Misalnya, umat yang merasa perlu untuk tahu dapat mengakses informasi melalui ketua lingkungan. Mengapa umat perlu tahu? Ini ada hubungannya dengan partisipasi yang akan diuraikan di bawah ini.

            Ketiga, menjunjung tinggi prinsip partisipasi. Partisipasi berarti keterlibatan umat dalam pembuatan, pengawasan, dan pelaksanaan keputusan dan kegiatan-kegiatan PSE. PSE sesuai fungsi tradisionalnya adalah memberikan bantuan pada umat, namun  umat-umat lain yang memiliki sumber daya lebih dalam arti kompetensi, jejaring, dana dan semangat diharapkan berpartisipasi secara langsung. Sebagian besar umat memiliki kerinduan terlibat dalam kegiatan gereja, namun tidak mengetahui cara yang sesuai dengan sumber dayanya tersebut. Jadi, melibatkan umat untuk mau membantu dan dibantu merupakan ciri dari prinsip partisipasi ini. Lebih jauh, partisipasi menjadi penting karena pelayanan Seksi PSE berorientasi  dan sungguh-sungguh menjawab kebutuhan umat;  semakin intens umat berpartisipasi maka pengawasan terhadap PSE semakin intens; ketika umat berpartisipasi maka segera diketahui dukungan yang dibutuhkan Seksi PSE dalam mengemban amanatnya. Untuk itu, peran ketua lingkungan dan wilayah dalam memobilisasi partisipasi umat sangat krusial bagi suksesnya program kerja Seksi PSE.

            Keempat, pelayanan kasih hendaknya bertujuan memberdayakan dan bukan melanggengkan ketergantungan. Untuk itu ketersediaan data, indikator yang lebih jelas untuk keluarga prasejahtera yang akan dibantu dan peta jalan dalam bantuan karitatif menuju pendampingan yang memberdayakan sangat diperlukan. Mengombinasikan bantuan sosial karitatif dengan pendampingan melalui program pemberdayaan kepada keluarga prasejahtera menjadi pekerjaan rumah bagi PSE.

Pemberdayaan juga berlaku bagi umat dalam kelompok sejahtera dalam konteks sebagai berikut: Umat mengetahui dan menjalani cara hidup sehat sebagai bentuk perilaku preventif daripada kuratif; para pekerja Katolik punya sikap profesional Katolik dalam berkarya di lingkungan pekerjaan masing-masing seperti kedisiplinan, kejujuran, kemampuan memberi solusi, dan lain sebagainya; mengelola ekonomi rumah tangga berbasis kebutuhan bukan konsumerisme; umat mulai menyakini dan menghidupi green living.

Kelima, aksi nyata mendukung kebijakan keuskupan terkait pelestarian lingkungan. Pelestarian lingkungan menjadi salah satu Prioritas Kebijakan Pastoral Keuskupan Bogor 2016 – 2020. Seksi PSE melalui sub-seksi Pelestarian Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi bertekad mengajak umat mendukung kebijakan tersebut melalui aksi nyata sederhana. Dua aksi nyata yang direncanakan adalah pengelolaan sampah plastik dan penggunaan pekarangan gereja dan rumah tangga untuk bercocok tanam menggunakan media polybag. Meskipun ini merupakan langkah kecil namun tidak mudah diwujudkan tanpa dukungan nyata seluruh umat paroki.

Keenam, gereja yang mau keluar ke jalan. Dilandasi oleh himbauan Paus Fransiskus, “Saya lebih suka Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan, bukan Gereja yang sehat, yang membatasi diri dan mencari kenyamanan pribadi.,” Seksi PSE Paroki Semplak akan meneruskan program pengurus sebelumnya untuk melayani saudara-saudara yang paling membutuhkan tanpa dibatasi sekat-sekat agama dan kepercayaan. Melalui sub-seksi SDM (Pendidikan dan Tenaga Kerja), Seksi PSE periode lalu membantu dana pendidikan sejenis beasiswa kepada anak-anak dari keluarga yang sangat membutuhkan baik yang merupakan umat Paroki Semplak maupun masyarakat di sekitar gereja. Ke depan, bisa memperluas jangkauan program dana pendidikan dengan menginisiasi donasi umat dalam kerangka Gerakan Orang Tua Asuh. Semangat gereja yang mau keluar ke jalan ini juga akan diupayakan tim Seksi PSE melalui sub-seksi Sosial Kemasyarakatan dengan cara terlibat aktif di dalam Forum BASOLIA (Badan Sosial Lintas Agama) baik di Kota Bogor maupun di Kabupaten Bogor.

Dalam Ensiklik Deus Caritas Est (Allah adalah Kasih) artikel 31a, Paus Emeritus Benediktus XVI menyatakan bahwa,”Pribadi-pribadi yang peduli pada sesama yang kekurangan dalam karya kasih Gereja pertama-tama haruslah mempunyai kompetensi  profesional: mereka harus terlatih dalam tugas mereka dan terampil melakukannya, serta punya komitmen yang berkelanjutan. Tetapi profesionalisme saja tidaklah cukup. Kita mengurus manusia yang lebih dari soal keahlian teknis; mereka membutuhkan sikap manusiawi. Mereka membutuhkan hati. (DCE 31a)

Pesan ini mau mengatakan bahwa pengabdian terhadap orang yang menderita perlu dilakukan secara profesional yakni melaksanakan apa yang tepat dengan cara yang tepat, lebih dari itu pengabdian ini terutama membutuhkan hati. Semoga semangat dari pesan ensiklik ini, dengan dukungan dan doa umat sekalian, mampu diwujudnyatakan oleh tim Seksi PSE Paroki kita dalam karya pelayanannya. (Leo Depa Dey).

Subscribe to Paroki St.Ignatius Loyola Semplak – Bogor by Email

 

 

 

About Yohanes Riyanto 25 Articles
Yohanes Riyanto, Msi Paroki St. Ignatius Loyola Sempak Bogor

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*