360 Views

Laporan Utama (1) Kebangkitan Kristus dan ‘Mengasihi’ Sesama

Rangkaian perayaan Paskah di Bogor dan  daerah-daerah lainnya di Indonesia relatif aman.

Pekan Suci yang berawal dari Minggu Palma, Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Hening, dan Minggu Paskah bisa dikatakan lancar.  Ini patut disyukuri sebagai indikator membaiknya tingkat pengamanan, baik dari kalanga internal umat Katolik maupun dengan bantuan keamanan, seperti polisi. Situasi seperti ini harus tetap dipelihara dan menuntut umat Katolik tetap waspada serta semakin menjalin komunikasi dengan masyarakat luas.

 

Hampir di setiap gereja Katolik dan Protestan, pengamanan diperketat ketika umat hendak merayakan misa atau kebaktian.  Sebanyak 201 personil kepolisian Bogor Kota menjaga 41 gereja pada rangkaian perayaan Paskah. Pengamanan difokuskan untuk menjaga ketertiban dan arus lalu lintas di sekitar lokasi gereja.

Kapolres Bogor Kota Ajun Komisaris Besar Andi Herindra menuturkan, rasio personel pengamanan di setiap gereja tergantung pada jumlah masing-masing gereja. Setiap gereja di tempatkan dua hingga empat polisi. Polisi bertugas memeriksa barang bawaan jemaat sebelum masuk ke dalam gereja.  Sedangkan, personil Satuan Lalu Lintas Bogor Kota membantu mengatur lalu lintas di seputar gereja. Selain polisi, penjagaan juga dibantu personil pengamanan intern masing-masing gereja.

“Prosedur pengamanan dilakukan mulai perayaan Jumat Agung (Jumat 25/3) hingga perayaan Paskah pada Minggu (27/3),” kata Kapolres seperti ditulis Beritasatu.com.

 

Di Indonesia, umat Kristiani setidaknya bisa merayakan Paskah dalam ketenangan dengan suasana kesakralan yang tinggi. Lain halnya di negara-negara lain, seperti Paksitan. Teror, intimidasi, kekerasan, dan ancaman lainya seakan menjadi santapan yang terus berlangsung, baik kepada masyarakat umum maupun umat Kristiani. Terakhir, sebuah bom meledak di Lahore, Pakistan, pada Minggu (27/3) yang menewaskan 72 orang dan 300 korban lain yang luka-luka. Sebagaimana telah banyak diberitakan, salah satu faksi Taliban mengakui aksi mematikan itu menyasar warga Kristen.

“Targetnya adalah warga Kristen,” kata juru bicara faksi Jamaat-ul-Ahrar, Ehsanullah Ehsan, seperti dikutip Reuters. Jamaat-ul-Ahrar dari Taliban Pakistan mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut.

Wartawan Aljazeera, Kamal Hyder, yang melaporkan dari Islamabad, mengatakan banyak warga Kristiani berada di taman ketika ledakan bom bunuh diri itu terjadi. Hyder menambahkan, taman tersebut sangat populer bagi keluarga dan anak-anak untuk bermain.

Pengeboman pada Paskah tersebut merupakan serangan terburuk sejak pembantaian di sekolah pada 2014, yang menurut menewaskan 134 pelajar. Duka mendalam bagi umat Kristiani di tengah Paskah juga hampir bersamaan dengan kabar yang beredar di media sosial bahwa Pastor Tom mengalami penganiayaan di Yaman.
Semua Bersaudara

Bom bunuh diri yang mematikan di Pakistan, terjadi hanya berselang dua hari ketika Pemimpin Umat Katolik Paus Fransiskus (Francis) dalam ritual Kamis Putih membasuh dan mencium kaki pengungsi di pusat penampungan Castelnuovo di Porto, Italia, Kamis (24/3). Yang dilakukan Paus ke-226 tersebut merupakan ritual mengenang kembali Yesus sebelum disalib. Dalam perjamuan terakhir, Yesus membasuh kaki 12 rasulnya.

Latar belakang para pengungsi itu beragam, yakni 3 imigran Kristen koptik dari Eritrea, 4 umat Katolik dari Nigeria, 3 muslim dari Mali, Syria, dan Pakistan; serta seorang warga Hindu dari India. Beberapa imigran meneteskan air mata saat Paus Fransiskus berlutut dan membasuh kaki mereka dengan air suci. Paus lantas mengelap serta mencium kaki yang sudah dibasuh tersebut.

Paus Fransiskus mengikat tali persaudaraan, seiring meningkatnya sentimen anti-Muslim pasca serangan bom di Brussel, Belgia, yang menewaskan lebih dari 30 orang.

Ada pesan khusus yang disampaikan Paus dalam ritual menyambut Paskah yaitu mengingatkan semua orang, bahwa semua manusia dengan berbagai agama yang berbeda adalah umat Tuhan. Para pelaku serangan teror di Brussel hanya ingin menghancurkan persaudaraan kemanusiaan yang diwakili kaum pendatang atau imigran.

”Kami memiliki budaya dan agama yang berbeda, tapi kita adalah saudara dan kami ingin hidup dalam damai,” kata Paus Francis dalam pesannya.

Beberapa imigran menangis saat Francis berlutut di depan mereka, menuangkan air suci dari kendi kuningan atas kaki mereka, menyeka hingga bersih dan menciumnya.

Pembasuhan kaki oleh Paus tahun ini juga terasa lebih spesial. Tidak hanya disebabkan adanya pengungsi tapi juga untuk kali pertama ada perempuan di antara 12 orang yang terpilih untuk dibasuh kakinya oleh Paus. (HS)

Indonesia Kecam Aksi Bom saat Paskah di Pakistan

Indonesia mengecam keras serangan teror pada saat perayaan paskah di Kota Lahore, Pakistan, Minggu (27/3). Ledakan bom yang terjadi di lapangan parkir di kota Lahore ini dilaporkan telah menewaskan setidaknya 72 orang dan ratusan lainnya luka-luka, termasuk wanita dan anak-anak.

 

“Pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan simpati dan duka cita yang mendalam kepada rakyat dan pemerintah Pakistan, khususnya kepada korban dan keluarga korban,” ujar Menlu Retsaatno LP Marsudi di Jakarta, Senin (28/3).

 

Terkait peristiwa itu, Menteri Retno kembali menegaskan bahwa aksi terorisme atau kekerasan dalam bentuk dan manifestasi apapun tidak bisa ditoleransi. Ia meminta semua negara tetap bersatu padu perangi terorisme

“Di saat sebagian umat di dunia dan juga di Pakistan merayakan Hari Raya Paskah, tindakan teror yang terjadi kembali menunjukan pentingnya komunitas internasional untuk meningkatkan kerja sama dalam memerangi ekstrimisme dan radikalisme,” tegasnya.  (HS)

Subscribe to Paroki St.Ignatius Loyola Semplak – Bogor by Email

 

About Yohanes Riyanto 27 Articles
Yohanes Riyanto, Msi Paroki St. Ignatius Loyola Sempak Bogor

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*