462 Views

Suatu Renungan Tentang Panggilan Tuhan

kita dipanggil untuk mengampuni memberi firdaus memberi merasa ditingalkan merasa haus menyelesaikan dan menyerahkan

Kita semua dipanggil Tuhan untuk menjadi milikNya yang paling Ia kasihi. Jika kita menyadari hal ini, maka kitapun sadar Allah menciptakan manusia untuk menjadi bahagia dengan cara mencintai dan memberi kesempatan untuk dicintai. Perziarahan kita di dunia ini merupakan suatu pangggilan Tuhan yang kadang bertentangan dengan keinginan manusiawi kita.  Tapi semakin bertambah usia, ketika kita semakin memiliki waktu untuk “hening” dan melihat kembali perjalanan hidup kita maka kita akan melihat bahwa Rencana Tuhan dalam  hidup kita memang sungguh Indah . Semua yang kita lalui dalam hidup merupakan persiapan akan kehidupan yang sedang kita jalani saat ini.

Sebagai seorang Pengikut Kristus kita patut bersyukur bahwa seseorang telah mendahului kita berziarah di dunia ini. Ke 7 ucapan terakhirNya di Kayu Salib, merupakan penuntun bagi kita untuk mengimani panggilan hidup kita masing masing.

1.Kita dipanggil untuk “Mengampuni” Betapa sering dalam hidup kita, kita terluka. Terluka oleh kelakuan sesama atau oleh kesalahan kesalahan kita sendiri. Terluka karena impian dan cita cita kita menjadi suatu kenyataan hidup yang lain. Langkah hidup ini akan terasa lebih ringan jika kita menyadari bahwa kita dipanggil untuk terus menerus “Mengampuni”  Mengampuni mereka yang bersalah kepada kita , mengampuni diri kita sendiri dan percaya dengan mengampuni luka kita disembuhkan dan kita dikuatkan untuk terus melangkah menjalani perziarahan hidup kita selanjutnya. Kita dipanggil untuk dengan tulus berulang kali berkata :” Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:24)

  1. Kita dipanggil untuk “Memberikan Firdaus” kepada sesama kita. Ia yang mendahului kita pernah berkata kepada seorang pendosa :” Hari ini juga Engkau bersamaku di dalam Firdaus ( Luk.23:43). Firdaus kita dapat merupakan rumah kita, jabatan kita , keluarga kita dan semua yang kita cintai. Kita dipanggil untuk mencintai dengan rasa syukur apa yang diberikan pada kita dalam hidup ini dan…sekaligus setapak demi setapak dengan rasa syukur juga melepaskannya, memberikannya kepada orang lain. Suatu hari apa yang kita rintis akan menjadi tanggung jawab generasi penerus. Suatu saat rumah yang kita anggap firdaus kita di dunia akan dihuni oleh anak cucu kita. Suatu saat kenangan masa lalu kita, kegagalan dan keberhaslan kita, akan kita hibahkan sebagai suatu cerita tentang sekolah  kehidupan di dunia.

Bu Rosa Abas 20160507_234055

3.Kita dipanggil untuk  :“Meneruskan kasih kita pada orang lain” Perjalanan hidup kita sebagai “orang tua” atau sebagai “guru” atau sebagai “pimpinan” merupakan panggilan hidup untuk meneruskan kasih kepada orang lain. Di saat terakhirNya di dunia Yesus bersabda :”Ibu lihatlah anakmu” dan “ Anak lihatlah ibumu” ( Yoh.19:27) Dalam hidup ada saatnya kitapun harus melepaskan orang yang paling kita kasihi dan dalam kasih menyerahkannya pada orang lain. Murid murid kita  , karyawan dan karyawati kita bahkan anak anak kita ketika mereka ingin melanjutkan hidup bersama pasangan mereka . Adakalanya kita juga harus melepaskan orang tua kita , guru guru kita atau pimpinan kita saat kita sadar bahwa hidup kita bersama mereka harus berakhir.

  1. Dalam perjalanan hidup kita sering kita merasa jalan yang harus kita lalui terlalu terjal dan melelahkan. Kita berkeluh kesah pada sahabat- kerabat kita dan mendapat kata kata hiburan :” Tuhan tak pernah meninggalkanmu” Tuhan tak kan pernah memberi beban yang lebih berat daripada yang kau dapat pikul. “ Semuanya benar…Kasih Allah tak pernah meninggalkan kita. Tapi….kita semua dipanggil untuk jujur mengungkapkan apa yang kita rasakan. Kita dipanggil untuk: “Jujur menghadap padaNya dengan segala kerapuhan dan keraguan kita” Dihadapan Tuhan kita tak perlu bersikap seakan akan kita kuat. Jujurlah untuk berseru dalam kedukaan :” Allahku ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku ?” ( Mat.27:46) Justru dalam kelemahan kita akan menemukan panggilan kita sebagai milikNya yang paling dikasihiNya.
  2. Aku haus ( Yoh.19:28) Haus akan kasih sayang, haus akan pengertian, haus akan mencapai keberhasilan dan pengakuan..semua adalah salah satu dari panggilan hidup kita sebagai manusia. Kita dipanggil terutama untuk merasakan kehausan akan persatuan dengan Dia yang mengutus kita ke dunia. Haus akan persatuan denganNya membuat kita mencari Dia yang tersamar dalam diri sesama kita.
  3. Hidup ini indah…hidup ini penuh misteri. Kita dipanggil untuk menjadi bahagia, menikmati kasih dan terus menerus mengatakan “ Sudah selesai” ( Yoh 19:30) Ketika kita mulai belajar berjalan secara tak sadar kita mengatakan kepada orang tua kita :”ibu dan ayah , sudah selesailah kini masa aku harus selalu di gendong oleh kalian” Demikian juga ketika kita memasuki sekolah dasar kita berkata “ masa bermain di taman terindah , taman kanak kanak, sudah selesai bagiku” Demikian seterusnya. …..Mudah untuk diucapkan, tapi tak selalu mudah untuk dilaksanakan. Hidup adalah belajar untuk mencintai, belajar untuk melepaskan, belajar untuk mengatakan “sudah selesai” ”sungguh baik orang lain mengambil alih tugasku dan melaksanakannya dengan cara yang lain. Aku telah berusaha sebaik mungkin, waktuku telah berlalu..sudah selesai” .
  4. Dipanggil berarti juga diutus untuk suatu tugas. Jika kita menyadari dan mengimani siapa yang memanggil dan mengutus kita ke dunia, maka kitapun yakin bahwa hidup dan mati kita ada ditangan Dia yang mengutus kita. Kita dipanggil untuk berpasrah diri setiap kali mengetahui bahwa impian kita, cita cita hidup kita menjadi kenyataan yang lain. Kita dipanggil untuk berpasrah ketika apa yang kita bangun kelihatan runtuh , ketika kita merasa gagal . Kita dipanggil untuk menjadi saksi bahwa semua yang ada dalam hidup ini, termasuk diri kita adalah milikNya. Suatu saat perziarahan hidup kita akan berakhir dan saat itu kita dipanggil bukan untuk diadili tapi untuk menceritakan perjalanan hidup kita. Semoga pada saat kita mendengar panggillan terakhir di dunia ini kita dapat menjawab Dia yang memanggil kita :” Bapa ke dalam tanganMu kuserahkan jiwaku” ( Luk 23:46) bunda teresa

Suatu pagi di desa Tonjong, 2016.  (Maria Rosa)

 

 

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*