579 Views

Berita Lingkungan Gabriel: 40 Hari Mengenang Keristina Pangkung

40 Hari Mengenang Ibu Kersitina Pangkung

Sabtu pagi, 28/5/16 bertempat di rumah Bpk.Holan Tamba, untuk kedua kalinya dalam bulan ini Pastor  paroki kita RD. Ridwan Amo mengunjungi umat di lingkungan Gabriel Yasmin Sektor 5 dalam rangka  misa  40 hari kembalinya ibu Keristina Pangkung ke pangkuan Bapa di Surga.

holan

Mempersembahkan Misa dengan maksud berdoa untuk kedamaikan kekal jiwa umat beriman yang telah meninggal berkaitan dengan keyakinan dan tradisi umat katholik universal akan api penyucian.    Umat Katholik mengimani bahwa seseorang yang meninggal dunia dalam iman kepada Tuhan, namun tetap menanggung dosa-dosa ringan dan luka akibat dosa, maka Tuhan dalam kasih dan kerahiman Ilahi-Nya akan terlebih dahulu memurnikan jiwa dalam api pencucian, dimana setelahnya jiwa akan mendapatkan kekudusan dan kemurnian yang diperlukan agar dapat ikut ambil bagian dalam kebahagiaan abadi di surga.

Sementara tiap-tiap individu menghadirkan diri di hadapan pengadilan Tuhan dan harus mempertanggung-jawabkan hidupnya masing-masing, persekutuan Gereja yang telah dimulai di dunia ini terus berlanjut. Konsili Vatikan II menegaskan, “Itulah iman yang layak kita hormati, pusaka para leluhur kita: iman akan persekutuan hidup dengan para saudara yang sudah mulai di sorga, atau sesudah meninggal masih mengalami pentahiran.”  Oleh sebab itu, sama seperti sekarang kita saling mendoakan satu sama lain dan saling meringankan beban satu dengan yang lainnya, umat beriman di dunia dapat mempersembahkan doa-doa dan kurban guna menolong jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal dunia yang sedang dalam pemurnian, dan tak ada doa dan kurban yang lebih baik yang dapat dipersembahkan selain daripada Kurban Misa Kudus  (P. William P. SaundersArlington Catholic Herald,  All rights reserved; www.catholicherald.com – http://www.indocell.net/yesaya ).

Mengawali homilinya Pastor Ridwan menceritakan mengenai phobia beliau atas anjing, sosok hewan yang bagi sebagian orang merupakan hewan lucu dan menyenangkan, namun tidak bagi yang memiliki trauma atas hewan tersebut.    Dalam homilinya Pastor Ridwan menyatakan ada hal yang harus kita lakukan dalam hidup ini ketika menghadapi ketakutan dan kekhawatiran; yaitu dengan berdamai.    Kita harus berdamai dengan Yesus, berdamai dengan Tuhan sehingga dalam hidup, kita tidak tidak lagi akan merasa khawatir, merasa takut karena Tuhan sendiri hadir dalam hidup kita.

Berdamai dengan Tuhan adalah hal yang sudah dilakukan oleh sosok Ibu Keristina Pangkung selama perjalanan KP_fotopanjang sakitnya sejak divonis Gagal Ginjal di tahun 2002.  Sosok yang dikenal oleh seorang ibu yang merupakan teman dan sahabatnya yang dituangkan dalam tulisan ini.   Sosok pribadi yang menginspirasi bagi kita semua.

Ibu Kristin adalah sosok pribadi yang sangat percaya dan memiliki pengharapan kepada Tuhan, iman yang teguh dan pribadi yang sangat tegar, pantang menyerah.  “Kita memiliki Allah yang maha dahsyat, tidak ada hal yang tidak mungkin bagi Allah” tutur Ibu Kristin suatu ketika saat mengisahkan lika-liku perjalanan sakitnya, pengharapannya, sehingga pada saat batas-batas titik kekuatan manusia mampu menahan sakit, sosok Holan suaminya dan Leonardus Lino Tamba anak semata wayangnya selalu muncul menjadi kekuatan yang menyemangati dirinya untuk pantang menyerah.  Dalam permohonannya, Ibu Kristin selalu berdoa agar Tuhan mengingat bahwa Tuhan sudah menitipkan Leo kepadanya, sehingga mohon agar Tuhan juga tetap berkenan memberikan izin untuk merawatnya.   Ibu Kristin tidak pernah marah kepada Tuhan atas hal yang terjadi dalam dirinya sebaliknya berserah diri sesuai kehendak Nya.    Dan lewat jalan berliku nan panjang, Tuhan sudah memberikan hal tersebut.

Ibu Kristin merupakan sosok murah hati dan care dengan sesamanya.   “Semua sudah pernah saya alami, saya sudah pernah mengalami rasanya keluar masuk rumah sakit, kritis, kecewa, susah dst” ungkapnya suatu waktu. Memang Ibu Kristin selama sakitnya ini sudah menjalani 3x transplantasi ginjal-pertama kali di Indonesia untuk jumlah operasi itu.   Namun hal tersebut tidak membuat dirinya menjadi manusia yang terbatas,  sebaliknya “Ibu Kristin selalu menjadi orang pertama yang merespon memberikan bantuan (termasuk dana) jika di lingkungan mengedarkan pencarian dana untuk membantu warga yang membutuhkan bantuan, masuk rumah sakit misalnya” ungkap sahabatnya tersebut.      “Keluarga memang harus memberikan yang terbaik, tugas kita sebagai teman adalah membantu” tutur Bu Kristin.        Sungguh suatu karya nyata dari empati seorang Kristin.  Hal yang sama juga dilakukan bu Kristin dan pak Holan  terhadap Leo – buah hati semata wayang ,walaupun dalam kondisi keterbatasan fisik dan waktu namun tidak menjadi alasan untuk bisa berbagi dan berkarya bagi Tuhan dan sesama: Leo tetap diarahkan untuk melayani dengan menjadi Putra Altar/ misdinar.  Ya, Leo memang salah satu putra Altar aktif di paroki kita St. Ignatius Loyola kita.

Ibu Kristin adalah juga sosok pribadi yang penuh kasih dan selalu berpikiran positif -positive thinking. Selama pembicaraan dalam banyak tahun dengan sahabatnya, tidak pernah sekalipun terucap dari Ibu Kristin hal-hal yang negative tentang seseorang, prasangka, intrik ataupun hal-hal yang umumnya sering kita dengar. Semuanya adalah hal hal yang baik, hal itulah yang membuat Bu Kristin pada periode sebelum kepergiannya nampak riang, ceria, lepas, bahagia sehingga tidak ada seorangpun menduga Tuhan berencana lain.

Ibu Kristin memang sudah 40 hari kembali ke Rumah Bapa di Surga, namun catatan di blog [https://lifeisgift.wordpress.com] mengenai perjuangan dan kisah perjalanan “pedati” nya- istilah pak Holan suaminya menyebut keluarganya, bisa menjadi insprasi kita semua dalam menghadapi segala hal yang diberikan Allah dan selalu bersyukur kepada Allah walaupun itu tidaklah mudah.

Selamat Jalan Ibu Kristin, doa kami selalu menyertai.  Amin.

 

yohanesriyanto.06.16.

—- Flash Back : Perjalanan “Pedati” yang ditulis langsung pada waktu terjadinya sehingga lebih “Live”; diambil dari [https://lifeisgift.wordpress.com] dan dikutipkan di sini tanpa maksud lain kecuali- penghormatan kepada ibu Kristin dan penguat bagi keluarga-keluarga yang saat ini sedang menderita sakit serta-  memudahkan yang baca karena link disatukan dalam urutan waktu, mohon maaf untuk yg tidak berkenan —-.

[https://lifeisgift.wordpress.com/my-family/]

KERISTINA PANGKUNG

August 19, 2010

Biasanya, istriku mengomel bila mengetahui namanya ditulis dengan menggunakan huruf “e” di antara huruf “K” dan “r”. “Kan lebih bagus kalau ditulis Kristina Pangkung. Keristina kok kurang enak didengarnya.”. Tapi begitulah nama yang tertulis di akte kelahiran, entah karena kesalahan mengetik petugas administrasi di Rantepao atau memang demikian yang diinginkan oleh orang tuanya. Menjalani masa kecil di Palopo dan Rantepao, Keristina kecil menjadi saksi naik turunnya kehidupan keluarga Pangkung yang sungguh berwarna.

Setelah kami berdua bekerja, maka kami memutuskan untuk menikah. Keluarga muda yang bahagia karena kami hidup dengan penghasilan sendiri, walaupun pas-pasan. Bertambah besar kebahagiaan kami dengan kelahiran putra semata wayang kami Leonardus Lino Tamba. Semakin bertambah besar lagi kebahagiaan kami karena saya mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Semuanya indah, hingga kejadian bulan desember 2002. Kejadian yang mengubah secara drastis pola hidup dan pola pikir Keristina dewasa. Kejadian yang menunjukkan bagaimana seorang Keristina Dewasa mampu mengatasi penderitaan hidup yang luar biasa menderanya dan muncul sebagai pemenang.

Vonis “gagal ginjal” Keristina dewasa terima tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Keristina Dewasa buta sama sekali apa itu gagal ginjal. Yang Keristina dewasa tahu, kata dokter, itu artinya perlu menjalan terapi cuci darah seumur hidup, minimal dua kali seminggu. Itu artinya pengeluaran yang luar biasa besar bagi kami, keluarga muda yang baru merangkak naik. dikemudian hari, baru Keristina dewasa tahu, itu artinya Keristina dewasa memerlukan kesabaran dan keteguhan hati dalam meniti hidup di atas sebatang bambu yang gelap, licin dan panjang tanpa akhir sambil terus berharap adanya setitik sinar di ujung titian.

Pencarian pengobatan alternatif menjadi langkah awal perjuangan Keristina dewasa. Reiki, jamu-jamuan, magnetisasi, balur tanaman disamping misa-misa penyembuhan menjadi santapan sehari-hari selama kurang lebih 2 bulan sampai akhirnya Keristina Pangkung tak bisa lagi bangkit dari tempat tidur akibat racun yang menumpuk di dalam tubuhnya. Bulan ketiga, akhirnya Keristina Dewasa menyerah dan memulai fase kehidupan cuci darah. Fase inipun tidak semulus yang diperkirakan. Tekanan darah yang tinggi, air minum yang dibatasi, transfusi darah akibat kekurangan darah merah, menjadi santapan sehari-hari yang menyiksa. Belum lagi waktu dua kali 5 jam seminggu yang dihabiskan di rumah sakit meniumbulkan rasa bersalah Keristina dewasa terhadap Leo karena kehilangan waktu-waktu berharga membesarkan anak yang masih balita.

Setitik sinar muncul ketika bulan desember 2003, sang kakak di papua menyatakan diri bersedia menyumbangkan satu ginjalnya.  Operasi berjalan lancar dengan harapan setinggi langit. Seminggu kemudian titik sinarpun meredup dan mati. Ginjal tidak berfungsi dengan baik dan harus diambil kembali. Fase kedua cuci darahun kembali dijalani. Kali ini ditambah dengan seringnya opname yang harus dijalani minimal 2 bulan sekali. Semangat hidup Keristina dewasa mencapai titik terendahnya ketika stroke menyerang di bulan juli 2005. Empat hari tidak sadarkan diri, menimbulkan pesimisme bahwa kalaupun hidup kembali, kerusakan permanen membayang di depan mata. Ajaib. Hari keempat Keristina dewasa bangun tanpa masalah di syaraf dan otak.

Fase berikutnya adalah cuci darah melalui perut untuk menghindari tekanan darah yang meninggi yang dapat memicu stroke yang kedua. Kesakitan yang amat sangat di perut, serta proses pertukaran cairan yang sering tersumbat, mengakibatkan keristina dewasa kembali menjalani fase cuci darah yang ketiga. Kali ini dengan lebih banyak memasrahkan diri kepada Sang Pencipta.

Bulan April 2006, dengan keajaiban akhirnya dana terkumpul, Keristina dewasa menunjukkan keteguhan hati dengan menjalani kembali transplantasi ginjal ke Guang Zhou. Setitik sinar ini begitu Keristina dewasa jaga agar jangan sampai padam. sampai akhirnya proses transplantasi ginjal berlangsung dengan lancar dan sukses. Keristina dewasa begitu menjaga titik sinar tersebut dengan baik, walau untuk itu tidak ada lagi acara makan di luar rumah, walau untuk itu masker selalu menempel di wajahnya, walau untuk itu menjaga kebersihan menjadi kegiatan sehari-hari. Tanggal 10 aprilpun Keristina dewasa rayakan setiap tahun dengan penuh syukur kepada Sang Pencipta. Keristina dewasa percaya Tuhan tidak akan mencobai umatNya lebih dari kemampuan.

Keristina dewasa begitu menikmati perannya mengasuh suami dan putranya dengan penuh kasih sayang. bahkan berlebih seperti ingin menebus masa-masa yang hilang selama sakitnya.Tapi rupanya cobaan belum berhenti datang, bulan desember 2010 kembali Keristina mengalami gagal ginjal. Ginjal yang diperoleh dari Cina mengalami kegagalan fungsi yang bisa disebabkan karena usia ginjal yang sudah tua atau karena imunitas tubuh yang meninggi. Sehingga akhirnya fase keempat cuci darahpun dijalani Keristina. Sampai saat ini Keristina menjalani kehidupan dengan tabah sambil berharap suatu waktu nanti penyakitnya akan sembuh. Keristina Pangkung Hadiah Paling Indah yang Aku Terima.

LEONARDUS LINO TAMBA

Leo panggilannya, lahir bukan pada bulan juni atau juli, memiliki segudang bakat di atas panggung dilengkapi dengan wajah yang mendukung. Lahir ke dunia tanggal 19 januari 2000 di Mitra Keluarga Bekasi dari kedua orang tua yang sungguh mencintainya. Menghabiskan 2 tahun pertama dengan penjagaan penuh dari mamanya, hingga akhirnya harus menghadapi kenyataan sering ditinggal papa-mamanya. Mamanya yang keluar masuk rumah sakit, dan papanya yang harus menjaga mamanya di rumah sakit.  Ulang tahun ketiga yang dirayakan di rumah sakit, menjadi bukti betapa Leo sangat kehilangan perhatian mama-papanya. Ulang tahun yang seharusnya meriah, malah menjadi penuh kesedihan karena walaupun tersedia kue ulang tahun kesukaannya dan hadiah dari sanak keluarga yang menumpuk, Leo menangis tanpa henti. Yah, semenjak mamanya keluar-masuk ruamh sakit, Leo lebih sering diasuh oleh opung dan omanya.

Namun ternyata itu semua membuat Leo menjadi pribadi yang penuh kasih. Leo begitu menjaga mamanya, begitu memperhatikan mamanya. Setiap akan pergi ke luar rumah, dinasehatinya mamanya agar hati-hati dan banyak istirahat. Leo pun selalu mengantar mamanya pergi ke misa-misa penyembuhan, retret-retret dan persekutuan doa. Umur 4 tahun, Leo sudah mengikuti retret 3 hari dengan khusuk dan mengikuti seluruh sesi layaknya orang dewasa. Dan itu berlanjut sampai sekarang.

Tapi Leo tetap anak biasa, anak yang kadang bandel, kadang nakal, kadang marah-marah, kadang malas. Nyaris menjadi anak penyendiri selama 5 tahun awal hidupnya, Leo mulai bersosialisasi dengan teman-teman sekolahnya dan teman-teman di lingkungan rumahnya. Bahkan kini, main dengan teman-temannya menjadi menu wajib sore hari dan hari libur. Mengabaikan teman mainnya selama ini, papanya.

Bakat di atas panggung dimulai dengan ikut kegiatan drama paskah di sekolahnya, kemudian ikut beberapa kali audisi menjadi presenter. Namun bakat utamanya adalah menyanyi. Setelah diikutkan kursus vokal, bakatnya menjadi makin terasah.   Beberapa piala kejuaran di sabetnya. Masih kelas kecil-kecilan namun cukup untuk mengasah keberanian tampil di depan umum.

Itulah Leo, anak biasa yang beruntung mengalami beberapa kejadian dalam hidupnya yang membentuknya menjadi pribadi yang penuh kasih, penuh pengertian, penuh talenta. Leonardus Lino Tamba, hadiah penuh warna yang kuterima dan harus kujaga

Menyuapi Keristina

November 15, 2010 by holantamba

Dalam dua minggu terakhir ini, beberapa kali saya menyuapi Keristina karena badannya yang lemah karena mual dan muntah yang menderanya akibat gangguan fungsi ginjal. Ketika saya dengan kesal menyuapi hari minggu kemarin karena hampir semua makanan yang disuapkan dimuntahkan kembali atau tidak jadi dimakan dengan berbagai alasan saya tertegun melihat kondisi Keristina. Dengan mengenakan jaket berikut penutup kepala untuk menghindari dinginnya ac akibat rendahnya Hb, dengan pipinya yang terlihat tembem akibat obat-obatan anti reject yang belakangan sangat banyak diberikan, dengan sorot mata penuh ketakutandimarahi karena nyaris semua makanan yang disodorkan tidak ada yang mampu ditelannya, saya melihat sosok manusia yang begitu pasrah menjalani penderitaan tak berkesudahan.

Keristina tumbuh besar ketika kondisi ekonomi keluarganya menurun, orang tuanya hanya sanggup menyekolahkan sampai D1 pariwisata.

Setelah berhasil lulus dari D3 akuntansi, menikah dan memiliki seorang putra, kebahagiaan itu terengut kembali dengan vonis gagal ginjal yang diterimanya. Perjuangan bertahun-tahun menjalani cuci darah, cangkok ginjal yang pertama namun gagal, mengalami stroke, menjalani CAPD (cuci darah melalui perut), akhirnya berbuah kebahagiaan setelah cangkok ginjal yang kedua berhasil.

Kebahagiaan dengan ginjal yang baru benar-benar dijaga olehnya. sangat-sangat jarang keristina makan makanan di luar rumah. semua makanan dibuatnya sendiri dengan kebersihan yang terjaga dan kandungan gizi yang memadai. tapi ternyata itu juga belum cukup. kembali gagal ginjal untuk yang kedua kali membayang sekarang.

Setelah semua perbuatan baik yang dilakukan, setelah semua penderitaan yang dialami, setelah semua penjagaan kesehatan yang dia lakukan, apakah Keristina harus kembali menjalani masa-masa cuci darah kembali? Dua minggu yang lalu, setelah kami berusaha mendapatkan second opinion ke guangzhou yang hasilnya negatif, Keristina sempat akhirnya menyerah dan memutuskan untuk kembali ke rumah Bapanya. Namun melihat pendampingan dari kami, suami dan anaknya, Keristina kembali bersemangan berjuang. Bapa di Surga tentu akan menolong anaknya yang menderita. Namun sampai kapan? Penantian itulah yang terpancar dari sorot mata seorang Keristina yang sedang saya suapi. Penantian itulah juga yang sedang kami imani sungguh.

[https://lifeisgift.wordpress.com/2011/02/11/kembali-ke-titik-nol/]

Kembali Ke Titik Nol

February 11, 2011 by holantamba

Untuk ketiga kalinya Keristina di vonis gagal ginjal. Kebahagiaan menikmati ginjal yang kedua kalinya dicangkokkan hanya berumur 4.5 tahun. Dan kembali rutinitas cuci darah membayang di depan mata. termasuk keluhan-keluhan akibat rendahnya HB dan tingginya tekanan darah serta menahan haus harus kembali dijalani.

Tapi kami berusaha untuk bertindak segera, kamipun mencari teman, sahabat, saudara yang mau mendonorkan ginjalnya buat Keristina. Kamipun berhasil menemukan sahabat yang mau membantu kami. Setelah pengecekan HLA dan  cross-match dipastikan Beliau memiliki kecocokan dengan Keristina. Sambil berjalan terus pemeriksaan kesiapan pendonor, kreatinin, ureum dan hb sudah tidak bisa lagi ditolerir oleh tubuh keristina sehingga cuci darah tetap harus dilakukan sambil menunggu kesiapan operasi transplantasi.

Maka dipasanglah double lumen di leher kanan Keristina untuk cuci darah sementara sambil menunggu operasi. Double lumen yang bisa bertahan untuk 3 bulan ternyata bermasalah. Pada cuci darah yang ketiga, reaksi tubuh menggigil dengan panas tubuh yang tinggi menyerang. Setelah itu hampir setiap cuci darah, di jam kedua, selalu suhu tubuh meningkat. diperlukan sampai 2 buli-buli panas, selimut tebal untuk menyelimuti Keristina. Diakhir cuci darah, hal sebaliknya terjadi. Ketika suhu tubuh sudah meninggi hingga 43 derajat, buli-buli panas dan selimut disingkirkan, diganti kipas angin yang sengaja di bawa dari rumah plus kipas tangan. Kadang-kadang malah air dari botol aqua diguyurkan ke kepala dan muka untuk menetralisir panas.

Tak tahan dengan itu semua, maka kami meminta untuk pemasangan double lumen yang kedua di leher sebelah kiri. Sementara pemeriksaan pendonor sudah selesai, tinggal memutuskan apakah operasi tranplantasi bisa berjalan atau tidak. Ternyata keputusan tim dokter begitu berlarut-larut tanpa informasi yang jelas. Masalahnya, belum ada kasus di Indonesia orang di tranplantasi ginjal sebanyak 3 kali, sehingga dokter bedah perlu berkonsultasi dengan dokter di Singapura. Tak mau berspekulasi dengan itu semua, maka kami memutuskan sekalian operasi pemasangan simino  untuk menghadapi kemungkinan operasi transplantasi tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Terakhir, tim dokter masih belum bisa memutuskan dan tampaknya mengarah ke tidak bisa.

Dan akhirnya kami kembali ke titik nol, dengan tabah kami harus mengulangi kembali menjalani hari-hari terberat kami. Cuci darah bagi sementara orang tidak berat. tapi bagi Keristina terasa sangat berat karena tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dan hb yang terus menurun. Keristina mencoba ikhlas dengan semua kesakitan ini, dengan luka akibat operasi di leher kiri, leher kanan, tangan kiri yang pastinya sangat sakit. Saya dan Leo juga harus berani melihat kembali hari-hari penderitaan Keristina.  Entah sampai kapan. Hanya Tuhan yang tahu dan kami hanya terus berusaha yang terbaik.

May 22, 2012 by holantamba

Keristina sudah hampir 3 bulan ini berpindah kegiatan cuci darah dari Rumah Sakit Marzuki Machdi ke Bogor Kidney Center di Jalan Pajajaran, dekat kantor Telkom Bogor. Kami memilih tempat tersebut selain karena harganya paling murah di Bogor (hanya 650 ribu untuk pertama kali dan 550 ribu untuk berikutnya) juga karena tempatnya yang bersih dan tenang. Belum banyak pasien yang memanfaatkan tempat ini, entah karena sekarang hampir semua pasien cuci darah sudah menggunakan jamkesmas dan jamkesda (terima kasih buat pemerintah yang sudah semakin ‘care’ terhadap para pasien cuci darah) atau memang karena banyak yang belum tahu. Padahal lokasinya sangat strategis.

Setelah 3 bulan, jumat kemarin untuk pertama kalinya saya mengantarkan Keristina ke sana karena kebetulan cuti bersama. Selama ini Keristina hanya diantar oleh pak Apung, supir setia kami. Hari itu hanya Keristina yang menjalani cuci darah, padahal ada empat mesin yang tersedia. Seperti biasa, saya membawakan barang-barang keperluan keristina seperti: alat timbang badan (karena kurang yakin dengan timbangan di tempat hemodialisa), alas tidur (Keristina sangat memperhatikan kebersihan, jadi bawa alas tidur sendiri), selimut (karena selimut yang disediakan biasanya berbulu), bantal kecil untuk menaruh tangan yang akan ditusuk jarum, rantang dan termos berisi menu makan pagi dan siang, kotak berisi gelas, teh celup, sendok, garpu, gula (walau sebenarnya di tempat hemodialisa disediakan kue dan segelas teh manis), serta satu tas besar merah berisi obat-obatan, buku doa, masker, selang oksigen, dll. Jadinya tempat tidur Keristina paling ramai dengan semua barang-barang tersebut.

Mesin cuci darahnya cukup modern dan mungil. Memang teknologi semakin maju membuat mesin cuci darah versi sebelumnya memiliki volume nyaris dua kali yang sekarang. Selang-selang, baik untuk mengalirkan darah, air bersih, dan  larutan bicarbonat juga berukuran mini dan langsing. Impian kami adalah suatu saat nanti alat hemodialisa ini bisa sedemikian kecil sehingga bisa dicangkokkan ke dalam tubuh manusia. semoga!

Menunggu 5 jam tentu bukan pekerjaan mudah. Setelah 2 jam pertama membantu Keristina

menyiapkan makan siangnya, Keristina pun tertidur. Maka sayapun berkesempatan mengembara mencari sesuap nasi di sekitar lokasi baru ini.

 

Menggapai Harapan 1: Memiliki Pengharapan

March 29, 2012 by holantamba

Keristina telah dua kali menjalani transplantasi ginjal dan dua kali juga mengalami rejection. Yang pertama hanya bertahan satu minggu karena kualitas ginjal yang dicangkokkan kurang bagus. Sementara yang kedua sempat bertahan selama 4.5 tahun. Kontrol yang teratur, pola hidup dan pola diet yang baik dan bersih  saja ternyata tidak cukup untuk menghindari kegagalan ginjal hasil transplantasi. Kemajuan teknologi yang ada sekarang baru mampu menghindari rejection di tahun pertama transplantasi. Keristina mengalami perasaan mual sepanjang hari dari mulai bulan juli 2010. angka kreatinin dan ureum masih normal. dengan semakin seringnya merasa mual dan muntah serta tidak enak makan, maka pada pengecekan agustus 2010 angka kreatinin menunjukkan angka 3. langsung opname dan ditangani dokter ahli ginjal. namun tetap tidak sanggup mencegah proses kegagalan fungsi ginjal dan terbukti angka kreatinin meningkat menjadi 4 di bulan november 2010. segera kami terbang ke Guangzhou menemui dokter yang melakukan transplantasi. setelah 1 minggu di sana dan menjalani pengobatan di sana, dokterpun menyatakan ginjal sudah tidak berfungsi, angka kreatinin sudah naik menjadi 7.

Penyebabnya apa? tidak ada yang tahu, yang mereka tahu bahwa hal ini sudah menjadi hal yang lumrah dalam proses transplantasi, dimana imunitas tubuh walaupun sudah ditekan dengan obat penurun kekebalan tubuh memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian sehingga akhirnya mampu menolak benda asing di tubuh pasien. Inilah mengapa sangat dianjurkan transplantasi dari keluarga dekat sehingga proses penolakan ini akan jauh berkurang. Selain itu di negara-negara barat, saat ini telah mulai dilakukan pemeriksaan biopsi secara reguler untuk pasien transplantasi agar dapat dideteksi kerusakan ginjal sedini mungkin.

Bertahan sampai akhir tahun 2010, akhirnya Keristina menyerah untuk kembali menjalani terapi hemodialisa. Pergulatan untuk bertahan melawan kerusakan ginjal selama 6 bulan harus ditebus dengan mahal. Selama tahun 2011, Keristina harus bolak balik masuk rumah sakit untuk memperbaiki kerusakan yang timbul. dari mulai hb yang sangat rendah, kadar mineral (kalium, zat besi, natrium) yang sangat rendah, menggigil setiap kali proses hemodialisa, panas tubuh yang timbul tenggelam selama berbulan-bulan, berat badan yang sangat rendah (30 kg untuk tinggi badan 150 cm) akibat kehilangan nafsu makan selama berbulan-bulan. semuanya ini lebih disebabkan faktor psikis dari sang pasien yang memang pengalaman berat untuk orang normal.

Setelah semuanya kembali normal, Keristina tidak dapat melupakan hari-hari indahnya memelihara dan membesarkan anak dan suami selama 4.5 tahun menggunakan ginjal baru. Hari-hari yang sangat jauh berbeda dengan hari-hari sekarang yang harus dijalani dengan hemodalisa. Secara pribadi Keristina, yang sudah menjalani ketiga pilihan terapi pengganti ginjal (hemodialisa, CAPD, transplantasi), merasakan bahwa pilihan transplantasi adalah pilihan yang paling baik dalam hidupnya. Kualitas hidup yang dihasilkan sudah sangat-sangat mendekati orang normal. Kamipun, keluarga yang hidup bersama Keristina, sangat merasakan pengaruh yang baik selama Keristina hidup dengan ginjal barunya. Harapan menjalani kembali transplantasi ginjal kembali muncul.

[https://lifeisgift.wordpress.com/2012/05/14/menggapai-harapan-2-ada-pendar-cahaya-di-ujung-sana/]

Menggapai Harapan 2: Ada Pendar Cahaya di Ujung Sana

May 14, 2012 by holantamba

Dengan harapan menjalani transplantasi ginjal yang ketiga kami menemui tim dokter transplantasi ginjal ternama di RS. PGI Cikini. Ternyata kami mendapatkan penolakan karena tingkat kesulitan operasi akibat kedua tempat ginjal baru di rongga panggul sudah pernah digunakan (perlu diingat Keristina sudah menjalani 2 kali operasi). Kamipun menghubungi urolog RSCM. Sekali lagi mereka menyatakan tidak sanggup. Dari mereka juga kami mendapatkan gambaran bahwa pengalaman melakukan operasi transplantasi ginjal yang ketiga banyak dilakukan di Eropa dan AS. Usaha kami tidak berhenti sampai di sini. kamipun berkonsultasi dengan dokter di Singapura dan China walaupun tidak dianjurkan oleh urolog dari RSCM. Melalui email, kamipun meminta bantuan saudara kami di Belanda, untuk mendiskusikan kemungkinan transplantasi di sana. Salah satu rumah sakit di Roterdam menyatakan kesanggupan dan memiliki pengalaman melakukan tranplantasi ketiga.

Setelah kami dapat menemukan tempat di mana kami bisa melakukan transplantasi ketiga, maka faktor kedua adalah biaya. Sebagai keluarga yang tidak kaya, biaya untuk transplantasi di Eropa tidak masuk dalam anggaran kami. Jadi bagi kami, selama tim dokter menyatakan sanggup melakukan transplantasi ketiga, maka kami akan memilihnya. dan biaya yang bisa masuk dalam anggaran kami adalah dilakukan di Indonesia. Sekali lagi kami memohon tim urolog RSCM dan Cikini. Dan pendar cahayapun nampak setelah tim urolog Cikini akhirnya mau menerima Keristina untuk transplantasi yang ketiga. Itupun setelah mereka melihat begitu berat penderitaan Keristina yang berjuang mengembalikan kondisi tubuhnya agar siap menjalani transplantasi. Suhu tubuh meninggi yang terjadi selama berbulan-bulan, dua kali mengalami penurunan kandungan oksigen dalam darah, kejang yang kembali menyerang, adalah sebagian kecil penderitaan yang dialami.

[https://lifeisgift.wordpress.com/2012/12/27/perjalanan-panjang-dimulai/]

Perjalanan Panjang Dimulai

December 27, 2012 by holantamba

Setelah tertunda hampir2 tahun karena berbagai sebab akhirnya kami memulai kembali perjalanan panjang transplantasi ginjal yang ketiga. Kami memutuskan untuk melakukannya di RSCM. Donor kami yang begitu setia menunggu selama 2 tahun menyatakan kesediaannya untuk memulai kembali proses ini. Data pemeriksaan yang sudah berusia dua tahun nyaris sudah tidak dapat digunakan lagi kecuali HLA (biaya pemeriksaan HLA donor dan resipiens plus crossmatch 2 tahun lalu sebesar Rp. 4.500.000) dan CT Scan Iliaka Resipiens (biaya 2 tahun lalu sekitar Rp. 4000.000)

Konsultasi pertama ke Profesor Endang Susalit, Dokter meminta donor untuk melakukan:

– CT Aortic Angiography abdomen (bisa dilakukan di RS. Abdi Waluyo dengan biaya Rp. 5.456.000)

– pemeriksaan darah dan urine lengkap (biaya di Prodia sebesar Rp. 2.056.000)

– radiologi BNO-IVP dan Thorax (biaya di RS. cikini sebesar Rp. 935.000)

– cross match dengan resipiens (biaya di RS. Cikini sebesar Rp. 800.000)

Untuk resipiens yang perlu dilakukan adalah:

– pemeriksaan darah lengkap (biaya sekitar Rp. 2.000.000)

– endoskopi, echography, thorax, usg abdomen (biaya sulit dipilah karena menyatu dalam satu tagihan rawat inap)

– konsultasi spesialis jantung, spesialis paru, spesialis pencernaan, ahli gizi, dan dokter gigi (biaya sekitar Rp. 400.000 per spesialis)

Setelah dipastikan seluruhnya ok, maka kamipun tinggal menghitung hari.  Direncanakan hari H adalah tanggal 8 januari. Donor akan masuk tanggal 6 januari, sementara resipien akan masuk tanggal 4 januari. Semoga semuanya lancar.

[https://lifeisgift.wordpress.com/2013/01/02/pemeriksaan-ulang/]

Pemeriksaan Ulang

January 2, 2013 by holantamba

Karena kami berpindah rumah sakit, dan untuk memudahkan pemeriksaan ulang, maka kami sepakat untuk melakukan rawat inap dari tanggal 26 desember sampai 30 desember di paviliun kencana. Dokter Penanggung jawab tranplantasi begitu cekatan menjadwalkan semua pemeriksaan yang diperlukan.

Baru satu hari di sana, sudah dilakukan pemeriksaan paru, jantung, dan pencernaan. Keesokan harinya pemeriksaan hati dan kandungan. Hanya gastrolog yang memberikan resep obat untuk persiapan transplantasi. Semua pemeriksaan berakhir di hari sabtu. Dan hari minggu pagi kamipun pulang untuk merayakan tahun baru sebelum kembali masuk rumah sakit di tanggal 3 januari.Biaya yang kami keluarkan selama rawat inap itu sebesar sebelas juta rupiah.

Nafsu makan Keristina meningkat entah karena semangat yang kembali muncul atau karena obat yang diminum. Tapi semua makanan yang disajikan disantap habis. Masih ditambah kue dan snack. Selama 3 hari di rumah saya manjakan dengan makanan enak agar berat badan meningkat dan gizi terjamin untuk menghadapi hari H. Kebetulan Bondan, si Maknyus membuka restoran baru di daerah sentul. Jadi saya bisa membelikan makanan makanan terbaik untuk istri tercinta. Keristina juga semangat memasak di rumah. Pekerjaan yang sudah hampir sebulan ini tidak dikerjakan karena lemas. Tampaknya semua berubah ke arah yang lebih baik.

Permasalahan berikutnya adalah RSCM.  Sebagai rumah sakit pemerintah, maka untuk mengurus kerjasama asuransi haruslah melalui departemen kesehatan. Asuransi kesehatan perusahaan tempat saya bekerja sudah mengurus lebih dari satu tahun dan belum keluar ijinnya hingga saat ini. Artinya aku harus nombokin dahulu biaya transplantasi sebelum ditagihkan ke asuransi. kalau hanya 10-20 juta bukan masalah, tapi 300-400 juta rupiah? ini yang bikin kepala puyeng. orang tua dan saudara dihubungi untuk mencari pinjaman lunak. Koperasi kantorpun dihubungi untuk menyediakan pinjaman lunak. Tapi ternyata Tuhan memang baik, ketika perpanjangan kontrak asuransi perusahaan saya gagal dilakukan sehingga perlu waktu lagi diadakan pengadaan, maka perusahaan menjadi penjamin selama kekosongan waktu itu. Masalah selesai.

 

HaMinesLima

January 3, 2013 by holantamba

Ada perasaan gamang ketika bangun kamis pagi ini. Setelah semua kesulitan yang kami peroleh akhir akhir ini, seminggu ini semuanya berjalan sangat lancar bahkan boleh dikatakan sempurna. Semua yang kami khawatirkan tidak terjadi. Bahkan kami dimudahkan dalam beberapa hal.
Persiapan dari sisi finansial tanpa kami duga sangat lancar dan melebihi yang kami harapkan. Hb keristina yang biasanya di bawah 7 saat ini mencapai 9,6. Nafsu makan Keristina sangat baik. Jauh berbeda dibanding minggu lalu. Tekanan darah saat ini rata rata di bawah 140. Padahal dalam satu bulan terakhir mencapai 200. Sang donorpun dalam keadaan baik dan sehat.
Namun hari ini tetap terasa berbeda. Keristina telah mempersiapkan segala sesuatunya. Kemarin, sebagai umat katolik, keristina sudah menjalani ibadat ekaristi dan pengakuan dosa. Semenjak dua hari terakhir keristina juga sudah kembali beraktifitas memasak untuk keluarga. Pagi ini kami pun memulai dengan doa pagi bersama. Tapi hari ini memang tetap berbeda. Karena hari ini Keristina akan mulai mengawali prosesi utama transplantasi ginjal. Ya hari ini Keristina mulai menjalani rawat inap. Rawat inap yang ketika nanti kembali ke rumah Keristina diharapkan sudah dalam keadaan sehat walafiat. Sesuatu yg mungkin untuk orang kebanyakan adalah hal yang wajar. Jika seorang sakit dan dirawat di rumah sakit. Maka ketika pasien kembali ke rumah dapat dikatakan sudah kembali sehat. Bagi Keristina, kembali dari rumah sakit berarti lolos dari kondisi kritis. Kembali sehat? Tidak. Rutinitas cuci darah, tekanan darah tak terkontrol, lemas tak bertenaga, sakit perut, menahan haus pasti menyertai kembalinya Keristina ke rumah. Dan kami, tanpa bermaksud melawan kehendakNya, merasa yakin bahwa Keristina akan kembali dari rawat inap kali ini dengan sehat walafiat.
Kami tiba di RSCM pukul 12 siang. Profesor datang pukul 13. Sepanjang sore email dari anggota miling list ginjal yang memberi semangat dan doa terus mengalir. Malam hari sudah mulai diberi prograf, obat anti reject. Hari ini berakhir dengan sukacita. Thanks God Its Thursday.

 

Push To The Limit

January 7, 2013 by holantamba

Hari minggu pagi hujan rintik rintik dari malam masih terus membasahi bumi. Ingin kembali melanjutkan tidur tapi ini hari spesial. Hari untuk mengantarkan sang donor ke rscm untuk menjalani rawat inap sebagai persiapan operasi transplantasi hari selasa besok.
Semuanya berjalan lancar hingga saya menemui petugas pendaftaran. Ternyata kamar yang dipesan belum ada yang kosong. Setelah sepakat dengan dokter, maka dengan sangat terpaksa kamar yang dipesan turun ke kelas 3 sambil menunggu kelas 2 kosong. Dan masalah terbesar muncul akibat sang donor tidak mempunyai nomor rekam medis di rscm. Hal yg wajar karena selama ini pemeriksaan ke rscm selalu berdua dengan Keristina dan menggunakan nomor rekam medis keristina. Dan ini hari minggu dimana poli umum tutup. Jadi satu2nya jalan ke IGD. IGD Kencana dan IGD RSCM Pusat begitu strict dengan aturan. Hal yang bagus namun menjadi masalah besar buat kami. Hal ini mengakibatkan donor tidak dapat masuk rawat inap hari ini. Semua tempat yg mungkin dikunjungi untuk dispensasi ini saya sambangi. Dari jam 9 hingga jam 12 berputar dari satu meja ke meja lain. Telpon dokter untuk menyelesaikan masalah ini juga tidak berbuah hasil. Dan akhirnya saya menyerah. Kesepakatan saya dengan dokter, donor akan masuk rawat inap besok pagi pagi.
Setelah istirahat makan siang, saya seperti diberi kekuatan untuk sekali lagi mencoba peruntungan bernegosiasi. Akhirnya saya memperoleh nomor rekam medis donor. Selesai? Belum. Kembali ke admisi, ternyata kelas 2 ada yang akan pulang sore ini. Jadi mereka book untuk saya urus besok pagi. Saya memegang janji mereka. Semuanya itu selesai pukul 3 sore. Bayangkan untuk mengurus rawat inap saya perlu 6 jam. Dan masih memegang janji mereka, alias belum selesai. Saya sungguh seperti di dorong ke batas kekuatan saya. Setelah semua perjalanan mulus seminggu ini. Jadi, Holan, bersiaplah untuk semua kemungkinan sambil terus berdoa mohon perlindungan dan kekuatan menghadapi ini semua.

Beyond The Limit

January 8, 2013 by holantamba

H-1. Belajar dari pengalaman kemarin, saya berangkat jam 5 pagi dari Bogor. Tiba di RSCM langsung menghubungi bagian admisi. Lancar. Donor mendapatkan kamar kelas 2 sesuai harapan. Keristina mendapatkan jadwal hemodialisa pagi hari setelah EKG. Sedikit kesulitan dengan urusan administrasi donor. Tapi tidak berarti.
Kesulitan mulai muncul ketika ada beberapa dokumen yang perlu difotocopy. Dan bertepatan dengan putusnya aliran listrik di daerah sekitar RSCM sehingga tidak ada tempat fotocopy yang melayani. Wara wiri mencari tempat fotocopy, dan sedikitnya toilet di area RSCM membuat sqya harus menempuh jalan kaki bolak balik yang cukup jauh. Lain sekali memang dibanding RS swasta dimana kita tidak direpotkan dengan urusan administrasi.
Cobaan pertama muncul ketika dokter koordinator membicarakan risiko operasi. Kami sangat siap dengan konsekuensi itu. Dokter anestesi menyusul dengan kemungkinan membatalkan operasi jika pemeriksaan pembekuan darah 6 jam setelah hemodialisa tidak normal. Jadi memang operasi kali ini sungguh teramat berat sehingga banyak kemungkinan operasi gagal dilakukan.
Dan cobaan yang akhirnya nanti benar benar melampaui limit kami sebagai manusia muncul ketika kami sedang bersantai sehabis hemodialisa, dokter konsul ahli syaraf muncul. Mulanya pembicaraan berlangsung riang. Tapi sehabis bertemu kami, ternyata sang dokter yang muncul terlambat entah karena apa mensyaratkan ct scan kepala dan EEG harus dilakukan sebelum operasi. Waktu itu pukul 5 sore dan besok rencana operasi pukul 7.30. Seluruh tim dokter akhirnya sepakat melakukan ct scan sbg syarat operasi. Karena poli sudah tutup (again!!) maka dilakukan cito menunggu pukul 9 malam. Padahal masih ada beberapa obat anti reject yang harus dimasukkan. Yang akhirnya ditunda hingga ct scan kepala. Alhasil kami menunggu kepastian operasi dari hasil ct scan kepala.

Keristina yang pusing dan lemas sehabis hemodialisis, harus menjalani ct scan kepala. Jam sebelas malam baru keluar hasilnya. Baik dan layak operasi. Selesai? Belum.

Tengah malam mulai dilakukan perjuangan lain untuk memasang infus. Pembuluh darah keristina yang terkenal halus membuat perawat junglir balik lebih dari 2 jam. Gagal. Dipanggil dokter jaga anestesi. Sangat tidak berperasaan. Mengancam bahwa kalau tidak dpt diambil darah akan mengakibatkan kegagalan operasi, dan menusuk di kaki yg sakitnya bukan main. Akhirnya kami menyerah biarlah tidak operasi besok daripada keristina kesakitan dan kecapean. Jam menunjukkan pukul 2 pagi.
Kami beristirahat dengan kepasrahan total. Biarlah Tuhan yang bekerja karena semua ini sudah di luar kekuatan kami. Anti reject belum dimasukkan. Darah belum diambil..

[https://lifeisgift.wordpress.com/2013/01/09/surgical-operation-day/]

Surgical Operation Day

January 9, 2013 by holantamba

Kami bangun pukul Lima pagi. Belum ada kepastian akan operasi hari ini. Tapi semuanya sudah kami pasrahkan kepadaNya. Tidur hanya 3 jam. Saya mandi kemudian disusul Keristina. Setelah itu bergantian staf dokter bedah, staf dokter anestesi, dan dokter spesialis ginjal bergantian masuk. Dokter anestesi tetap menuntut test pembekuan darah dilakukan sebelum operasi. Dokter ginjal tetap memaksa obat anti reject dimasukkan sebelum operasi. Perawat kembali mencoba memasang infus. Ajaib. Hanya dua kali ujicoba infus terpasang. Obat anti reject segera dimasukkan. Untuk pengambilan darah Keristina menganjurkan diambil dari vena dekat simino. Dokter setuju dan dipanggillah perawat hemodialisa untuk mengambil darah. Lancar.
Dua hal yang memakan waktu 3 jam tanpa hasil dan penuh kesakitan semalam ternyata selesai dengan mudah. Tapi memang akhirnya memundurkan waktu operasi menjadi pukul 10 dari rencana pukul 7.30. Ahli bedah tetap mengingatkan bahwa setelah perut dibuka, jika pembuluh darah mengalami perlekatan maka proses tranplantasi akan dihentikan. Jadi terbalik dari kebiasaan, dimana biasanya donor dioperasi dulu baru resipien, maka sekarang resipien duluan.
Waktu berputar begitu lama. Saya ditemani oleh Leo, papa, dan mama. Jam 12 ada berita bahwa Keristina bisa menerima ginjal baru. Syukur pada Tuhan.
Dalam proses menunggu badan Leo terasa hangat dan batuk pilek menyerang. Jam 5 semuanya berakhir baik. Donor terlebih dahulu keluar disusul Keristina yang langsung masuk ICU karena risiko tinggi yang telah diceritakan sebelumnya (cangkok ketiga, riwayat kejang, sedikit bermasalah di jantung, berat badan rendah). Sempat ketemu ahli bedah. Beliau mengatakan operasi berhasil dengan baik. Sedikit perembesan, kencing sudah berhasil keluar. Tinggal bergantung pada kekuatan tubuh Keristina. Bius yang dilakukan lebih lama dari biasa karena ada pekerjaan melepaskan pembuluh darah dari pelekatan. Hari ini berakhir dengan baik. Walau Leo tidak jadi pulang ke Bogor karena suhu tubuh yang tinggi.

Semua Baik Sungguh Teramat Baik

January 10, 2013 by holantamba

Dua hari setelah operasi akhirnya semuanya berjalan baik. Kemarin sore Keristina masuk kamar perawatan yang disterilkan. Artinya hanya 24 jam saja di ICU. Kekhawatiran kerja jantung dan pengaruh anestesi sudah berhasil diatasi. Sempat berbicara dengan Keristina ketika masuk kamar perawatan. Pesannya: doakan terus ya.
Pagi hari ketemu dokter dan mengatakan semuanya berjalan baik. Sang donor juga sudah bisa ke kamar mandi sendiri. Hanya sempat Maag Keristina kambuh tapi begitu disuntik obat maag masalah selesai. Hari ini juga ada pemeriksaan tacrolimus seharga 550 ribu rupiah cash. Hari ini juga saya membayar biaya peralatan laparoskopi senilai 19.300.000 rupiah cash. Sang donor memang saat ini dioperasi menggunakan metoda laparoskopi untuk meminimalkan luka. Siang hari sempat ngobrol dengan Keristina menanyakan kabar dari balik pintu. Semua baik!
Leo dibawa opungnya ke hermina bogor, trombosit normal, diberi obat racikan. Dan sampai sore panas tubuhnya normal. Stressnya pun menghilang karena istirahat di rumah.
Saya sendiri? Pagi sarapan di hotel. Mengunjungi Keristina. Mengurus administrasi donor. Kembali ke hotel untuk tidur sejenak. Tidur tanpa beban pikiran. Siang hari kembali ke RSCM menerima kunjungan rekan kantor. Kembali ke hotel menyantap makanan dan minuman yang nikmat. Menikmati siaran HBO. Dan menulis. Sungguh teramat Baik!

Rumah sakit dengan Pelayanan Terbaik

October 14, 2014 by holantamba

Catatan Awal Tahun 2016

January 10, 2016 by holantamba

tampak di depan kami jalan berkelok menanjak. berbatu dan berdebu. seperti 5 tahun yang lalu. bedanya kini matahari bersinar lembut. pedati kami lebih kokoh. jalan tampak lebih curam dari sebelumnya. tapi kami terus memompa semangat kami.mudah mudahan seperti yang sudah sudah kami akan mampu melewatinya dengan sukacita dan syukur atas anugerah melimpah. perlu banyak persiapan untuk melewatinya. tapi kami tidak mau terlalu mempersiapkan hal hal yang tidak perlu. kepemimpinanNya yang kami harapkan. rangkulanNya yang kami butuhkan ketika kami lelah. tiada lagi tanya dan sesal. memang itulah jalan kami.

mudah mudahan kami tidak lagi hilang pengharapan. tidak lagi merasa ditinggalkan dalam kegelapan malam. tidak lagi menangis dalam sunyi kehilangan. tidak lagi menyalahkan kehidupan.

mudah mudahan kami terus berjalan dan tiba di sumber mata air kehidupan sambil terus memanjatkan puji dan syukur atas anugrahNya sepanjang hidup kami. amin.

Sweet Seventeen

April 10, 2016 by holantamba

seharusnya kami menyambut tujuh belas tahun usia pernikahan kami dengan bahagia. bagaimana tidak? kami mulai membina rumah tangga benar benar dari nol. kami mengawali kehidupan berumah tangga dengan menyewa kamar kos. belum sanggup untuk kontrak rumah sendiri. kami sewa 2 kamar. satu untuk kamar tidur, satu untuk ruang serba guna, satu saat jadi ruang makan saat lain jadi ruang baca, saat lain jadi ruang tamu. tempat kerja kami yang berlainan kota menjadikan waktu kebersamaan kami hanya di hari sabtu dan minggu. ketika Keristina mengandung Leo kami memutuskan agar Keristina berhenti bekerja dan pindah ke Jakarta. kamipun mengontrak rumah di daerah Cibubur. bukan. bukan di perumahan elite. hanya di perumahan kecil di pelosok kranggan. ini adalah salah satu episode kehidupan pernikahan kami yang paling indah. naik angkot merah ke sana sini. belanja ke makro pasar rebo, pesta rambutan rapia, ke gereja dengan nuansa betawi. periksa kandungan ke mitra keluarga bekasi lewat jalan berlubang. luar biasa. kehidupan kaum urban biasa namun sangat manis.

begitu Leo lahir kami memutuskan pindah ke Bogor karena kesulitan mendapatkan air bersih di Kranggan. dua tahun yang lebih luar biasa kami alami. saya berhasil mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. kami juga mulai bisa mencicil pembelian mobil. kami juga mulai bisa mencicil pembelian rumah. Leo tumbuh menjadi anak yang sehat dan ganteng.

Dan setelah itu tiba tiba datang badai yang di awalnya memporakporandakan kehidupan kami namun ternyata di banyak waktu kami tetap bisa mencicipi kebahagiaan sebagai sebuah keluarga. ternyata badai tidak selamanya buruk, ada keindahan keindahan yang lahir dari dalamnya dan ketika kami mengalaminya perasaan bahagia jauh di atas kebahagiaan yang kami rasakan ketika hari cerah tanpa hujan. keberhasilan operasi pencangkokan ginjal Keristina di tahun 2006 tepat  ketika usia pernikahan kami menginjak usia 7 tahun adalah salah satunya. banyak mukjizat dan keajaiban yang terjadi waktu itu. hal yang sama terjadi di tahun 2013 mengiringi keberhasilan operasi pencangkokan ginjal ketiga yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia. belum lagi prestasi Leo di bidang musik turut menambah kebahagiaan keluarga kecil kami. tak peduli seberapa besar badai yang datang.

sungguh saya bangga dengan tujuh belas tahun usia pernikahan kami. penuh warna. penuh rasa syukur. jalan pernikahan kami memang bukan jalan tol nan mulus. banyak jalan mendaki. banyak batu kerikil. namun usaha keras menjalaninya selalu diganjar dengan udara segar pegunungan yang berhembus sepoi sepoi menghapus segala keringat dan air mata yang tak berhenti keluar. rasa syukur ini tidak berkurang walau di depan kami sudah melihat jalan mendaki yang harus kembali kami tempuh. ulang tahun kali ini kami hadapi dengan penuh syukur dan dengan sedikit rasa kuatir. semoga semuanya baik baik saja seperti yang sudah sudah. Keristina, engkau selalu ada di hatiku.

Bogor 10 april 2016, malam hari.

——  ——–

Satu minggu setelah tulisa di atas, Ibu Kristine kembali kerumah Bapa di Surga.

About Yohanes Riyanto 27 Articles
Yohanes Riyanto, Msi Paroki St. Ignatius Loyola Sempak Bogor

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*