520 Views

Berita Lingkungan Gabriel: 3 Tahun Mengenang Bpk.Johanes Sumarsudi

Mengenang 3 tahun Bpk. Johanes Sumarsudi

Sabtu 4 Juni 2016, untuk ketiga kalinya di setiap sabtu secara berturut- turut Pastor RD. Ridwan Amo mengunjungi lingkungan Gabriel perumahan Yasmin sektor 5.
Sabtu kali ini di rumah Bpk/ibu Taufik W./CM. Dessy Anggraini (Bu Dessy) dalam rangka misa mengenang dan mendoakan 3 tahun kembalinya Bpk.Johanes Sumarsudi ke Rumah Bapa di surga.

Mempersembahkan Misa dengan maksud berdoa untuk kedamaikan kekal jiwa umat beriman yang telah meninggal berkaitan dengan keyakinan dan tradisi umat katholik universal akan api penyucian.    Umat Katholik mengimani bahwa seseorang yang meninggal dunia dalam iman kepada Tuhan, namun tetap menanggung dosa-dosa ringan dan luka akibat dosa, maka Tuhan dalam kasih dan kerahiman Ilahi-Nya akan terlebih dahulu memurnikan jiwa dalam api pencucian, dimana setelahnya jiwa akan mendapatkan kekudusan dan kemurnian yang diperlukan agar dapat ikut ambil bagian dalam kebahagiaan abadi di surga.

Sementara tiap-tiap individu menghadirkan diri di hadapan pengadilan Tuhan dan harus mempertanggung-jawabkan hidupnya masing-masing, persekutuan Gereja yang telah dimulai di dunia ini terus berlanjut. Konsili Vatikan II menegaskan, “Itulah iman yang layak kita hormati, pusaka para leluhur kita: iman akan persekutuan hidup dengan para saudara yang sudah mulai di sorga, atau sesudah meninggal masih mengalami pentahiran.”  Oleh sebab itu, sama seperti sekarang kita saling mendoakan satu sama lain dan saling meringankan beban satu dengan yang lainnya, umat beriman di dunia dapat mempersembahkan doa-doa dan kurban guna menolong jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal dunia yang sedang dalam pemurnian, dan tak ada doa dan kurban yang lebih baik yang dapat dipersembahkan selain daripada Kurban Misa Kudus .

Yang terpenting adalah, hendaknya kita senantiasa mengenangkan mereka yang kita kasihi yang telah meninggal dunia dalam perayaan Misa Kudus dan melalui doa-doa kita sendiri guna membantu mereka agar segera mendapatkan kedamaian kekal.  (P. William P. SaundersArlington Catholic Herald,  All rights reserved; www.catholicherald.com – http://www.indocell.net/yesaya ).

Dari banyaknya umat yang hadir pada saat misa –diperkirakan berjumlah berkisar  80 orang lebih,  berasal dari lingkungan sendiri, lingkungan tetangga ; dan teristimewa dari Bekasi dan Kelapa Gading Jakartatempat yang relatif jauh; untuk menuju Bogor yang macet, diperlukan waktu, tenaga dan kesediaan berangkat paling tidak 2 jam dari acara, tak pelak lagi menggambarkan penghormatan dan kecintaan yang hadir atas sosok Bpk.Johanes Sumarsudi tetap melekat erat walau sudah 3 tahun beliau kembali ke rumah Bapa di Surga.

Menyaksikan hal tersebut, Pastor Ridwan Amo saat memulai homilinya menyatakan, jika kita suatu waktu ingin dihadiri dan didoakan sedemikian banyak orang dan bukan dihadiri orang dengan jumlah hitungan jari tangan , maka mulai lah dengan aktif mengikuti kegiatan misa seperti ini sebelum kita di doakan juga nanti.
“Karena apa?” tanya Pastor Ridwan saat melemparkan pertanyaan mengapa di beberapa misa seperti ini, pernah terjadi, sedikit sekali orang yang hadir.

“Karena orang tersebut tidak dikenali, atau tidak diketahui, atau kalaupun orang tahu, orang tahu juga bahwa orang tersebut tidak pernah mau bergaul” tukas Pastor Ridwan.

Melanjutkan homili Injil hari ini, yang mau disampaikan disini adalah “Berhati hatilah dan mawas dirilah karena kadang-kadang diri kita ini penuh dengan kepura-puraan, seakan-akan kita ini baik, menjadi begitu sombong dengan berpura pura menjadi orang baik setelah memberikan sesuatu kepada orang lain” tukas Pastor Ridwan. Opa Damai1Karena itu Yesus memberi contoh tentang janda miskin yang tidak bilang-bilang, tidak memberitahu, tetapi dia masukkan seluruh apa yang dia miliki.  “Jangan sampai kita menampilkan diri supaya dilihat orang di luaran, tapi didalam diri kita berbeda dari apa yang kita tampakkan” lanjut Pastor Ridwan menutup Homilinya.

Inti homili Pastor Ridwan –Aktif dan tulus melayani -tidak ada kesombongan dan kepura puraan – dengan tepat menggambarkan sosok Bpk. Johanes Sumarsudi atau Opa Damai-Damai Daniswari, cucu beliau.  Sapaan akrab dari warga kompleks Sektor 5 saat menyapa Opa dan Oma.

Kami warga komplek lingkungan Yasmin sektor 5 sangat beruntung dan bersyukur memiliki banyak Opa dan Oma, karena dari beliau-beliaulah yang sarat dengan pengalaman perjalanan hidup, kami bisa belajar sari kebijakan pelajaran hidup, cara dan sikap bijak menyikapi persoalan.    Pengalaman dan jam terbang, tetaplah merupakan faktor pendukung pendewasaan rohani seseorang, semua sudah dialami oleh Opa dan Oma.  Opa dan Oma bagaikan orang tua kami sendiri. Selalu penuh kasih, selalu memberi -tak harap kembali, mengalir.

Sosok Bpk. Johanes Sumarsudi atau lebih dikenal sebagai Opa Damai sebelum di lingkungan Gabriel, sudah berkiprah melakukan  pelayanan di lingkungan Antonius 3, Paroki St. Yakobus Kelapa Gading Jakarta, tempat dimana 3 anak dari pasangan Bpk. Johanes Sumarsudi dan Ibu Maria Yosepha Sri Utari yaitu CM. Dessy Anggraini (Bu Dessy), Fx.Heru Wicaksono (Mas Heru) dan A. Satrio Wibowo (Mas Bowo)  tinggal dan dibesarkan.

Selain aktif sebagai anggota Koor Aphilia (wilayah antonius dan philipus Kelapa Gading), Opa Damai juga merupakan Katekis (guru agama) dan Prodiakon.   Semua aktivitas ini tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah memiliki kematangan psikis dan kesiapan rohani yang tinggi, sehingga tidak mengherankan bila dalam doa umat selama misa berlangsung, Mas Bowo sebagai putra bungsu yang bertugas membacakan doa umat menyebutkan sosok Bpk. Johanes Sumarsudi adalah merupakan Bapak, teman dan sahabat.   Itu karena semua pelayanan yang dilakukan oleh Opa kepada sesama sudah terlebih dahulu diterapkan di dalam keluarga dan anak-anak, sehingga anak-anak yang berkembang dalam kasih akan selalu menjadi anak baik dan berbakti, dan dari anak-anak baik dan berbakti tersebut juga akan memancarkan kasih sama seperti diperoleh dari orang tuanya.

Semua aktivitas pelayanan Opa Damai terpaksa menjadi terhenti karena keterbatasan fisik semenjak beliau sakit dan pindah ke Bogor.    Selama periode sakit tersebut Opa Damai sering mendapat kunjungan/kirim komuni dari Pakde Anton Harmanto, prodiakon  di Lingkungan Gabriel (saat itu masih lingkungan Mikael).   Opa Damai mengungkapkan merasa cocok dengan Pakde Anton dan menyebutkan Pakde Anton merupakan Prodiakon yang bagus.  Ada kesamaan karakter dari beliau-beliau tersebut, saling mengisi.

Opa Damai dikenal memiliki kepasrahan kepada Tuhan dan kesabaran yang sangat tinggi. Menyimak kisah Opa dan Oma sewaktu muda memang menggambarkan karakter Opa yang halus, sabar dan tenang-hal yang termasuk langka saat ini dimana dunia penuh dengan tuntutan dan emosional .   Satu nats dari Injil yang diyakini Opa dan Oma sebagai bentuk kepasrahan dan kesabaran adalah “Semua Indah Tepat Pada Waktunya”,  suatu teladan yang bagi kita mudah untuk di ucapkan, namun sulit dilakukan.  sabar

Selama sakit dan menjalani diet ketat, Opa Damai tidak pernah berkeluh kesah, malah selalu menghibur dan membesarkan hati angggota keluarga yang tidak sakit, dengan mengatakan “Aku ini sudah 70 tahun bebas makan enak apa saja, sekarang ya nggak pa-pa waktunya makan yang tidak enak-enak”.   Selama sakit Opa juga tidak menunjukkan sukar untuk dirawat, tidak rewel dan cenderung selalu berusaha untuk tidak merepotkan orang lain.   sikap yang sabar, bijak dan ikhlas, luar biasa.

Bpk. Johanes Sumarsudi memang sudah kembali ke rumah Bapa di Surga 3 tahun yang lalu, namun kenangan akan karya beliau akan selalu hidup di hati anak-anak, keluarga, murid, teman dan sahabat beliau.   Doa kami selalu menyertai.  (yro/Stiglosb).

 

buku kenangan

About Yohanes Riyanto 25 Articles
Yohanes Riyanto, Msi Paroki St. Ignatius Loyola Sempak Bogor

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*