2814 Views

Rekoleksi Lektris : Berkarya Demi kemuliaan Tuhan

Rekoleksi Lektris : Berkarya Demi kemuliaan Tuhan

STIGLOSB – Menjadi lektris tidak hanya bermodalkan berani tampil dihadapan banyak orang. Menjadi lektris juga tidak semata-mata untuk mendapatkan popularitas di kalangan umat gereja.

Lalu sebenarnya menjadi lektris itu untuk apa? Apa yang harus dipersiapkan untuk menjadi lektris?

iklanrUntuk itulah diadakan rekoleksi tentang lektor atau lektris pada hari Senin (12/09/2015).     Acara yang digagas oleh Koordinator Lektor Paroki STIGLOSB Ibu Susina Sukardi dan dibantu oleh Ibu Tri Yanthi ini dihadiri sebanyak 29 peserta dari anggota lektris dan calon lektris paroki St. Ignatius Loyola.   Rekoleksi yang bertempat di aula gereja St. Ignatius Loyola Semplak ini dimulai pukul 09.00 sampai 15.00. Dengan menghadirkan ibu Anna Tjoe dari paroki St. Yakobus Kelapa Gading sebagai pembicara, beliau banyak menceritakan pengalamannya sebagai lektris di paroki beliau.

Lektor berasal dari kata bahasa Latin lector yang berarti pembaca.  Istilah ini mengacu pada petugas khusus dalam liturgi yang membacakan Firman Tuhan yang tertulis dalam Buku Bacaan (Lectionarium) atau dalam Kitab Suci.

Keberadaan seorang pembaca Sabda Allah (lector, Latin) dikutip dari http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2, dalam peribadatan suci sudah ditemukan dalam tradisi agama Yahudi. Jejaknya dapat dijumpai dalam  Perjanjian Lama. Bahkan, dalam sumber Perjanjian Baru, jejak itu masih tampak saat Yesus datang ke Nazaret (Luk 4:16-30), masuk ke rumah ibadat, lalu membaca dan mengajar dari teks Yesaya 61:1-21. Dari tradisi peribadatan Yahudi di sinagoga itu, biasanya sesorang tampil dari tengah jemaat. Kepadanya diberikan kitab yang diambil dari Kitab Taurat dan Para Nabi. Dan setelah dibuka, dibacalah salah satu teks. Selesai pembacaan, kitab tersebut ditutup dan kemudian diberikan kembali kepada pejabat. Pengajaran menyusul kemudian. Meneruskan tradisi Yahudi, kebiasaan membaca Kitab Suci juga ditemukan dalam era Gereja Perdana (bdk Kis 2:41-47).     Dalam tradisi Gereja, keberadaan lektor ditemukan jejaknya dalam periode abad-abad pertama sejarah kekristenan. Homili St Yustinus martir (wafat sekitar thn 165) menyebut adanya pembaca liturgis, anaginoskon2.      
Paus Cornelius I (251-253), dalam suratnya kepada Fabius dari Antiokhia, menunjukkan bahwa Gereja Roma pada saat itu, selain mempunyai 42 akolit dan 52 eksorsis, memiliki juga sejumlah lektor3. Jejak adanya lektor juga ditemukan di Gereja Cirta, Afrika, pada abad keempat saat dilaporkan bahwa Gereja setempat memiliki 4 imam, 3 diakon, 4 subdiakon dan 7 lektor4.   Dalam abad-abad awal kekristenan, pembacaan Kitab Suci dalam liturgi, termasuk surat-surat Perjanjian Baru dan Injil, dibawakan oleh lektor. 

Sejak ada pembaharuan dalam Gereja Roma melalui Konsili Vatikan II (1962-1965) – termasuk pembaharuan dalam liturgi, membaca Injil tidak lagi melalui peran lektor.  Tugas membaca Injil hanya dipercayakan kepada diakon, atau imam konselebran jika tak ada diakon, atau imam selebran bila tidak ada diakon maupun imam konselebran (PUMR 59). Sedang pembacaan Kitab Suci kecuali Injil – berarti hanya kitab-kitab Perjanjian Lama dan surat-surat Perjanjian Baru, menjadi tugas lektor terlantik (PUMR 99). Meski demikian, bila dalam Perayaan Ekaristi tidak ada lektor terlantik, tugas pembacaan Kitab Suci – melalui Bacaan I dan II, dapat dibawakan oleh umat awam, baik pria maupun wanita6, yang memiliki kelayakan.   Namun, mereka “harus sungguh trampil dan disiapkan secara cermat untuk melaksanakan tugas ini, sehingga dengan mendengarkan bacaan-bacaan dari naskah kudus, umat beriman dapat memupuk dalam diri mereka rasa cinta yang hangat terhadap Alkitab” (PUMR 101).

Ibu Anna Tjoe
Ibu Anna Tjoe

Melayani Tuhan dengan menjadi lektor atau lektris menjadi suatu kehormatan tersendiri.  Ibu Anna Tjoe menekankan kepada para peserta pentingnya membaca kitab suci atau bacaan berkali-kali sebelum bertugas. Menurut beliau saat membaca bacaan satu kali kita pasti tidak terlalu cepat mengerti makna dari bacaan tersebut. Membaca dua atau tiga kali mungkin kita baru mengerti apa isi dari bacaan tersebut, namun itu masih belum cukup. Membaca lebih dari lima kali kita akan merasa Roh dari bacaan tersebut menaungi kita. Menjadi lektor atau lektris berarti menyampaikan firman Tuhan kepada umat, yang berarti kita membutuhkan Roh Kudus supaya umat mendapatkan bacaan tersebut dan menyimpannya dalam hati.

Dengan tiga sesi teori dan satu sesi praktek di ambo (mimbar)  gereja, peserta mendapat saran dari ibu Anna Tjoe bagaimana seharusnya lektor atau lektris bersikap dan mewartakan bacaan. Bagaimana sebaiknya kita berbicara saat menjadi komentator (pembaca saat sapaan dan berita gereja) yang baik. Ibu Anna Tjoe mempraktekkan bagaimana sebaiknya saat menjadi lektor atau lektris dan komentator, lalu beliau meminta beberapa peserta untuk mempraktekkannya.

Selain belajar bagaimana cara menjadi lektor atau lektris dan komentator yang baik, para peserta juga menyadari adanya sedikit perbedaan cara liturgis paroki St. Ignatius Loyola Semplak dan paroki St. Yakobus Kelapa Gading. Dengan adanya perbedaan tersebut menjadikan para peserta belajar memahami dan berpikir terbuka terhadap perbedaan tersebut.

Pastor Antonius Dwi Haryanto
Pastor Antonius Dwi Haryanto

Pada sesi terakhir yaitu praktek di ambo gereja, ibu Anna Tjoe meminta peserta dibagi menjadi enam kelompok dan dari kelompok tersebut ada perwakilan yang mempraktekkan saat membaca bacaan. Di saat sesi berlangsung pastor Anton hadir dan melihat peserta mempraktekkan saat membaca bacaan dan ikut memberikan saran kepada peserta. Acara rekoleksi ini ditutup dengan doa penutup dari pastor Anton dan foto bersama. (LE)

Peserta Rekoleksi Lektris
Peserta Rekoleksi Lektris
About LuciaEditha 1 Article
Lucia Editha Riyandani, Lektris Paroki St. Ignatius Loyola Semplak Bogor

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*