5774 Views

O eM Ka

Pendahuluan

Pada Natal 2015 yang lalu, Pastor Paroki St.Ignatius de Loyola, Semplak, Pastor Y.M. Ridwan Amo, Pr menyampaikan ucapan terimakasih atas peran serta OMK dalam kepanitiaan natal dengan melaksanakan kegiatan dekorasi, baik dekorasi gereja, dekorasi pohon natal, maupun pembuatan gua natal.   Beberapa hari sebelumnya, banyak umat paroki yang melihat sekelompok anak-anak usia SMP yang mondar mandir di halaman belakang gereja, sibuk memilih hiasan-hiasan natal, sibuk memotong-motong lembar-lembar styrofoam, sibuk menempel, sibuk menggelar kertas-kertas bekas bungkus semen, dan sibuk mengecat dengan kompresor, baik mengecat kertas-kertas, styrofoam,  maupun tangan serta wajah mereka sendiri.

Pada Paskah 2016, Pastor Ridwan kembali menyinggung peran serta OMK dalam kegiatan selama Pekan Suci.  Kurang lebih tiga minggu sebelumnya, beberapa umat pun sempat melihat sekelompok anak-anak tanggung yang mondar-mandir membawa kursi sambil membaca booklet.  Rupanya mereka sedang mempersiapkan diri untuk mendukung kegiatan Pekan Suci, yaitu visualisasi Kisah Sengsara Yesus pada Hari Jumat Agung.  Namun berbeda dengan pementasan yang biasa dilakukan, visualisasi kali ini tidak berupa drama teatrikal (lebih dikenal dengan nama tableau, atau dibaca tablo[1]).   Pementasan ini berupa passio[2], seperti yang dibacakan pada Hari Kamis Putih, dengan sedikit modifikasi.

Selama bulan Juni dan Juni 2016 ini, umat kembali disuguhi beberapa berita atau pengumuman di gereja tentang kegiatan OMK untuk mengumpulkan dana dalam rangka Indonesian Youth Day 2016 [3].  Setelah missa kedua, umat dapat melihat sekelompok anak-anak tanggung yang membuka lapak di depan gereja, terpisah dari tempat berjualan yang biasa.  Banyak pula umat yang mendukung kegiatan anak-anak ini dengan membeli barang-barang yang mereka tawarkan.

Siapa sih anak-anak itu?  Kok sepertinya mereka dianggap istimewa.  Dekorasi natal yang mereka hasilkan sudah dilihat (dan diapresiasi) oleh seluruh umat yang hadir pada missa Malam Natal.  Banyak yang mengapresiasi bahwa dekorasi itu hanya ala kadarnya.  Seadanya, biasa-biasa aja.  Amatiran?  Yak, betul.  Kalah indah dengan dekorasi natal di paroki-paroki lain?  Tepat sekali.  Kalaupun ada yang menganggap dekorasi itu bagus, paling-paling ya cuma beberapa orang saja, terutama para orang tua anak-anak itu.  Kemudian, bagaimana dengan pementasan passio mereka yang menggantikan Ibadat Jalan Salib terakhir pada hari Jumat Agung?  Ah, apaan tuh, gak keren blass..  Mereka cuma baca teks, tidak menampilkan drama hebat seperti di paroki-paroki lain yang menggelar tableau.  Cara membaca teksnya pun datar-datar saja, tidak ada penjiwaan karakter yang benar.  Tidak istimewa sama sekali.  Singkatnya, kegiatan mereka (OMK) gak ada manfaatnya.

Benarkah demikian?  Lantas apa yang dimaksud dengan OMK itu?

Berikut saya mencoba membahas tentang OMK berdasarkan referensi yang sudah saya baca, baik berupa buku, majalah, artikel di internet, dan lain-lain.

 

Sejarah OMK

OMK (Orang Muda Katolik) dideskripsikan sebagai orang-orang muda dalam rentang usia 13 s.d. 35 tahun yang sudah dibaptis secara Katolik dan belum menikah.[4] Dari deskripsi tersebut dapat dilihat bahwa OMK bukanlah suatu bentuk organisasi, badan, lembaga, kesatuan, atau institusi apapun, melainkan suatu komunitas orang-orang muda Katolik.  Komunitas ini berperan sebagai wadah bagi pengembangan iman dan juga kreativitas orang-orang muda Katolik dalam kehidupan menggereja, bahkan dapat pula berperan sebagai wadah untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kehidupan di “alam nyata”.  Sebelum menjadi OMK sekarang ini, kumpulan orang-orang muda ini telah mengalami metamorfosa beberapa kali.  Sebelum membaca lebih lanjut, ada baiknya kita ketahui awal mula adanya OMK ini.

Pada awalnya, orang-orang muda Katolik membentuk suatu organisasi yang dinamakan Pemuda Katolik (PK).   Organisasi ini merupakan metamorfosis dari Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI) pada 1945, Muda Katolik Indonesia (MKI) pada 1949, dan terakhir adalah PK pada 1960.[5]   Pada tahun 1960-1970, PK menjadi suatu  bentuk perlawanan oleh kaum muda katolik bersama-sama organisasi lain terhadap ideologi komunisme dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu cukup kuat dan berkeinginan menggantikan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.  Dan hingga saat ini organisasi PK ini aktif berperan dalam bidang sosial politik dan kemasyarakatan.

Dilihat dari kacamata banyak kaum muda yunior, kegiatan para mas-mas dan mbak-mbak muda mudi senior yang bergabung dengan PK terlihat membosankan.  Kalau tidak rapat, mereka sidang; kalau tidak sidang, ya rapat; lengkap dengan bahasa-bahasa yang alhamdulillah njelimetnya.  Di dunia “nyata” peran PK (yang terkesan “seram” dan sophisticated atau ribet karena asyik nyospol) mulai digantikan oleh Mudika (yang jauh lebih membumi) dan lama kelamaan PK pun ditinggalkan.  Puncaknya adalah terbitnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 (yang kemudian diubah melalui Undang Undang Nomor 17 Tahun 2013) tentang Organisasi Kemasyarakatan.   Secara tersirat, terutama jika membaca bagian Penjelasan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan pada Pasal 15, ormas harus mengikuti struktur administratif negara (kota, kecamatan, kabupaten, propinsi, dan nasional) dan tidak mengikuti struktur teritorial Gereja (paroki, keuskupan, dan seterusnya).  Dengan demikian PK sebagai ormas tidak dapat lagi berbasis di gereja.  Dan kenyataannya memang saat ini penulis belum pernah mendengar ada kegiatan pembinaan iman Katolik seperti camping rohani, retret, atau koor yang diselenggarakan oleh PK untuk pemuda pemudi Katolik yang bukan anggota PK.  Iya, gakKalo ndak percaya, silakan dilihat website Pemuda Katolik pada alamat pemudakatolik.or.id.

Bagaimana dengan orang-orang muda Katolik yang tidak ingin bergabung dengan PK namun ingin menyalurkan kreativitas kekatolikannya?  Muncullah apa yang disebut Muda Mudi Katolik (Mudika) yang berdasarkan wilayah/teritorial gereja.  Wadah baru ini terasa lebih “ringan” dibandingkan pendahulunya yang demikian sarat dengan kegiatan sosial politik.  Melalui Mudika, orang-orang muda Katolik mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mengekspresikan dirinya dalam bidang rohani Katolik.  Pengalaman penulis waktu masih bergabung dengan Mudika Paroki St.Ignatius di Cimahi pun demikian.

Nama Mudika sendiri muncul pertama kali di Keuskupan Bogor, yaitu saat peresmian berdirinya Mudika Keuskupan dalam Musyawarah Muda Mudi Katolik Keuskupan Bogor.yang diselenggarakan di Sindanglaya pada tanggal 11-13 Desember 1977.[6]  Penggagas nama ini adalah F.X. Puniman (seorang wartawan di kota Bogor) dalam suatu diskusi bersama rekan-rekannya, antara lain Aries Fonda Endy, Agustinus Sucipto, J. Gandjur, Andreas Sunarto, Thomas Sunarno, Cyrillius Adja, Rina D., T. C. Tunny, dan lain-lain.  Selanjutnya penggunaan nama Mudika ini meluas ke seluruh Indonesia.  Mudika menjadi salah satu upaya Gereja untuk merangkul dan membina kekatolikan orang-orang muda Katolik di wilayah masing-masing.  Para pembaca yang berasal dari masa sebelum the 80th generation – alias sudah cukup sepuh – dan berlangganan majalah HIDUP pasti pernah kenal tokoh bernama Boss Oki, sang ketua Mudika di paroki fiksi dengan segala keunikan (termasuk topi baret dan jenggot kambingnya) dan sepak terjangnya bersama rekan-rekannya.  Mereka berusaha merangkul sesama anak-anak muda Gereja, saling membantu memecahkan masalah-masalah khas yang dihadapi oleh umumnya anak muda, dan tentu saja, menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pembinaan rohani di paroki.

Selanjutnya pada tahun 2004, muncul nama baru, yaitu Orang Muda Katolik (OMK).  Nama OMK dicetuskan oleh Keuskupan Agung Jakarta sebagai pengganti nama Mudika.  Nama ini secara resmi digunakan dalam Pertemuan Nasional OMK yang diselenggarakan pada tanggal 12 s.d. 16 November 2005 di Cibubur.  Meskipun demikian, nama ini tidak mutlak harus digunakan.  Penggunaan nama Mudika pun sah-sah saja, tergantung situasi paroki setempat.

Munculnya nama OMK bukan tanpa sebab.  Dengan diperkenalkannya nama baru ini, maka cakupan orang-orang muda Katolik yang menjadi sasaran perhatian Gereja menjadi lebih luas lagi.  Sebelum munculnya konsep OMK, terdapat kelompok-kelompok pemuda (pemudi) Katolik yang tidak dapat dicakup oleh Mudika karena berada di luar teritori Gereja sehingga berada di luar cakupan Mudika juga.  Contoh kelompok-kelompok ini sudah dibahas pada paragraf sebelumnya, antara lain PK, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang lintas kampus, dan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) yang berada di lingkungan suatu kampus. Melalui konsep OMK ini, maka kelompok-kelompok tersebut sekarang menjadi “pekerjaan rumah” Gereja juga dalam program pembinaan kaum mudanya.

Bagaimana dengan orang-orang muda Katolik di Semplak sendiri?

Pada saat penulis datang ke Semplak akhir tahun 1995, di Wilayah St.Petrus Paroki BMV, Bogor,  sudah ada Mudika, lengkap dengan pengurusnya.  Awal tahun 1996, penulis sempat berjumpa dengan beberapa pengurus Mudika dan berdiskusi tentang kegiatan mereka.  Bahkan sempat juga membaca bulletin yang mereka terbitkan.  Namun karena kesibukan pribadi para pengurus (atau sebagian dari mereka) dan kurangnya antusiasme anggota Mudika, kegiatannya antara ada dan tiada.  Gregetnya sangat kurang dibanding Mudika Paroki St.Ignatius yang belum lama penulis tinggalkan.  Meskipun demikian, keadaan ini tidak berlangsung terlalu lama.

mudika-12-sepiaPada tahun 2004, sekelompok anak-anak tanggung berkumpul dan sepakat untuk mengaktifkan kembali Mudika di Wilayah St.Petrus.  Kesungguhan mereka untuk mengaktifkan Mudika patut diacungi jempol.  Dengan segala keterbatasan, mereka mampu mengumpulkan teman-teman sebayanya sehingga jumlah yang aktif meningkat dari enam orang menjadi sekitar 30 orang.  Pelbagai kegiatan pun dirumuskan dan dilaksanakan, antara lain tableau, terlibat dalam porseni di katedral, penggalangan dana, mendekor gereja saat natalan, dan lain-lain.  Penulis sangat kagum dengan semangat mereka, terlebih saat mengingat awal mula mereka kumpul sebagai Mudika.[7]

Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama.  Pada 2007 terjadi serangan dari negara api yang membuat mereka semangat mereka berantakan.  Dan yang sangat disesalkan adalah penyebabnya bukan dari luar, melainkan justru dari dalam Wilayah St.Petrus.  Apa pun alasannya, (yang dijadikan alasan selalu “demi kebaikan anak-anak” yang ternyata memang hanya sekedar alasan) kesalahan penanganan ini tidak dapat direcover.  Pada tahun itu juga Mudika Semplak kembali mati suri, meski pun masih sempat berusaha megap-megap mencari nafas.  Cukup lama Mudika Semplak tidak aktif.  Penulis ingat, ada dua upaya dari pengurus Wilayah untuk membangkitkan kembali semangat Mudika, tetapi gagal.  Kegagalan ini pun masih ditambah dengan gagalnya pembinaan kaum muda katolik oleh Wilayah dalam bentuk kegagalan pemberian informasi bahwa Mudika ternyata sudah berubah konsep menjadi OMK sejak 2005.  Pengurus Wilayah saat terlalu sibuk dengan dunia orang tua.

Pada Tahun 2015, beberapa saat setelah deklarasi Pemuda Basolia yang dilanjutkan Bhakti Sosial Basolia, atas permintaan penulis, beberapa anak muda Katolik yang mengikuti acara tersebut bersedia untuk mengaktifkan kembali Mudika.  Jumlah mereka yang “terpanggil” hanya tiga, itu pun salah satunya adalah warganegara Cilegon.  Dari jumlah itu, satu mengundurkan dari karena kurangnya dukungan keluarga.  Tinggal dua orang.  Namun lambat laun jumlah yang “menjawab panggilan” dan bersedia aktif berkembang.  Bahkan sudah mulai mengatur diri dalam suatu “kepengurusan OMK” untuk mendukung teman-teman mereka sesama OMK.  Sebutan Mudika sudah tidak digunakan lagi dalam percakapan meskipun secara de facto yang mereka laksanakan sebetulnya adalah kegiatan Mudika.[8]  Ya sudah, biarkan saja, wong tidak dosa juga.

Hasil kegiatan mereka seperti yang dapat dibaca pada bagian awal tulisan ini.  Jika memang banyak kekurangan, bukan berarti mereka harus disepelekan.  Apalagi jika sampai dikatakan tidak bisa apa-apa.  Penulis justru bangga dengan kesanggupan dan kesediaan mereka untuk menjadi yang pertama.  Jika boleh dianalogikan sebagai suatu operasi militer, maka pasukan yang menjadi gelombang pertama penyerbuan biasanya menderita korban paling banyak dibanding gelombang-gelombang berikutnya karena perlawanan musuh pada awal pertempuran adalah yang paling ganas.  Anak-anak muda ini mau menjadi yang pertama dan siap dengan resikonya.  Sebagian besar dari mereka masih SMP, lho.. Dari kurang lebih 15 orang yang aktif, hanya dua yang sudah SMA dan satu mahasiswa tahap akhir yang sedang berjuang dengan skripsinya.  Think about it..

Nah, sekarang mau diapakan anak-anak ini?

 

Ciri-ciri Khas OMK

Sebelum membahas lebih lanjut angan-angan penggarapan OMK ini, mari kita coba mengerti ciri-ciri khas OMK.  RD Yohanes Dwi Harsanto Pr menggambarkan tiga ciri yang umumnya ditemukan pada orang-orang muda, yaitu pencarian jati diri, adanya ketidakpastian, dan permasalahan pada hubungan/relasi.[9]

1.   Jati Diri

Pada masa-masa kritis peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa, kaum muda berusaha mencari jati dirinya.  Pada masa lampau usia 20 tahun sudah dianggap dewasa dan umumnya sudah menikah.[10]  Dari pelajaran sejarah (mudah-mudahan pembaca ndak mbolos waktu itu) kita mengetahui bahwa banyak pemuda yang sudah berkiprah secara nasional.[11]    Singkatnya, pada masa lampau status dewasa sudah dicapai saat usia fisik masih cukup muda.   Sudah bisa kerja sendiri berarti sudah dewasa, bisa dilepas dari pengasuhan (dan pengawasan) orangtua dan selanjutnya menikah.  Namun hal tersebut tidak dapat disamakan dengan kondisi pada masa sekarang.  Ada kebutuhan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan diri sebelum “berani” untuk menikah.  Dengan demikian usia untuk mencapai status dewasa menjadi mundur.  Selain itu, pada masa-masa kritis ini pula, orang-orang muda sedang berusaha mengetahui, mau jadi apa mereka nantinya.  Mereka sedang berusaha mencari figur-figur yang dapat dicontoh (idola) dalam kehidupan mereka.

2.   Ketidakpastian

Bagi kebanyakan OMK, masa depan masih belum dapat terbayang secara jelas.  Hal ini sangat dirasakan oleh OMK yang berada di lingkungan keluarga yang kurang beruntung, terutama secara finansial.  Untuk bisa duduk belajar di bangku sekolah dengan tenang tanpa harus ikut stress memikirkan biaya sekolah sudah merupakan karunia.  Keadaan dapat menjadi lebih tidak menguntungkan (unfavorable) jika mereka pun tidak memiliki keterampilan yang cukup atau tidak sesuai dengan bidang pekerjaannya (untuk OMK yang sudah bekerja).  Hampir tidak ada pilihan yang “sejuk” untuk mereka, antara menjadi pengangguran atau bekerja pada bidang yang tidak dikuasainya.  Perjuangan OMK yang kurang beruntung ini cukup berat.  Mikir entar mo jadi apa aja dah pusing, ngapain juga masih harus mikirin yang laen?  Bagi OMK yang berada di lingkungan keluarga yang beruntung, tentu mengalami hal yang berbeda.  Mereka relatif mudah mendapatkan apa yang dikehendaki.  Untuk belajar di sekolah jelas tidak pusing dengan biaya, termasuk urusan antar jemput makan dan jalan-jalan.  Kalau mau belajar tekun sesuai dengan kelebihan yang dimiliki ini (ungkapan lain dari bersyukur), mereka akan mudah memperoleh atau menciptakan lapangan pekerjaan.  Meskipun demikian banyak pula yang menganggap kelebihan ini sebagai hal yang “biasa-biasa saja”  dan cenderung diabaikan sehingga mereka tidak siap untuk menghadapi masa depan.  Jadi masih menganggap wajar untuk tetap mengandalkan atau menggantungkan diri pada orangtua.

3.   Hubungan/Relasi

Sudah dibebani dengan urusan mencari jati diri, ditambah dengan adanya ketidakpastian atas masa depan mereka, OMK masih harus menjalin dan memelihara hubungan sosial mereka dengan keluarga, saudara, teman, baik rekan sesama OMK maupun non OMK, Pak dan Bu Guru di sekolah, pastor, bruder, suster, dan lain-lain.  Hubungan atau relasi ini mungkin tidak memberikan keuntungan secara langsung bagi tiap individu OMK dan lebih bersifat mutualis.  Selain itu ada pula satu jenis hubungan atau relasi yang cukup menguasai pikiran kaum muda, dan umumnya muncul dari dalam diri tiap individu.  Hubungan ini berkaitan dengan pilihan untuk menentukan panggilan hidup.  Ada tiga pilihan: selibat demi kerajaan Allah (jadi pastor, bruder, atau suster itu keren kan?); mencari jodoh (nah, ini yang seru); dan yang terakhir adalah pilihan untuk melajang (ndak ada yang salah dengan pilihan ini, meskipun ada orang yang berpendapat hal tersebut ‘aneh’).

Untuk menjaga agar ketiga ciri orang muda yang “membingungkan” tersebut tidak berkembang ke arah yang keliru dan menimbulkan kerugian, maka kaum muda perlu diarahkan, dibimbing, atau dengan kata lain yang sedang ngetrend, didampingi.  Setiap hubungan yang terjalin dan berkembang harus memiliki arti dan tidak boleh berlangsung hanya sekedarnya.  Hubungan atau relasi yang baik akan memperkaya kehidupan kaum muda, dan mendukung mereka untuk mengatasi permasalahan dalam mencari jati diri dan menyingkirkan ketidakpastian dalam menyongsong masa depan.

 

Keunikan Lain OMK

Selain ciri khas utama seperti yang sudah diulas di atas, orang-orang muda juga memiliki ciri-ciri yang lain yang sering luput dari perhatian.  Ketua Komkep Keuskupan Agung Makassar, Rm. Yulius Malli, Pr mengungkapkan bahwa orang-orang muda harus dipandang sebagai pribadi yang sedang berkembang.  Orang-orang muda memiliki perasaan, tata nilai, pola pikir, masalah, kebutuhan, kewajiban dan hak, peran dan tanggung jawab, kualitas diri, bakat dan minat, serta pengalaman yang harus diperhatikan.[12]  Penulis mengajak pembaca untuk mencermatinya satu persatu.

1.   Perasaan

Meski masih muda, OMK itu juga manusia yang punya perasaan.  Satu hal ini masih cukup sering diabaikan oleh para orang tua[13] di mana-mana.  Karena masih muda, kita (penulis kan sudah tua juga) sering menganggap mereka hanya sebagai pelengkap penderita.  Iya, nggak?  Pelibatan orang muda dalam kegiatan-kegiatan gereja jarang seringkali hanya sebagai filler untuk ‘menambal’ kekurangan personel.  Mereka jarang dilibatkan dengan mempertimbangkan perasaan mereka sebagai manusia (yang masih muda). Gimana coba kalo bapak-bapak dan ibu-ibu cuman dianggap pas lagi diperluin aja, trus habis itu gak ditengok-tengok lagi? Sebel tak terkira kan?  Sama halnya dengan orang-orang muda kita.

2.   Tata nilai

Tata nilai yang ada pada OMK tidak jarang membingungkan orang tua.  Banyak orang tua menganggap bahwa tata nilai orang-orang muda ini tidak sebagus di masanya.  Pendapat ini tidak 100% salah, tapi juga tidak 100% benar.  Tiap masa memiliki keunikannya masing-masing.  Jika dulu, saat penulis masih anggota Mudika di Cimahi, anak-anak yang lebih muda selalu memanggil anak-anak yang lebih tua dengan sebutan mas atau mbak, maka sekarang kita sudah jarang mendengar cara memanggil seperti itu.[14]  Namun bukan berarti nilai-nilai yang sekarang lebih buruk.  Para orang tua juga pernah muda, to?  Pada jaman masih muda dulu, nilai-nilai yang diterapkan juga dipandang kurang tepat oleh generasi sebelumnya.

3.   Pola pikir

OMK, meskipun masih muda (sesuai dengan namanya), sudah memiliki pola pikir.  Mungkin pola pikirnya memang belum tertata dengan baik.  Terkadang pola pikirnya tidak sejalan dengan pola pikir orang tua.  Seringkali kita temukan mereka bekerja secara terburu-buru, mengandalkan spontanitas (tanpa perencanaan), kurang memperhatikan sekeliling (kurang koordinasi), atau seadanya saja.  Namun bukan berarti pola pikir orang muda itu selalu kurang baik.  Mereka hanya perlu dibantu dan diarahkan jika pola pikirnya ruwet.  Bukan dihujat.  Yang terpenting adalah memahami pola pikir mereka dan memberdayakannya untuk mendukung karya Gereja.

4.   Masalah

Orang muda punya masalah?  Masalah apa?  Masih muda kok sudah punya masalah.   Kira-kira demikian pandangan banyak orang tua.  Penulis pun akan sangat bersyukur jika semua OMK tidak punya masalah.  Sayangnya, dunia ini tidak seindah warna photoshop.  OMK juga diijinkan untuk punya masalah, sama seperti orang tua.  Masalah yang OMK miliki pun tidak boleh diabaikan hanya karena usia yang masih muda. Tingkat masalah mulai dari tingkat remeh temeh, seperti masalah cinta simpanse (puppy love) atau masalah gak punya HP yang keren; masalah yang lumayan serius masalah seperti pelajaran di sekolah, masalah pergaulan dengan rekan sebaya, masalah pekerjaan (untuk OMK yang sudah bekerja); hingga masalah tingkat dewa, seperti narkoba (astaga, amit-amit jabang bebek..)

5.   Kebutuhan

OMK, sebagaimana ‘jenis’ orang yang lain, memiliki kebutuhan.  Kebutuhan mereka sangat beragam, baik kebutuhan materi maupun non-materi, jasmani dan rohani.  Sebagai OMK, mereka membutuhkan perhatian, pendidikan, pendampingan, pelatihan, dan lain-lain yang relevan dengan perkembangan diri dan iman Katoliknya. Sebagian kebutuhan ini dapat dipenuhi di lingkungan keluarga, sekolah, atau tempat bekerja.  Sebagian lagi, khususnya dalam hal perkembangan rohani harus dipenuhi oleh Gereja.

6.   Kewajiban dan hak

Sama seperti ‘orang-orang’ lain, orang muda juga memiliki tanggungjawab yang harus dipikul.  Sebagai OMK, mereka bertanggungjawab atas iman Katolik mereka.  OMK wajib untuk terlibat secara aktif dalam hidup menggereja dan tentu saja dalam hidup bermasyarakat.  Sebagai konsekuensi pelaksanaan kewajiban itu, orang muda Katolik mendapatkan hak untuk menerima pelayanan dan pembinaan dalam hal iman Katolik.

7.   Peran dan tanggungjawab

OMK di Semplak saat ini belum banyak berperan dalam kegiatan-kegiatan Gereja.  Kalaupun diajak berperan, banyak yang sekedar ingin ikut hura-huranya saja, tetapi saat dituntut tanggungjawab langsung saling lempar.  Kenapa bisa begini?  Kalo miturut pengamatan penulis, ya karena kurangnya peran yang diberikan pada orang-orang muda dalam kegiatan Gereja.  Jarang atau bahkan tidak pernah (sejak Mudika 2003-2007) mereka dilibatkan sebagai satu  kesatuan yang utuh, lebih sering mereka ‘digelar’ secara terpecah-pecah pada tanpa koordinasi yang jelas.  Hanya pelaksana yang disuruh ke sana sini tanpa tahu apa peran sesungguhnya yang mereka mainkan dalam gambaran besarnya.  Hanya menjadi filler gap saja.  Sampai saat tulisan ini disusun, penulis masih mendengar permintaan-permintaan seperti,”Saya perlu OMK 10 orang untuk terlibat di kegiatan A,” atau “Saya perlu lima OMK untuk membantu di kegiatan B.”  Sangat jarang ada yang mengajukan permintaan,“Saya minta OMK Semplak menyelenggarakan kegiatan K pada tanggal T bulan B.  Rencana kegiatan dan pengajuan kebutuhan anggaran segera sampaikan ke saya.”  Jika kita yang tua berani memberikan peran itu, maka kita sudah membangkitkan rasa tanggungjawab mereka, seberapapun kecilnya.

8.   Kualitas diri

Penulis yakin, dari kalangan kaum tua (lawan kata kaum muda) banyak yang menomorduakan – atau bahkan menomorsekiankan – kualitas yang ada pada diri kaum muda.  Kualitas diri OMK dianggap belum seimbang, atau bahkan dianggap tidak ada artinya, dibanding yang dimiliki para senior.  Betul, bahwa kualitas diri para orang tua seharusnya memang lebih baik, tetapi bukan berarti kualitas orang muda selalu lebih buruk.  Sebagai contoh, keenam kurcaci yang menjadi embrio Mudika Wilayah St.Petrus di tahun 2003 pun tadinya mungkin hanya dianggap pengganggu (siapa yang tidak merasa terganggu dengan polah mereka yang main futsal di halaman gereja sesaat setelah missa?).  Tapi setelah penulis mengenal mereka lebih dalam, ternyata kemampuan mereka cukup baik.  Mereka mampu mengorganisasikan diri dalam mengikuti suatu kegiatan di tingkat keuskupan dengan baik.  Kalau pun ada kekurangan, wajar wong ndak ada yang ngajarinLha, Simbah bilang juga cuman Gusti Allah yang sempurna.  Hanya sayang, saat itu tidak ada organ pengurus yang secara struktural mendampingi atau mengarahkan mereka.  Kalau yang hanya bisa mencacat, itu mah banyak…

9.   Bakat (talenta) dan minat

Bakat atau talenta yang dimiliki oleh OMK tidak dapat dipandang enteng.  Banyak yang sebetulnya memiliki talenta istimewa, namun karena kurangnya pendampingan, talenta itu pun berkarat.  Penulis mengenal ada beberapa OMK yang dahulu cukup aktif di Mudika dan memiliki talenta sebagai pengajar/pendidik.  Satu di antaranya sampai saat ini penulis lihat masih berusaha mengajar/mendidik.  Karena kurang dikembangkan (talentanya diabaikan) maka bakat itu tidak berkembang dan malah jadi sedikit berkarat.  Penulis ingat, akibat serangan dari negara api yang cukup masif saat itu, ada di antara mereka malah hilang.

Saat ini, penulis yakin bahwa banyak OMK yang memiliki talenta-talenta indah namun masih tersembunyi.  Talenta-talenta ini dapat menjadi modal berharga bagi OMK untuk menempuh kehidupan mereka di masa depan.  Oleh karena itu perlu digali dan dikembangkan dengan semestinya.

10.   Pengalaman

Secara unik, tiap individu OMK tentu memiliki pengalaman-pengalaman berharga.  OMK datang dari bermacam kalangan, dan dari pelbagai daerah, dengan segala kekhasannya.  Pengalaman-pengalaman mereka tentunya dapat menjadi masukan bagi kegiatan-kegiatan di Gereja.  Terkadang pengalaman khas Sang Junior dapat menyelamatkan Sang Senior yang kebetulan tidak mendapatkan pengalaman tersebut.  Sebagai contoh, banyak senior menganggap bahwa anak muda terlalu banyak  ngutak atik komputer.  Mungkin memang di masa muda para senior, komputer itu benda ajaib yang asing dan tidak dapat digunakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, misalnya berbelanja atau “menampilkan” pastor di hadapan umat yang tidak kebagian duduk di dalam gereja.  Namun saat ini, secara nyata, para junior ini mampu mengutak-atik CCTV demi kelancaran perayaan Ekaristi tiap Minggu.  Ndak ada senior yang ikut-ikut manjat atau pencet tombol sana-sini, to?  Paling ya cuma komplen seperti yang sering penulis lakukan jika tampilan CCTV buram atau malah tidak ada (mati).

Keunikan-keunikan yang ada pada OMK ini membuktikan bahwa meskipun masih (sebagian dianggap) muda, mereka tidak boleh dibentuk atau diperlakukan alakadarnya sesuai selera para orang tua.  Keunikan-keunikan OMK seharusnya menjadi potensi bagi pengembangan diri mereka.  Melalui pemberian kepercayaan, tanggungjawab, dan kesempatan untuk membina diri, OMK dapat berperan secara aktif dalam keluarga dan Gereja – dan selanjutnya mengambil peran pula dalam kehidupan masyarakat di seklilingnya.  Jangan hanya karena masih berusia muda, lantas OMK tidak dianggap (dikacangin, gitu lho..) bahkan dianggap sebagai parasit (karena ‘jaga parkir’ pun sudah tidak diijinkan sejak negara api menyerang).

 

Kegiatan OMK

Kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh OMK sebagai sarana pengembangan diri masing-masing cukup beragam.  Tiap OMK dapat mengikuti kegiatan-kegiatan sesuai dengan minat, bakat, dan keinginan masing-masing.  Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi:

1.   Kegiatan dalam lingkup teritorial Gereja

OMK dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pengurus OMK di tingkat Paroki dalam rangka pembinaan iman Katolik.  Kegiatan yang dapat diselenggarakan antara lain:

a.   Perayaan Ekaristi Kaum Muda

Bentuk pembinaan iman Katolik yang paling penting bagi OMK dalam rangka meningkatkan kehidupan menggereja adalah perayaan Ekaristi. Melalui perayaan Ekaristi, OMK dapat semakin memahami misteri dan panggian Allah bagi mereka.   Perayaan Ekaristi untuk OMK ini dapat sedikit berbeda dengan perayaan Ekaristi yang biasa.  Perayaan Ekaristi ini diselenggarakan dengan mengakomodasikan kekhasan orang-orang muda agar sesuai dengan jiwa mereka sehingga dapat berdaya guna bagi hidup mereka.  Namun sudah tentu perayaan Ekaristi khas orang muda ini tidak boleh mengabaikan kaidah liturgi yang ada.

Ekaristi OMK ini sebaiknya tidak diselenggarakan setahun sekali karena jangka waktu yang terlalu lama akan melunturkan semangat OMK.  Dan sebaiknya juga tidak terlalu sering, misalnya tiap minggu, karena pastornya bisa tobat-tobat, selain itu juga malah jadi membosankan.  Ekaristi OMK dapat diselenggarakan secara periodik tiap enam bulan, empat bulan, atau tiga bulan.  Penyelenggara dan petugas-petugasnya juga dapat secara bergantian dari OMK tiap Wilayah di Paroki ini.

b.   Doa lingkungan

Pada saat penulis masih jadi Mudika, kami menyelenggarakan doa lingkungan secara teratur.  Tapi karena saat itu dipandang bahwa doa lingkungan kurang mantap, maka pelaksanaan doa dari rumah ke rumah secara bergiliran itu bukan dalam lingkup lingkungan (kring) tetapi wilayah.  Sudah layak dan sepantasnya bahwa paroki yang memiliki nama santo pelindung yang sama ini juga memiliki tradisi doa lingkungan (atau wilayah) di kalangan orang mudanya.

Melalui Doa Lingkungan, OMK dapat merasakan hidup dalam persaudaraan Gereja dan merasakan panggilan tugas yang sama dengan umat lain di Paroki.  Kegiatan ini dapat menjadi kesempatan untuk melaksanakan pertemuan antar OMK dalam satu lingkungan atau wilayah.  Kegiatan Doa Lingkungan ini juga bisa dijadikan kesempatan untuk mejeng dan ngeceng kan? Ya, itu efek samping yang sebetulnya cukup menyenangkan dan menyemangatkan (bohong lo kalo bilang enggak..)

c.   Koor

Bagi OMK yang memiliki kemampuan dan/atau keinginan untuk memuji Tuhan melalui nyanyian, maka dapat kegiatan ini merupakan wadah yang tepat.  Melalui koor OMK diajak untuk dekat dengan lagu-lagu rohani yang dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dibanding lagu-lagu pop duniawi yang (biasanya) dipandang lebih cool.

Lagu rohani dianggap tidak cool?  Siapa bilang?  Coba OMK (dan orang tua) cari lagu-lagunya Hillsong, baik di Youtube, radio, televisi, kaset, CD, atau majalah.  Ada satu lagu yang cukup populer, terlebih di antara saudara-saudara Protestan, yaitu One Way Jesus.  Pasti banyak OMK yang pernah mendengarnya juga.  Penggalan liriknya begini,“..One Way, Jesus, You’re the only one that I could live for..” sambil dance seperti di konsernya PentatonixCool sangat deh, ndak kalah dengan Boyz II Men.

Bagi OMK yang tidak memiliki kemampuan menyanyi atau bahkan membaca not (seperti penulis) maka wadah ini juga dapat digunakan sebagai ajang belajar menyanyi. Tentu hasil yang dicapai tidak akan langsung “jadi” atau “seindah warna aslinya.”  Hasil sampingan dari ikut kegiatan koor adalah OMK dapat membentuk kelompok-kelompok vocal group, paduan suara (apa bedanya tuh?), atau jadi anak band (yang berkualitas tinggi tentunya, bukan kualitas ecek-ecek sekedar jreng jreng jreng yeah…)  Siapa tahu malah jadi terkenal di dunia luar sana.

Tapi tentu saja tidak semua lagu rohani tepat untuk digunakan dalam liturgi, termasuk lagunya Hillsong itu.  Berbahagialah OMK yang memiliki kesempatan untuk berlagu dalam liturgi, karena upahmu besar di surga tanpa dipotong pajak.

d.   Retreat

Retreat[15] adalah kegiatan yang dilakukan dengan mengundurkan diri (retreat) dari kesibukan duniawi untuk mendekatkan diri pada Allah dan memperkaya kehidupan rohani.  Dalam retret, OMK diajak untuk merasakan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, mengenali diri sendiri secara lebih mendalam, dan merasakan kasih persaudaraan dengan saudara-saudara seiman.[16]  Selain itu melalui retret OMK juga diajak untuk dapat memperlihatkan panggilannya sebagai anak-anak Allah dalam kehidupan bersama masyarakat di sekitar.  Paus Fransiskus menyampaikan pada tahun 2014 bahwa,”Mereka yang menjalani retret dengan cara yang otentik mengalami penghiburan, pertobatan, kembali diperbaharui, perubahan dalam kehidupan  dan pelayanan mereka sehari-hari serta dalam hubungan mereka.”[17]

e.   Rekoleksi

Rekoleksi lebih difokuskan pada kegiatan mengingat kembali pengalaman spritualitas tiap orang dan merefleksikannya untuk menemukan kehendak Tuhan.  Pada kegiatan ini OMK diajak untuk mengumpulkan pengalaman pribadi masing-masing, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, sebagai latihan untuk mengenali dan menyadari kasih, karya, dan panggilan Tuhan.  Dengan demikian iman tiap OMK akan semakin mantap sehingga dapat menghayati tugas mereka secara penuh tanggung jawab, bersemangat, dan gembira.[18]

Susah menemukan perbedaan antara retret dengan rekoleksi?  Ya, untuk gampangnya (meski kurang tepat juga), retreat biasanya tiga hari (dua malam) namun kadangkala karena keterbatasan waktu dipersingkat menjadi dua hari, sementara rekoleksi biasanya satu hari juga klaar..

f.   Camping Rohani/Kemah Rohani

Apa pula ini? Kegiatan Kemah Rohani sebetulnya adalah acara perkemahan yang diisi dengan kegiatan-kegiatan pembinaan rohani.  OMK didekatkan dengan alam sehingga rasa tanggungjawab terhadap ciptaanNya dapat bertumbuh.  OMK diajak untuk mecintai alam semesta ini, dan dengan demikian dapat merasakan cinta kasih Tuhan melalui ciptaannya.

Kegiatan ini sebenarnya asyik juga lho, kalau betul-betul berkemah di alam terbuka.  Kemudian ditutup dengan Ekaristi Kaum Muda di lapangan.  Cakep dah..

g.   Ziarah

Ah, ini dia.. Ayo, jalan-jalan!  Weiits, ntar dulu.. Tentu saja ini bukan sembarang jalan-jalan.  Ziarah ini sebetulnya adalah kegiatan rohani dalam bentuk perjalanan ke suatu tempat untuk meneguhkan iman kembali. Jaman dahulu orang Eropa berziarah sebagai salah satu penebus dosa, dari Paris (titik pemberangkatan dari halaman depan Katedral Notre Dame) ke Yerusalem, atau dari Paris ke Santiago de Compostela.  Sekarang kita ziarah tidak perlu jauh-jauh.  Sudah sampai Sendangsono atau ganjuran saja sudah alhamdulillah, asal serius.  Kenapa serius?  Karena akhir-akhir ini ziarah banyak diboncengi NICA…maaf, diboncengi oleh acara tambahan yang justru jauh lebih menarik meski tidak ada hubungannya blas dengan kegiatan rohani, yaitu rekreasi.  Banyak kan iklan ziarek a.k.a. ziarah dan rekreasi.  Jangan sampai kegiatan tambahan berupa rekreasi ini yang menjadi menu utama sementara kegiatan utama berupa ziarah hanya sekedar pelengkap.

h.   Kepanitiaan dalam Perayaan Gereja

Melalui pelibatan OMK dalam kepanitiaan suatu perayaan Gereja (seperti perayaan Natal, Paskah, dan lain-lain) diharapkan para OMK ini dapat lebih dekat dengan Gerejanya.  OMK akan merasa bahwa dirinya adalah bagian dari Gereja, dan mereka juga akan merasa dianggap oleh Gereja.  Selain itu pemberian peran akan menumbuhkembangkan rasa tanggungjawab di kalangan OMK sendiri.

Pemberian peran ini sebaiknya berupa satu (atau lebih) kegiatan yang utuh.  Jadi bukan hanya sekedar “penambahan kekuatan” seperti sudah diulas sebelumnya, melainkan dengan memberikan tanggungjawab pada suatu bidang kegiatan. Misalnya, untuk perayaan Natal, OMK bertanggungjawab terhadap dekorasi gereja dan/atau pengaturan jalur pembagian komuni. Pelaksanaannya terserah, mau kelompok OMK mana yang bertanggung jawab bidang apa.

i.   Pelatihan-pelatihan atau workshop

Bukan tidak mungkin di masa mendatang OMK menyelenggarakan pelatihan atau workshop bagi rekan-rekan OMK separokinya.  Pelatihan yang dilaksanakan dapat berupa pelatihan kepemimpinan, pelatihan kekaryaan, pelatihan motivasi, dan lain sebagainya.  Bahkan selama ini sepertinya sudah ada pelatihan yang bersifat on the job training, bukan?  Sudah beberapa minggu ini OMK mencari dana dengan berjualan makanan.  Tentunya itu sudah bisa menjadi pelatihan dalam bidang perdagangan skala kecil.  Bahkan kalau boleh, nanti penulis akan mengadakan pelatihan tentang perkeretaapian. Boleh gak, nih?

j.   Bakti sosial

Mungkin tidak perlu seperti kegiatan baksos yang hebat-hebat, dengan pemberian bantuan materi, atau semacamnya.  Cukup dengan membantu mengatasi permasalahan-permasalahan kecil di lingkungan Gereja atau di luar Gereja, sudah dapat menunjukkan bahwa OMK pun mampu baksos.  Contohnya, membantu membersihkan saluran air di sekitar gereja, atau di suatu tempat lain yang sudah direncanakan, misalnya di suatu kampung.  Contoh lainnya, membantu membersihkan Lapangan Bondol setelah saudara-saudara muslim selesai melaksanakan Sholat Ied (penulis mencuri ide ini dari Pak Trisno, warga lingkungan St.Maria).

2.   Kegiatan Kategorial

Selain kegiatan yang terpusat di gereja, masih ada kegiatan lain yang dapat diselenggarakan.  Kegiatan-kegiatan ini lebih berorientasi pada minat dan keinginan tiap OMK dan dilaksanakan oleh komunitas-komunitas yang dibentuk sesuai kategorinya.  Contoh dari kegiatan-kegiatan kategorial antara lain komunitas lektor/lektris, perkumpulan anggota misdienaar, klub theatre atau klub drama, vocal group, Komunitas Peduli Sampah, klub olahraga (bisa berupa klub badminton, klub tenis meja, klub pingpong lapangan, klub futsal, klub terjun payung, dan lain-lain), Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK), dan masih banyak lagi.  Tentu semua  masih dalam lingkup teritorial Gereja, atau dalam hal ini Paroki.  Bayangkan seandainya di Paroki Semplak ada Komunitas Peduli Sampah St.Fransiskus dari Assisi, Klub Pecinta Buku St.Hieronimus, Theatre St.Claire dari Assisi, Tim Futsal St.Sebastian, dan lain-lain.  Tiap komunitas ini dapat dikatakan berdiri sendiri (otonomi) dalam kegiatan masing-masing namun secara keseluruhan sebaiknya dikoordinasikan oleh pengurus OMK tingkat Paroki.  Hal ini untuk memudahkan dalam kelancaran pelaksanaan mengingat Pengurus OMK tingkat Paroki bertindak selaku jembatan antara OMK dengan Dewan Pengurus Paroki.  Oleh karena itu tiap kelompok seyogyanya tidak menganggap kelompok lain sebagai saingan.  Banyaknya kelompok justru menjadi kekuatan dan kekayaan OMK.

Masih ada kegiatan lain namun sudah lintas teritorial Paroki, yaitu Keluarga Siswa/Siswi Katolik (KSK) yang mewadahi siswa-siswi sekolah negeri/non-Katolik, Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) yang ada di kampus-kampus, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang antar kampus, dan jangan sampai dilupakan, Pemuda Katolik (PK).

 

Harapan terhadap OMK

Ada banyak harapan terhadap OMK.  Beberapa harapan yang cukup penting adalah OMK dapat menjadi “100% Katolik, 100% Indonesia” seperti harapan Mgr.Albertus Soegijapranata,SJ[19]; tidak jago kandang; mampu menjadi pemimpin; sebagai harapan Gereja dan Tanah Air Indonesia; dan siap tanding.

1. 100% Katolik, 100% Indonesia

Pada Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia Kedua (KUKSI II) di Semarang pada tanggal 27 – 30 Desember 1954, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ menyampaikan dalam pidatonya demikian,”Jika kita merasa sebagai orang Kristen yang baik, kita semestinya juga menjadi seorang patriot yang baik. Karenanya, kita merasa bahwa kita 100% patriotik sebab kita juga merasa 100% Katolik. Malahan, menurut perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah, sebagaimana tertulis dalam Katekismus, kita harus mengasihi Gereja Katolik, dan dengan demikian juga mengasihi negara, dengan segenap hati.”[20]  Ormas Pemuda Katolik (PK) pun memilih motto Pro Ecclesia et Patria.  Seratus persen, segenap hati, mengasihi negara, dan sekaligus mengasihi Gereja Katolik.

Gereja berharap, atau lebih tepatnya menginginkan, OMK pun memiliki semangat “seratus persen” ini.   Oleh karena itu OMK, khususnya di Paroki St.Ignatius de Loyola ini, harus secara total, utuh, bulat, tidak setengah-setengah – apa lagi? – membangun iman Katoliknya.  OMK pun harus secara total, utuh, tidak setengah-setengah, bertanggungjawab sebagai warganegara Republik Indonesia.  Peran sebagai umat Katolik tidak boleh dipisahkan dari peran sebagai warganegara.  Tuhan Yesus juga mengajarkan kita untuk menjadi garam dunia to?  Jadi jangan sampai justru kita yang digarami.

2.   Tidak Jago Kandang

Untuk dapat berperan sebagai warga Gereja sekaligus sebagai warganegara RI yang baik, maka OMK tidak boleh hanya jadi jago kandang, yang hanya berani berkoar-koar di dalam tapi melempem di luar.  Contohnya, di depan teman-temannya di gereja Semplak berusaha agar penampilannya selalu hebat dan aksinya spektakuler, namun saat bertemu dengan OMK dari paroki lain dalam suatu event langsung sembunyi, berusaha berlindung di balik teman-temannya.  Hayoo…ada yang berani ngaku, gak?  Beranilah tampil namun siap dengan konsekuensinya.  Tunjukkan bahwa OMK tidak kalah dalam hal prestasi dengan orang-orang muda lainnya.

3.   Menjadi Pemimpin

OMK diharapkan sanggup menjadi pemimpin, bukan pemimpi.  Penulis tidak akan mengajak hal-hal klise seperti sanggup memimpin diri sendiri.  Itu sudah sering diucapkan banyak orang.  Sebagai permulaan, penulis mengajak OMK untuk menjadi pemimpin suatu kelompok kecil yang berjumlah antara 8 – 10 orang.  Setelah itu baru berkembang memimpin antara 20 – 30 orang, kemudian 40, 60, dan seterusnya.  Kemampuan kepemimpinan ini dapat dilatihkan.  Pimpin sesama OMK dalam kegiatan, mulai dari yang paling kecil, misalnya Doa Lingkungan.  Berani?  Ikut kontes Semplak Idol pake lagu Korea aja berani, mosok mimpin doa aja gak berani…

4.   Harapan Gereja dan Tanah Air

Sudah cukup sering didengungkan bahwa kaum muda Katolik adalah harapan bagi Gereja dan Indonesia.   Pada tahun 1978, Mgr.Ignatius Harsono, Pr, Uskup Bogor saat itu, menyampaikan suatu konsep bahwa Mudika adalah Spes Patriae et Ecclesiae (Harapan Gereja dan Tanah Air).[21]  Bapa Uskup menantang kaum muda Katolik saat itu untuk berperan secara aktif dan menempa diri melalui Mudika.  Pada masa sekarang, tantangan ini tetap bergaung.  Bukan lagi melalui Mudika, tetapi melalui komunitas-komunitas yang dibentuk dan dijalankan oleh OMK.

Jadi, harapan terhadap OMK ini tidak main-main karena bagaimanapun pada masa depan OMK akan melaksanakan apa yang saat ini dikerjakan oleh para senior.  Oleh karena itu OMK yang ada pada saat ini (dan juga OMK di masa mendatang) jangan sampai memberi harapan palsu.  OMK harus terus menerus menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan tersebut.

5.   Siap Tanding

The last, but not the least, OMK diharapkan siap untuk bersaing dan survive dalam hidup ini.  Kegiatan pelatihan/workshop yang diselenggarakan dan juga kegiatan lain dalam komunitas-komunitas OMK yang ada di Paroki sedapat mungkin bermanfaat dengan memberikan keterampilan pendukung dalam menyongsong kehidupan mandiri tiap individu OMK.  Dengan demikian, OMK tidak tergantung lagi pada orangtua.  OMK dapat menemukan jatidiri masing-masing, pasti dalam menetapkan arah kehidupannya, dan memiliki hubungan yang mantap dengan sesamanya – baik hidup berkeluarga, melajang, maupun hidup selibat demi kerajaan Allah.

 

Pendampingan OMK

OMK, sesuai dengan nama yang diberikan, memang masih muda.  Pada bagian awal tulisan sudah dibahas bagaimana kemudaan OMK ini berpengaruh pada outcome yang dihasilkan.  Oleh karena itu agar OMK dapat menjadi suatu sosok yang tangguh dan mampu berkiprah, baik di Gereja maupun di kehidupan bermasyarakat, diperlukan pendampingan oleh seorang – atau beberapa orang – yang memiliki kemampuan dan keterampilan sebagai pendamping.

Pendamping (namanya juga pendamping) kemudian mendampingi tiap kegiatan yang diselenggarakan oleh OMK.  Jika pelaksanaannya tidak sesuai dengan kaidah, tugas pendamping untuk mengembalikan ke jalurnya.   Pendamping hendaknya memberi kesempatan, kepercayaan, dan tanggungjawab kepada OMK untuk bertindak sebagai SUBYEK dan PELAKU UTAMA dalam proses pembinaan ini.

Kegiatan pendampingan OMK tidak boleh menggiring atau mendikte OMK sesuai selera si pendamping.  Mohon diingat, bahwa yang menerima manfaat dari kegiatan OMK adalah OMK itu sendiri, bukan untuk kepentingan sang pendamping. OMK bukanlah obyek yang dapat digerakkan semaunya.  OMK tidak boleh diperalat atau diobyekkan hanya untuk suatu kepentingan yang tidak sesuai dengan tujuan pembinaan mereka.  Pendamping sebaiknya tidak bersifat komando, memberi perintah penugasan ini itu dan lain sebagainya, karena komunitas OMK bukanlah kesatuan tempur yang siap diminta untuk gelar kekuatan.  Oleh karena itu pendamping OMK diharapkan tidak hanya sekedar menyuruh OMK ke sana ke mari untuk mengikuti suatu kegiatan.  Apalagi hanya supaya OMK terlihat “sibuk” namun sesungguhnya tidak mendapat apa-apa dari kegiatan yang diikutinya.

Agar kegiatan pendampingan terhadap OMK ini dapat berjalan secara efektif dan efisien, maka diperlukan personel yang memiliki kemampuan[22] sebagai animator (penggerak/motor), chaplain (pendamping rohani), dan leader (pemimpin).[23] Nah, berarti untuk dapat menjadi seorang pendamping tidak boleh main-main atau hanya sekedar mendampingi saat mereka sedang melakukan kegiatan.  Para pendamping OMK diharapkan dapat menggerakkan, memotivasi, mendampingi, dan memimpin OMK di Paroki St.Ignatius ini, sehingga kegiatan yang dilaksanakan atau diikuti oleh OMK dapat memperkuat iman Katolik mereka.

 

Peran Orangtua

Dalam pembinaan OMK ini, yang menjadi fokus justru bukan peran pendamping atau pembina seperti yang dijelaskan di atas.  Fokus utama adalah orangtua tiap OMK, khususnya OMK yang masih bergantung pada orangtuanya (masih bersekolah atau kuliah).

Bukankah masih banyak orangtua yang acuh tak acuh dengan perkembangan anak-anaknya?  Tidak usah jauh-jauh, kita lihat saja saat perayaan Ekaristi tiap Minggu.  Anak-anak yang masih kecil dibiarkan bermain (atau menggunakan gedung gereja sebagai arena bermain) dan berlarian sehingga mengganggu konsentrasi umat lain yang sedang beribadah.  Ke mana orangtuanya?  Apakah orangtua tersebut melepas anak-anaknya supaya bisa beribadah sendiri? Kok egois amat yak..  Di mana niat untuk menanamkan iman kekatolikan yang katanya harus dilakukan sejak dini?  Hasilnya dapat dilihat, banyak anak-anak tumbuh dengan kadar cuek yang tinggi karena dibiarkan bermain saat masih kecil.  Sebagai contoh, penulis sering mengamati latihan misdienaar yang asal-asalan, yang penting tampil.  Jika perlu, tidak ikut latihan tapi saat akan tampil langsung menggantikan yang sudah latihan sejak awal.  Cuek aja, trus knapa kalo gue gak latihan?

Sejalan dengan proritas kebijakan pastoral Keuskupan Bogor tentang pembinaan OMK, maka para orangtua dihimbau, diajak, diminta, dimohon dengan teramat sangat, untuk mendorong anak-anaknya yang berada dalam rentang usia OMK agar ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Gereja untuk mereka.[24]  Para orangtua juga dihimbau, diajak, diminta, dimohon dengan teramat sangat, untuk mendukung anak-anaknya yang sudah mau terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan OMK.  Semuanya demi perkembangan diri tiap-tiap OMK dan masa depan Gereja.  Jangan pula ada para orangtua yang meminta OMK (anaknya orang lain) untuk aktif di Gereja tetapi anak-anaknya sendiri tidak didorong (apalagi didukung) untuk terlibat dalam kegiatan OMK. Kasihan anak-anak itu, mereka bisa minder..

Para orangtua juga harus ingat dan menepati Janji Perkawinan yang pernah diucapkan dulu untuk mendidik anak-anak menurut ajaran Injil.  Ingat, bahwa dalam Kitab Suci, tepatnya Amsal 22:6, dikatakan demikian, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”  Maka, mari kita dukung anak-anak kita agar menjadi anak-anak Katolik sesuai ajaran Allah sehingga iman Katolik mereka semakin mantap dan mereka siap menjalani hidup dan berjuang sebagai orang Katolik yang baik di negara Republik Indonesia ini.  Ojo koyo wong kae

 

OMK Semplak

Jumlah OMK di Paroki St.Ignatius de Loyola, Semplak, ini cukup banyak.  Berdasarkan kategori usia, maka jumlah OMK per kategori diketahui sebagai berikut:

1.   Kategori Remaja, yaitu usia antara 13 – 15 tahun, sebanyak 98 orang;

2.   Kategori Taruna, yaitu usia antara 16 – 19 tahun, sebanyak 161 orang;

3.   Kategori Madya, yaitu usia antara 20 – 24 tahun, sebanyak 127 orang;

4.   Kategori Karya, yaitu usia antara 25 – 35 tahun, sebanyak 180 orang.

Jumlah keseluruhan adalah sebanyak 566 orang.[25]  Jika dihitung dari jumlah OMK per lingkungan, maka yang memiliki OMK terbanyak adalah Lingkungan St.Thomas, yaitu sebanyak 86 orang; sedangkan yang paling sedikit adalah Lingkungan St.Gabriel, yaitu sebanyak 18 orang.  Namun jika dilihat dari OMK yang mau secara militan berkarya baru ada kurang lebih 15 orang, atau 2,65% dari seluruh OMK di Paroki ini.

Jumlah 15 orang aktivis ini tidak termasuk yang aktif di Gereja sebagai misdienaar atau lektor.  Penulis memang tidak memasukkan misdienaar dan lektor ke dalam kegiatan OMK karena kedua kegiatan itu adalah pelayanan liturgis.  Misdienaar dan lektor adalah salah dua (kan ada dua?) instrument dalam penyelenggaraan Ekaristi, sama halnya dengan petugas pembagi komuni atau pemazmur.  Memang kadang kala misdienaar tidak ada, apalagi jika perayaan Ekaristi tidak dihadiri banyak orang dan tempat perayaan tidak cukup luas.  Tetapi lektor tetap ada kan?

Mungkin ada beberapa orang yang masih bingung dengan pengelompokan ini.  Ada yang berpendapat,”Saya anggota lektor, jadi saya bukan anggota OMK,” atau “Saya kan misdienaar, jadi saya bukan OMK.”  Ada juga yang berpendapat bahwa selain OMK, ada lagi Putera Altar, Lektor, KKMK, dan semacamnya.[26]  Keliru jika menganggap OMK adalah salah satu kelompok.  Jika menyatakan diri sebagai bukan OMK, berarti umurnya loncat dari 12 tahun langsung ke 36 tahun donk? Setelah membaca uraian di atas, seharusnya para pembaca sudah mulai dapat mengerti bahwa sebetulnya OMK bukanlah suatu kelompok pendatang baru yang harus jadi saingan. Kelompok-kelompok kategorial dalam OMK pun seharusnya bukan bersaing.  Anggota koor bisa saja membentuk atau bergabung dengan kelompok lain, misalnya Klub Matematika Rumus Kalkulus atau Padepokan Sulap Hokus Pokus.

Jadi, singkatnya, jika anggota misdienaar dan lektor ingin mengembangkan diri di luar pelayanan liturgi, mari bergabung dengan kelompok-kelompok OMK yang ada.  Tentunya setelah usianya mencapai batas yang telah ditentukan.  Anggota misdienaar ada juga yang umurnya belum 13 tahun, kan?  Moga-moga pada tahun 2017 karya kelompok-kelompok kategorial OMK di Paroki St.Ignatius de Loyola ini sudah dapat terlihat dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat.

Melalui tulisan ini, penulis mengajak seluruh OMK di Paroki St.Ignatius de Loyola, Semplak, ini untuk aktif dalam Gereja dan mulai bergabung dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan bagi orang-orang muda.  Gereja tidak peduli kamu berasal dari keluarga kaya atau miskin, wajah ganteng atau berantakan, pandai atau pas-pasan.  Tuhan Yesus datang tidak hanya untuk menyelamatkan orang-orang gedongan, tapi untuk seluruh anak-anakNya.  Jadi, bagi OMK yang berada dalam lingkungan keluarga yang kurang beruntung, tidak perlu merasa minder. Dan bagi OMK yang berada dalam keluarga yang beruntung, ungkapkan rasa syukurmu dengan merangkul mereka yang kurang beruntung.  Menganggap mereka tidak sama levelnya denganmu dan menjaga jarak terhadap mereka, tidak akan menambah dirimu lebih cool di mata Tuhan.

 

Penutup

Demikian tulisan singkat yang hanya beberapa halaman ini.  Semoga melalui tulisan ala kadarnya ini, yang disusun dengan menggabungkan pelbagai karya tulis tentang OMK di internet, para pembaca, baik para orang tua (senior), orangtua (parents), maupun OMK sendiri, dapat lebih mengenal apa itu OMK, apa yang diharapkan dari OMK, dan apa saja kegiatan yang bisa dilakukan OMK.  Dan semoga tidak terjadi lagi kekeliruan dalam penanganan OMK ini karena bagaimanapun, di tangan orang-orang muda inilah masa depan Gereja berada.  Orang-orang tua, cepat atau lambat, pasti harus menyerahkan tanggungjawab Gereja kepada mereka.

Jika para senior selalu mengatakan bahwa masa depan ada di pundak generasi muda, buktikanlah itu dengan merangkul mereka.  Maka kembali penulis mengajak, menghimbau, memaksa para orangtua untuk mendorong anak-anaknya terlibat aktif di kegiatan-kegiatan Gereja serta mendukung mereka dalam kegiatannya.  Tidak ada kata terlambat untuk melakukan hal ini.

Untuk OMK di Paroki St.Ignatius de Loyola, Semplak, selamat berkarya bagi Gereja dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Semper Fidelis![27]

***

Bogor, 17072016

MBS

 

[1] Terdapat kesalahkaprahan yang cukup mengganggu tentang arti kata tablo di kalangan umat.  Tablo diartikan sebagai Pementasan Kisah Sengsara Yesus yang ditampilkan pada Hari Jumat Agung. Padahal arti kata tablo yang sesungguhnya adalah “penggambaran suatu adegan di panggung oleh aktor tanpa melakukan gerakan” – jadi diam membeku seperti potret/gambar.  Kamus Merriam-Webster mendefinisikan tableau sebagai a depiction of a scene usually presented on a stage by silent and motionless costumed participants, dapat dilihat pada http://www.merriam-webster.com/dictionary/tableau.

Sumber lain mendeksripsikan sebagai berikut In a tableau, participants make still images with their bodies to represent a scene. A tableau can be used to quickly establish a scene that involves a large number of characters. Because there is no movement, a tableau is easier to manage than a whole-group improvisation – yet can easily lead into extended drama activities. It can be used to explore a particular moment in a story or drama, or to replicate a photograph or artwork for deeper analysis. Penjelasan tentang tableau ini dapat dilihat pada http://dramaresource.com/tableaux/

[2] Kata passio ini sepertinya bentuk singkat dari Passio Domini Nostri Jesu Christi, pembacaan Kisah Sengsara Tuhan Yesus yang dibawakan secara bernada (dinyanyikan, seperti opera) yang secara tradisi sudah dilakukan sejak Abad Pertengahan.  Bahkan Johann Sebastian Bach pun menciptakan belasan karya tentang Kisah Sengsara ini sejak 1724.  Penulis berpendapat bahwa kata passio lebih tepat untuk menyebut pementasan Kisah Sengsara Tuhan Yesus.

Untuk referensi secara sederhana monggo silaken membaca di internet pada web Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Passion_(Christianity)#Music dan https://en.wikipedia.org/wiki/Passion_Play

[3] Perjumpaan orang-orang muda Katolik dari seluruh Indonesia (perwakilannya tentu saja) yang diadakan setiap lima tahun sekali.  Informasi selengkapnya terdapat pada  http://orangmudakatolik.net/iyd-2016/ yang penulis akses pada tanggal 5 Juli 2016.

[4]Pedoman Pastoral Karya Orang Muda, Komisi Kepemudaan KWI, 2013.  Penentuan rentang umur OMK ini merujuk Keputusan Badan Koordinasi Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda Nomor  01/BK tahun 1982 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 1982 tentang Pendidikan Politik Generasi Muda.  Petunjuk Pelaksanaan ini dikeluarkan oleh Direktorat Kesejahteraan Anak dan Keluarga, Direktorat Jenderal Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial pada tahun 1983.

[5] Sampai dengan tanggal 7 Juli 2016, saat diakses oleh penulis, website resmi PK, yaitu http://pemudakatolik.or.id/tentang-kami/  tidak memberikan keterangan secara jelas tentang sejarah kelahiran PK, namun cenderung menceritakan sejarah berdirinya Partai Katolik, yang sama-sama disingkat PK juga. Bahkan sistematika penulisan sejarahnya pun tidak beraturan, yang menurut pandangan penulis kurang pantas untuk website suatu organisasi yang berskala nasional.  Penulisan sejarah berdirinya PK yang lumayan lengkap dan ditulis dengan rapi justru dapat dibaca di media sosial Facebook, yaitu pada alamat https://www.facebook.com/pemudakatolikmalangkota/posts/1622927671318963 , yang merupakan page Pemuda Katolik Cabang Kota Malang.  Halaman tersebut penulis akses pada tanggal 8 Juli 2016.

[6] Panitia 50 Tahun Keuskupan Bogor, 50 tahun Keuskupan Bogor dalam Lintasan Sejarah, Grafika Mardi Yuwana: Bogor, 1998, halaman 53.

[7] Di kalangan embrio Mudika 2004 peristiwa ini dikenal sebagai (maaf) “Insiden Bajingan” karena adanya makian tersebut kepada mereka.  Penyebabnya adalah ulah mereka bermain futsal di halaman gereja setelah missa, yang saat itu masih penuh umat.  Makian terlontar saat bola mengenai seorang ibu. Entah bagaimana justru makian itu yang mengikat mereka menjadi aktivis Mudika.  Sampai saat ini pun keenam aktivis ini masih solid meskipun sudah bekerja atau tidak berdomisili di “wilayah” Semplak.

[8] Rm.Yohanes Dwi Harsanto Pr, Apa Perbedaan OMK dan Mudika?, Maret 2012, http://www.katolisitas.org/apa-perbadaan-mudika-dan-omk/ (sic), diakses pada 4 Juli 2016.

[9] Rm.Yohanes Dwi Harsanto Pr, Bagaimana Membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal?,   Februari 2012,  http://www.katolisitas.org/bagaimana-membentuk-omk-dan-pendamping-omk-yang-ideal/  diakses pada tanggal 4 Juli 2016.

[10] Kitab Hukum Kanonik 1983 pun menyatakan bahwa agar dapat melaksanakan perkawinan secara sah menurut hukum Gereja, maka pria harus sudah genap berusia 16 tahun dan wanita genap berusia 14 tahun (Kan 1083).  Tapi sebaiknya untuk menikah kita ikuti saja peraturan dan perundang-undangan yangberlaku di Republik Indonesia.

[11] Ignatius Slamet Rijadi pada usia 21 tahun sudah memimpin satu brigade TNI (salah satu batalyonnya adalah Tentara Pelajar) mengalahkan komandan brigade Belanda, Kolonel Van Ohl, yang jauh lebih tua.

[12] Rm.Yulius Malli Pr, Pengertian Orang Muda Katolik, diunggah oleh Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Makassar pada September 2011 di  http://komkepmakassar.blogspot.co.id/2011/09/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html, diakses pada tanggal 4 Juli 2016.

[13] Saya menulis “orang tua” (senior), bukan “orangtua” (parents), meskipun dalam tulisan ini parents pun kadang bertindak seperti para senior lainnya.  Mohon parents yang bertindak demikian tidak menyangkalnya.  Dosa lho..

[14] Memang tidak ada, karena mereka sekarang menggunakan panggilan “Kak” atau “Bang” untuk menyapa yang lebih tua.  Meski dengan bahasa yang tidak sama dengan yang berlaku di masa lalu, unggah ungguh di kalangan mereka tetap sama.

[15] Kata ini seharusnya dibaca ri-ˈtrēt (ri-trit kalo lidah kita), referensi dapat dibaca pada kamus Bahasa Inggris https://www.vocabulary.com/dictionary/retreat .   Di kalangan Protestan sudah betul pengucapannya, tetapi di kalangan kita selalu dibaca retret.   Padahal yang menetapkan bentuk retreat adalah St.Ignatius de Loyola, lho.  Referensi sederhanya dapat dibaca di https://en.wikipedia.org/wiki/Retreat_(spiritual). Tapi ndak papa kokNdak dosa juga kalo sampai salah mbaca. Kita kan bukan orang bule..

[16] Drs. Karyadi FX, Katekese Remaja (Modul Kuliah Jarak Jauh), Malang:Institut Pastoral Indonesia, 2002, hlm. 66-67.

[17] Sebagaimana diberitakan oleh Union of Catholic Asian News Indonesia (UCAN Indonesia) pada halaman http://indonesia.ucanews.com/2014/03/06/paus-fransiskus-tekankan-manfaat-retret/ , diakses pada tanggal 7 Juli 2016.

[18] Drs. Karyadi FX, op. cit, halaman 68

[19] Subanar, G. Budi, Soegija, Si Anak Bethlehem van Java. Yogyakarta: Kanisius, 2003, halaman 11

[20]  Subanar, G. Budi, Menuju Gereja Mandiri: Sejarah Keuskupan Agung Semarang di Bawah Dua Uskup (1940–1981). Yogyakarta: Penerbit Sanata Dharma, 2005, halaman 134..

[21] Panitia 50 Tahun Keuskupan Bogor, 50 tahun Keuskupan Bogor dalam Lintasan Sejarah, loc. cit.

[22] Penulis sebetulnya ingin mengetikkan kata kualifikasi, bukan kemampuan/skill, tapi sepertinya belum pernah ada pelatihan, kursus, atau pendidikan kualifikasi khusus yang diselenggarakan bagi orang-orang yang diarahkan untuk menjadi Pendamping OMK.

[23] Rm.Yohanes Dwi Harsanto Pr, Bagaimana Membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal?, loc.cit.

[24] Panduan Implementasi “Road Map” Prioritas Kebijakan Pastoral Keuskupan Bogor, 2015, halaman 20.

[25] Data diperoleh dari Sekretariat Paroki St.Ignatius de Loyola, Semplak pada tanggal 26 Maret 2016.  Data tersebut mungkin kurang valid karena didapat dengan cara menghitung secara manual satu per satu dari copy Kartu Keluarga yang ada tanpa memperhitungkan keluarga-keluarga yang belum terdaftar di Paroki.  Ada kemungkinan pula data lama masih tercantum sementara keluarga tersebut sudah pindah dan lain sebagainya.

[26] Ada pendapat ekstrim bahwa jangan semua anak muda ikut OMK karena nanti tidak ada yang jadi lektor atau Pelayan Missa.  Jika dianalogikan, maka bisa juga ada himbauan supaya anggota lektor jangan banyak-banyak karena nanti akan mengurangi jumlah anggota di tiap lingkungan. Bahkan pernah ada pula pendapat yang sangat keliru bahwa setelah selesai tahap Bina Iman Anak (BIA) maka level selanjutnya adalah OMK (Lah, terus BIRnya dibuang ke mana?).  OMK bukanlah kelas pembinaan iman seperti BIA atau BIR, meskipun rohnya sama.  Meskipun ada retret, rekoleksi, camping rohani, atau semacamnya, tetapi tidak seperti BIA atau BIR, ndak ada pembinaan iman Katolik dengan kurikulum lengkap di OMK.

[27] Motto atau semboyan Pasukan Marinir Amerika Serikat (USMC) yang berarti Always Faithful, atau Tetap Setia.  Kayaknya kok keren juga yak untuk diserukan OMK.

About Martinus B.Susanto 7 Articles
Martinus B Susanto

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*