MELINTASI ZAMAN-ZAMAN

source image: https://pixabay.com/id/photos/menyeberang-tuhan-yesus-penyaliban-2909700/

Modernisme adalah babakan baru peradaban barat ketika manusia menemukan dirinya sebagai pusat pengetahuan, nilai, maupun kebudayaannya setelah melalui kosmosentrisme Yunani kuno (manusia sebagai bagian dari alam) dan teosentrisme abad pertengahan (manusia sebagai bagian dari Tuhan yang menempati hirarki tertinggi). Antroposentrisme tersebut kemudian mengejawantah dalam isme-isme seperti humanisme (martabat manusia dinilai berdasarkan kemanusiaannya, bukan ras, pangkat, dan agama), rasionalisme (percaya pada kekuatan akal budi manusia), sekularisme politik (kekuasaan didasarkan pada argumen rasional, bukan semata hak Ilahiah), sekularisme ilmu pengetahuan (pengetahuan harus diperoleh lewat jelajah akal budi dan bukan kitab suci), kapitalisme (manusia bebas berusaha dan memperoleh profit dan didikte hanya oleh mekanisme pasar, bukan kekuasaan bangsawan), protestantisme (manusia berhak menafsirkan, memahami, merenungkan sendiri makna kitab suci independen dari otoritas interpretasi elit agamawan). (“Senjakala Metafisika Barat: Dari Hume Hingga Heidegger”, Donny Gahral Adian, 2012: 101-102)

Sedang dalam buku “Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat” (1996), Ign. Bambang Sugiharto mengungkapkan:

 

Yang dimaksud dengan “Modernisme” di bidang filsafat adalah gerakan pemikiran dan gambaran dunia tertentu yang awalnya diinspirasikan oleh Descartes, dikokohkan oleh gerakan Pencerahan (Enlightenment/Aufklarung), dan mengabadikan dirinya hingga abad keduapuluh ini melalui dominasi sains dan kepitalisme.

Gambaran dunia macam ini, beserta tatanan sosial yang dihasilkannya, ternyata telah melahirkan berbagai konsekuensi buruk bagi kehidupan manusia dan alam pada umumnya……(h. 29)

 

Modernisme itu sendiri pada akhirnya memang mengalami krisis mendalam dan memicu munculnya berbagai situasi problematis yang pada gilirannya memancing tumbuhnya berbagai gerakan perlawanan yang dikaitkan dengan “postmodernisme” untuk menumbangkan gagasan modernisme. Menjelang datangnya abad ke-duapuluh-satu sejumlah pemikir kemudian mengumumkan lahirnya sebuah zaman baru: Zaman Postmodern. Tidak selalu jelas, memang, apa persisnya yang sedang ditunjuk manakala seseorang menyebut istilah yang “ambigu” itu. Tetapi, yang pasti, hingga hari-hari ini, kita semua masih dan tengah menghirup nafas serta suasana zaman –yang penuh gejolak, harapan sekaligus jebakan— yang disebut terakhir itu. (*/dack)

 

1,192 total views, 30 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 21 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022