Show Room atau Bengkel

(AP Photo / The British Library)

Show Room atau Bengkel

Betapa jauh, kadang, antara cita dan kenyataan dalam hidup yang kita jalani sehari-hari. Juga bila kita bicara tentang watak dan wajah “Gereja” kita. Bukankah begitu sering kita jatuh pada pilihan untuk hadir lebih sebagai sekedar “show room” dan begitu enggan berupaya keras untuk menjadi seperti sebuah “bengkel”?

Show room” adalah tempat dimana segala yang memikat dan menyenangkan dipertontonkan: produk-produk terbaru dengan muatan teknologi paling canggih dan tampilan fisik yang menggiurkan. Secara formal, “show room” memang membuka peluang bagi semua orang untuk mencicipi kehadirannya. Tetapi, pada akhirnya, yang dipilih untuk diundang masuk ke dalam untuk dilayaninya menikmati produk-produk yang dia sediakan adalah mereka yang berpunya, mereka yang memiliki kelimpahan uang atau harta. Tidak ada tempat bagi yang miskin-papa tak punya apa-apa.

Sedangkan yang khas dari sebuah “bengkel” adalah karakternya untuk memperbaiki. Sebuah “bengkel” adalah sebuah tempat dimana kendaraan yang rusak (“body”nya hancur atau penyok karena tabrakan/kecelakaan, atau mungkin mesinnya mogok karena memang sudah tua atau karena sebab tertentu yang diakibatkan oleh kelalaian pemiliknya dalam memelihara atau merawatnya) berada atau dibawa.

This photo, released by The British Library Tuesday April 17 2012, , shows the St. Cuthbert Gospel, a remarkably preserved palm-sized book which is a manuscript copy of the Gospel of John in Latin which was bought from the British branch of the Society of Jesus (the Jesuits), the library said Tuesday April 17, 2012. The small book – 96 mm (3.8 inches) by 136 mm (5.4 inches) – has an elaborately tooled red leather cover. It comes from the time of St. Cuthbert, who died in 687, and it was discovered inside his coffin at Durham Cathedral when it was reopened in 1104. (AP Photo / The British Library)

“Show room” menyukai suasana yang ceria, tanpa konflik dan ditandai oleh kelimpahan (uang/harta). Ia selalu memilih untuk dekat dengan dan mengabdi hanya kepada mereka yang bisa meng”untung”kannya. “Bengkel” senantiasa bersedia mengolah “krisis” (kerusakan kendaraan dan kesedihan pemiliknya). Ia akrab dengan keharusan “memikul beban”.

Dengan begitu, dari satu titik, kita tampaknya bisa mengatakan: dengan memilih menjadi sekedar “show room”, kita sebagai Gereja telah memilih berjarak dari hakikat dan cita-cita yang sebenarnya menjadi milik identitas kita; sedangkan jika kita memilih untuk menjadi seperti “bengkel”, kita mendekat pada hakikat dan cita-cita yang sebenarnya dari diri kita. Memilih “show room” berarti memilih “dunia”. Memilih “bengkel” berarti memilih “keilahian”.

Dalam Matius 11:28 Yesus bersabda: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Kalau dengan memilih “dunia” kita cenderung hanya mau “bermain aman”, “menghindari konflik” dan melulu “memburu keselamatan semu”, dengan memilih “keilahian” kita dipanggil untuk berani dan bersedia menatap, menanggapi, dan melayani mereka-mereka yang tengah dirundung masalah, dilanda krisis mendalam atau tengah terancam kehancuran. Atau dalam terang rohani bahasa Kristus, mereka yang “letih lesu dan berbeban berat”: orang-orang yang sedang dicekam bahaya perceraian, sedang sumpek menghadapi belitan masalah kejiwaan yang berat –karena tikaman problematika personal, keluarga atau sosial yang sangat membebani, tengah terjebak kebiasaan mabuk atau judi atau “main perempuan”, orang-orang yang sedang dililit masalah hutang menumpuk, atau tengah kehilangan keberanian, sukacita dan harapan dalam hidup karena sebab-sebab tertentu, dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya. Pendeknya, mereka yang tengah dicengkeram oleh “kuasa kegelapan”.

Dengan memilih hadir sebagai “bengkel”, kita diajak untuk menjadi “sahabat” dan “montir” bagi setiap orang yang membutuhkan: menemani, merawat, mengobati, memperbaiki luka batin dan/atau luka sosial mereka yang tengah menderita. Memberi “kelegaan”. Di sana, dari kita diharapkan tumbuh belas kasih, empati, solidaritas dan bela rasa kepada mereka yang “kecil”, “hina”, “miskin-papa”, “teraniaya” dan/atau “terlantar”. Sebuah tugas perutusan yang berat. Tapi persis di titik itulah kadar dan kualitas kristianitas kita diuji.

Menemani dan mendampingi mereka yang menyenangkan atau menguntungkan kita itu gampang. Tetapi, bukankah di tempat lain, dalam Injil Suci kita, kita melihat betapa Yesus sendiri amat tegas mengenai satu soal, yakni: kalau kita hanya berbuat baik kepada mereka yang juga baik kepada kita, lantas apa bedanya kita dengan mereka yang tidak mengenal Allah? (*/ Michael Dhadack Pambrashto).

1,983 total views, 3 views today

About Admin 75 Articles
Admin Web Paroki Stiglo Semplak Bogor