SENI: Saat Roh Bicara*

Source image : ghirlandaio_domenico_-_calling_of_the_apostles

Dunia kita, dunia urban kini, memang keras, menantang, dan serba tergesa. Namun citra keras ini memang tak segera terasa oleh sebab ditutupi oleh layar-layar film dan televisi yang memukau dan memabukkan, oleh hingar-bingar musik dan billboard iklan raksasa yang meriah, oleh kelimpahan barang-barang mempesona di mall dan plaza yang serba mewah. Dalam masyarakat urban hidup selalu tampak bagai komedi yang ceria gembira. Namun itu semua harus dibayar mahal juga: Oleh berbagai pola rekreasi yang menggenjot dan mendebarkan (disko, ecstasy, berbagai mainan simulasi, bungee-jump, jet-coaster, dsb.) ternyata sensibilitas kita dibius; oleh berbagai pola birokrasi yang rumit dan menakutkan ternyata nurani kita dimandulkan dan dibaalkan, sedang oleh sensasi dan selera massal yang sekedar memburu hiburan ternyata selera kultural kita diperdangkal.

Pembiusan sensibilitas, pembaalan dan pemandulan hati nurani, serta pendangkalan selera kultural pada gilirannya membuat seluruh kehidupan berputar sekitar prinsip “manfaat praktis” dan “effisiensi” belaka. Kedua prinsip tersebut menjadi nilai tertinggi dalam hidup. Dan karena kedua prinsip ini bertumpu pada rasional;itas, maka akal memang lantas dianggap sebagai satu-satunya juru selamat, itupun seringkali hanya “akal” dalam arti “ketrampilan untuk mengakali” atau “siasat untuk akal-akalan” saja. Dalam kehidupan macam ini Roh sulit mendapatkan tempat yang semestinya. Padahal rasanya roh adalah inti kehidupan yang sesungguhnya. Sekurang-kurangnya demikianlah keyakinan seseorang bila ia memang religius.

Konon roh memang berbeda dari akal. Akal selalu hendak mencapai sesuatu yang lain, meraih sesuatu. Ia butuh tangga untuk itu. Roh cenderung menghayati dan menikmati kerumitan, maka ia lebih suka labirin, bukan tangga. Akal tumbuh dan berkembang dipupuk oleh pengertian-pengertian yang jelas dan pasti serta oleh berbagai keberhasilan. Roh dipupuk dan dimatangkan oleh keraguan, ambiguitas, ketidakpastian, paradoks, misteri, serta oleh kesalahan dan kegagalan. Akal suka mempertajam perbedaan, Roh cenderung menyatukan berbagai perbedaan. Akal bekerja dengan cara berbicara. Roh berdenyut dan hidup dengan cara sabar “mendengarkan”, mendengar yang tak terkatakan, mendengar sesuatu yang tersembunyi di balik hiruk-pikuk bentuk dan kegaduhan. Akal menyukai sikap analitis berjarak. Roh sepertinya mencintai keterlibatan intim dan dihidupi oleh intimitas itu.

Ketika kehidupan hari-hari ini dirembesi dan dikendalikan oleh dominasi kegiatan akali, ketika nilai-nilai dijajah oleh logika penguasaan dan pemanfaatan, maka dimanakah roh mendapatkan udara untuk bernafas, mendapatkan gizi yang cukup bagi pertumbuhannya?

Boleh jadi salah satu jawabannya adalah: dalam medan kesenian. Karya seni yang bermutu senantiasa mengembalikan kita pada berbagai ambiguitas, paradoks dan misteri kehidupan, menghasut kita untuk sejenak berkontemplasi, berhenti bicara untuk sejenak “mendengarkan”, mendengar –yang sekaligus melihat dan merasakan- realitas yang tak terdengar dan tak nampak namun sesungguhnya hadir secara demikian bermakna. Karya seni yang bermutu adalah tempat dan saat Roh berbicara, adalah Roh yang merumuskan konflik-konflik tersembunyinya, adalah Roh yang mengungkapkan impian-impian terdalamnya. (*/Ignatius Bambang Sugiharto)

 

 

*Tulisan ini dipetik dari majalah refleksi iman “Sinyal Transendensi” No. 5 September 1996, Ordo Salib Suci Propinsi Sang Kristus.

**Ignatius Bambang Sugiharto adalah dosen dan guru besar filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung

 

780 total views, 3 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 37 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022