Pernahkah Anda Bermeditasi?

source image: transfiguration-fresco-visoki-decani-monastery-serbia

 

Suatu ketika mungkin saja anda akan dihadapkan pada pertanyaan seperti yang terungkap dalam judul di atas. Tapi, lalu anda –bisa jadi— balik bertanya: memangnya, apa guna meditasi? Mengenai soal ini paparan Avadhutika Anandamitra Acarya dalam bagian “Pendahuluan” dari buku “Meditasi: Melampaui Batas Kesadaran Supra” menarik untuk disimak:

“Diakui kenyataan bahwa pada umumnya kita telah memanfaatkan hanya sedikit saja daripada potensi mental yang dimiliki. Seorang ilmuwan menyatakan, “Kemungkinannya, 99 % dari kemampuan manusia telah disia-siakan. Sekarangpun juga, walau banyak dari antara kita memandang diri berkebudayaan dan berpendidikan, namun sebagian terbesar waktu yang dimiliki hanya dipergunakan untuk berbagai kegiatan seperti mesin-mesin otomatis yang bekerja rutin, dan hanya sekilas saja sempat memandang kepada sumber luar biasa daripada pikiran manusia, dan pandangan sekilas itupun hanya dilakukan sekali dua kali sepanjang kehidupan”.

Sepuluh juta tahun lamanya proses evolusi diperlukan untuk melengkapi manusia dengan otak yang nampaknya mempunyai kemampuan tidak terbatas, tetapi kita cukup puas dengan hanya mempergunakannya sebagian kecil saja dari kemampuan yang hebat itu. Kita ini bagaikan pemondok kecil, yang walaupun sudah berhasil menduduki sebuah istana luas, akan tetapi lebih suka tinggal menetap di salah satu pojok di ruang paling bawah.

Peradaban Barat menitik beratkan perhatiannya kepada dunia luar, melakukan kegiatan untuk mendominasi dan menaklukkan alam, maka dengan perbuatannya itu, dihasilkanlah prestasi teknologi yang gemilang, tetapi untuk itu mereka juga harus membayar mahal. Di dalam peradaban sedemikian itu, maka pengalaman jiwa yang bermukim di dalam diri sendiri hampir seluruhnya diabaikan. Dan pada saat sekarang ini ‘psyche mengkerut’ dari umat manusia sedang menjerit menuntut perluasan diri, maka terlihat dimana-mana perhatian orang terhadap ilmu-ilmu spiritual dan daya-daya psychis, demikianpun pemakaian obat-obat perangsang untuk memperluas pengalaman psychis, mistikisme, hypnotism, meditasi, takbir mimpi dan sikap mental kreatif. Umat manusia dewasa ini nampaknya semakin haus terhadap pengalaman bathin dan semakin banyak saja orang mulai menempuh jalan berliku-liku yang ada di dalam untuk menyadari potensi maksimal yang dimiliki, dan bertekad untuk menumbuhkan kekuatan hebat yang bersembunyi di dalam dirinya itu. Akan tetapi benar juga apa yang dikatakan oleh seorang ahli biologi modern, “Kita harus tahu kemana tujuan kita, dan bagaimana caranya mencapai tujuan tersebut”.

Apabila ingin melakukan penjelajahan ke ‘ruang angkasa yang ada di dalam’, kitapun memerlukan suatu peta petunjuk untuk mengetahui alam yang dijelajahi tersebut.Kita harus mendalami, bagaimana caranya menempuh perjalanan itu.”

Dalam buku “Meditasi: Melampaui Batas Kesadaran Supra”, Acarya memaparkan peta petunjuk tentang alam yang akan dijelajahi oleh orang yang melakukan laku meditasi dan juga memberikan pengetahuan tentang cara menempuh perjalanan meditasi itu.

Selain buku tersebut, ada sejumlah besar buku lain yang mengulas hal yang senada. Beberapa yang bisa segera disebut yang sedikit banyak menguraikan juga perihal laku “meditasi” itu, adalah: “Hidup di Hadirat Allah” (Anthony de Mello, SJ), “Meditasi sebagai Pembebasan Diri” (J. Sudrijanta, SJ), “Titik Hening: Meditasi Tanpa Objek” (J. Sudrijanta, SJ), “Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial” (J. Sudrijanta, SJ), “Meditasi: Jalan Menuju Kebebasan” (Ven. Ajahn Chah), dan “Tantra: Ilmu Kuno Nusantara” (I Ketut Sandika).

Tertarik untuk meminjam dan membaca buku-buku tersebut? Bagaimana cara mendapatkan buku-buku tersebut?

Silakan menghubungi redaksi “Acheropita”…… (*/dack)

 

 

820 total views, 3 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 31 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022