SALIB: Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan*

source image :https://www.indiana.edu/~canterby/img/windows/crucifixion

Salib adalah fakta yang diangkat menjadi makna, kenyataan yang lantas diangkat menjadi simbol. Kehidupan manusia memang senantiasa dipicu dan dipacu oleh simbol. Tidaklah mengherankan bila bendera Merah-Putih yang dibakar akan segera memicu gerakan massa menjadi liar. Sebuah hosti yang diremas dapat menyulut massa menjadi beringas. Itu sebabnya para demang suka sekali menggunakan simbol untuk memperdaya dan memacu massa. Dan, simbol itu bisa dalam rupa gambar, kata atau bahkan sekedar warna.

Kekuatan simbol adalah bahwa ia mengungkapkan sesuatu yang amat dasar dan vital, sesuatu yang teramat intim bagi manusia, namun tak terumuskan oleh logika dan kata-kata biasa. Kekuatan simbol macam ini terutama tampak dalam simbol-simbol religius. Simbol-simbol religius menyinari secara aneh rahasia-rahasia kehidupan yang paling tersembunyi. “It brings to light the hidden modalities of being”, kata Mircea Eliade. Ia mengungkapkan rahasia terdalam tentang apa sesungguhnya kehidupan. Simbol mampu mengungkapkan “the secret soul of things”, kata pelukis Wassily Kandisky.

Salib adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Ada banyak simbol religius di dunia ini. Salah satu yang paling menarik adalah bunga teratai dalam Budhisme. Teratai itu cantik sebab ia memang bunga. Dia anggun dan tenang dalam kontemplasinya yang sunyi di atas air. Ia juga lembut dan luwes, ikut bergoyang bersama gelombang dan ikut menari bersama tiupan angin. Kehadirannya selalu selaras dengan semesta sekelilingnya.

Salib memang bukan bunga teratai. Ia bukan ungkapan keindahan melainkan isyarat kebrutalan. Ia tidak menyenangkan untuk dipandang melainkan menyedihkan dan menekan. Ia tidak lembut dan luwes, melainkan keras dan kaku. Ia tidak selaras dengan alam, melainkan justru terkesan menantang. Secara grafis pun menggambar salib nyaris identik dengan menyayat dan membedah. Demikian, ketimbang ungkapan ketenangan kontemplatif, salib adalah simbol sebuah teror.

Salib adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Simbol paling purba dan paling universal sebetulnya adalah lingkaran, Mandala. Lingkaran selalu merupakan bagian dasar kota kuno atau pun tempat-tempat peribadatan kuno. Lingkaran adalah ungkapan kebutuhan bawah sadar kolektif manusia akan keutuhan dan tatanan. Ketika sebuah kota diciptakan, maka dikehendaki agar manusia di dalamnya merasa berada dalam suatu tatanan kosmik yang aman. Lingkaran adalah upaya simbolik manusia untuk mentransformasi khaos menjadi kosmos.

Salib Yunani yang ekuilateral, keempat garis sama panjang dengan pusat di tengahnya (seperti salib Palang Merah), adalah varian dari simbol lingkaran itu. Bila diletakkan dalam lingkaran, maka ia akan membentuk pusat dan jari-jari lingkaran tersebut. Salib Yunani dapat menyatu dengan lingkaran dalam harmoni. Transendensi dan imanensi saling mengisi. Dan, itulah memang situasi Gereja perdana.

Namun, kemudian salib Yunani digeser oleh salib Latin. Pada salib Latin, ruas bagian bawah vertikal lebih panjang ketimbang bagian atasnya: pusat persilangan digeser dari tengah ke atas. Ini ungkapan spiritualitas umum abad pertengahan yang menekankan transendensi, bersandar pada sabda “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini”. Pusat kosmos bukan lagi bumi ini. Kehidupan duniawi adalah kekuatan-kekuatan yang harus diatasi. Demikian, salib cenderung tak lagi harmonis dengan lingkaran, lingkaran tatanan bumi. Secara grafis tekanan diberikan pada dimensi ketinggian. Maka, gereja-gereja pun merayap meninggi. Menara-menara katedral Gotik menggapai langit dan menantang hukum gravitasi. Dan, ini berlangsung hingga abad XIV.

Pada abad XV, sejak renesansi dan selanjutnya, itu berubah lagi. Keindahan alam, tubuh, dan dunia ditemukan kembali. Kekuatan intuisi dan akal budi dikagumi dan digandrungi. Karya seni tak lagi memancing kesunyian kontemplasi, melainkan merangsang kenikmatan inderawi. Selanjutnya gereja-gereja modern pun turun dari langit dan mendarat di atas lingkaran bumi. Lalu, pola-pola bulatan banyak dieksplorasi. Manusia modern menemukan pusat kosmos dalam bumi dan dirinya sendiri. Sejak itulah salib dan lingkaran, transendensi dan imanensi, yang sakral dan yang sekular profan, merupakan sebuah persoalan, sebab keduanya cenderung saling menaifkan. Sejak itulah bagi medan lingkaran, salib adalah simbol asing dan ganjil, bahkan ancaman yang bisa meretakkan. Artinya, dalam modernitas, sakralitas menjadi sosok yang asing. Religiusitas bahkan dianggap suatu penyimpangan, dan Tuhan kadang dianggap hambatan bagi emansipasi kemanusiaan. “Tuhan harus mati”, kata Nietzsche. Maka, selanjutnya salib pun dipatah-patahkan menjadi swastika Nazi, sebuah simbol roda pancung,  kepongahan manusia yang menggilas manusia lainnya.

Itu hanyalah satu sisi dari modernitas. Sebab, modernitas juga sebuah arus besar petualangan yang senantiasa mencari. Maka, sebetulnya garis-garis silang salib dengan caranya sendiri mencari hubungan-hubungan baru dengan lingkaran. Dan, hubungan-hubungan itu ditemukan kembali dalam pengalaman-pengalaman unik perseorangan. Hubungan itu bisa sangat tak terduga bentuknya tergantung dinamika pengalaman. Berbagai lukisan Kandinsky, Joan Miro, dan Salvador Dali misalnya, tanpa sadar mengungkap kembali harmoni aneh antara garis-garis silang dan bulatan, antara keilahian dan kemanusiaan. Namun, para teolog pun menemukan kembali hubungan antara yang sakral dan yang profan itu dalam berbagai model teologis yang mereka ciptakan.

Salib adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Rasanya agak musykil bila salib kelak akan hilang tergilas jaman. Sebab, salib dalam kesederhanaan bentuknya itu sedemikian adekuat menyimbolkan pertemuan terdasar antara vertikalitas dan horizontalitas, antara transendensi dan imanensi, antara keilahian dan kemanusiaan, lebih dari simbol manapun. Salib adalah simbol yang teramat kaya dan mendalam untuk bisa lenyap ditelan jaman. Tak mengherankan bila teolog Leonardo Boff menyebutnya “The sacrament of the truth”. Salib memang sakramen tentang hakekat sejati kebenaran. Salib adalah Allah yang tergila-gila kepada manusia karena kasmaran. Allah yang karenanya menjadi amat sensitif terhadap segala bentuk penderitaan. Allah yang menjadi “the fellow sufferer”, kata Whitehead dan Daniel Day Williams. Allah yang karenanya menjadi nekat membiarkan diri diperkarakan dan dibantai pertikaian jaman.

Salib adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Dalam jaman yang konon jaman “postkristiani” ini, salib lalu merupakan simbol kesetiaan dalam aneka teror. Artinya, ketika bagi dunia, religiusitas adalah sesuatu yang ganjil, bagaikan abnormalitas, perversi atau bahkan kekonyolan, maka salib adalah kekuatan. Salib senantiasa mengingatkan, bahwa kendati konyol, sebetulnya dunia sendiri membutuhkannya bila ia hendak sampai pada kepenuhan hidupnya yang sejati.

Meskipun demikian, salib adalah simbol konflik. Garis-garis silangnya menyayat dan membedah. Maka, salib bukan hanya kekuatan di kala penuh teror, melainkan bisa menjadi teror itu sendiri, teror atas institusi maupun atas kehidupan pribadi. Artinya, salib adalah gugatan kritis atas struktur-struktur yang menindas dan tidak adil, atas berbagai bentuk idolatri, maupun atas kemandegan dan kemandulan sistem-sistem religius sendiri. Sedang atas kehidupan pribadi, salib adalah teror, sebab salib adalah “konflik dengan diri sendiri”, kata Kazoh Kitamori. Konflik antara kesungguhan mencinta dan derita yang mesti ditanggung karenanya. Salib adalah teror juga karena ia merupakan gugatan atas “krisis nurani”. Jaman ini ditandai “the crisis of conscience”, kata Choan-Seng Song. Salib adalah kritik atas nurani yang kini tumpul dan tak lagi mampu menolak kenikmatan demi kesungguhan komitmen, menolak kekuasaan demi pengabdian, dan menolak kebusukan demi keluhuran.

Lantas, salib memang senantiasa merobek topeng-topeng sang Ego, membongkar kepalsuan dan benteng-benteng rasa aman sang Ego, dan mendobrak ketakutan-ketakutan terdasar yang diam-diam disembunyikannya. Salib adalah memang teror mental yang senantiasa menelanjangi, justru agar kita dapat selalu dilahirkan kembali menjadi semakin ilahi. Salib adalah upaya penghampaan diri guna memberi ruang bagi energi ilahi: kenosis yang bertransformasi menjadi plerosis, ketakberdayaan yang berubah menjadi kemuliaan.

Salib adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, namun tak pernah berhenti kasmaran. (*/Ign. Bambang Sugiharto)

 

 

*Tulisan ini dipetik dari majalah refleksi iman “Sinyal Transendensi” No 1 Januari 1996 yang diterbitkan oleh Ordo Salib Suci Propinsi Sang Kristus

**Ignatius Bambang Sugiharto adalah dosen dan guru besar filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung

 

 

816 total views, 3 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 29 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022