SENI DAN IMAN*

source image : https://pixabay.com/id/photos/cinta-meninggal-salib-duri-mahkota-699480/

Seniman itu seorang manusia yang pada dasarnya blo’on, mirip kanak-kanak, tapi juga mirip Tuhan. Begitu kata seniman grafis Yahudi-Jerman, Fritz Eichenberg, yang karya-karyanya bagai rangkaian doa tak habis-habisnya tentang Kristus dan penderitaan manusia.

Tentu, yang dimaksud Fritz adalah seniman sejati, bukan seniman yang memburu uang di galeri-galeri. Seniman macam itu adalah seorang manusia yang memiliki kepekaan ekstra terhadap persoalan-persoalan dasar kehidupan manusia, terutama terhadap perkara klasik yang bernama: derita. Orang macam ini biasanya memang hidup secara aneh, yakni: ia baru merasa hidup justru bila berada dalam tekanan derita dan kemiskinan. Itulah blo’onnya. Begitulah yang kita saksikan pada pelukis seperti Semsar Siahaan, Nashar, ataupun pada kehidupan Fritz sendiri.

Kehidupan ganjil seniman-seniman macam itu memperlihatkan sesuatu yang penting tentang hakikat “seni”. Seni memang memiliki kecenderungan besar untuk menembus medan “bentuk” lantas merogoh “isi perut” kehidupan dan kemanusiaan. Isi perut ini lantas diungkapkannya lagi dalam rupa rekayasa bentuk gambar, warna, tekstur, skenario, drama, adegan film, ataupun dalam bentuk gerak dan olah bunyi.

Karya seni yang bermutu, dengan demikian, mengungkapkan nilai-nilai dasar di balik permukaan kehidupan dan perilaku manusia, yang mendesak untuk dikenali dan dikaji. Kadang ia bahkan merupakan isyarat sekelebat tentang adanya sesuatu yang salah dalam peradaban. Karya seni besar seringkali memang bersifat profetik, sebab ia berupaya merumuskan khaos menjadi tatanan, keburukan menjadi keindahan, kesalahan menjadi kebenaran. Minimal kecenderungan-kecenderungan gelap dan dilematis kehidupan diteranginya. Demikianlah yang terasa bila kita menikmati karya-karya Dostoyevsky, Kafka, Danarto, Sardono, Putu Wijaya, Seno Gumira, dan sebagainya.

Tidaklah mengherankan bila bagi seniman seperti Fritz, seseorang baru akan menjadi seniman sejati bila ia hidup miskin, seperti Santo Fransiskus, Gandhi, atau bahkan Kristus. Hanya dengan cara itulah, katanya, seniman bisa merawat kebebasannya sebagai manusia “spiritual” dan semakin mempertajam sensibilitasnya terhadap penderitaan manusia. Hanya dengan begitulah seniman dapat mempertahankan integritasnya.

Dalam perspektif itu, karya-karya seni yang serius dapat dikatakan menyandang bobot “religius”. Seperti sikap religius, pada dasarnya sikap seorang seniman adalah sikap bertanggungjawab terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan, keprihatinan yang mendalam terhadap ketidakadilan, penindasan, dan segala jenis penderitaan. Maka sebaliknya, kepekaan estetik amatlah vital peranannya bagi kehidupan religius. Dan kepekaan estetik adalah kepekaan untuk bermain seperti kanak-kanak, prihatin mendalam seperti santo, dan kreatif mencipta seperti Tuhan; mencipta tatanan dalam situasi moral yang berantakan, mencipta keadilan dalam masyarakat yang ditindas struktur ketidakadilan, mencipta perdamaian dalam masyarakat yang penuh pertentangan. (*/Barik Selarik)

 

*Tulisan ini dipetik dari majalah refleksi iman “Sinyal Transendensi” No 3 Mei 1996 yang diterbitkan oleh Ordo Salib Suci Propinsi Sang Kristus

 

 

860 total views, 3 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 31 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022