PANDANGAN ANEH PETRUS ABELARDUS TENTANG SALIB*

source img : pixabay.com jantung-salib-kekristenan-iman heart-1166557_960_720

Memang lazim bila penyaliban Kristus biasa dipikirkan dalam kerangka penebusan dosa: Adam dan Hawa telah berdosa di taman Firdaus. Sejak itu manusia terjerumus ke dalam jarring setan dan tak berdaya untuk bengkit kembali. Namun Allah yang mahabaik menurunkan Putera-Nya, Yesus Kristus, ke dunia untuk menebus dosa dan mengangkat manusia kembali kepada Allah. Ini memang pemahaman klasik atas salib. Dan Paus Gregorius bahkan memberi penafsiran tambahan: kedatangan Kristus ke dunia adalah bagai mata pancing yang bermaksud mengail sang setan. Penebusan adalah upaya Tuhan untuk memancing itu.

Versi lain: Allah sedemikian tersinggung oleh kelakuan manusia di taman Firdaus, sehingga Ia marah dan mengusir manusia dari kerajaan-Nya. Satu-satunya hal yang dapat memulihkan hubungan baik dengan Allah adalah persembahan kurban. Sayang tak ada manusia biasa yang cukup bermutu untuk dipersembahkan sebagai kurban, maka putera Allah sendiri menjadi manusia untuk dikurbankan.

Penafsiran-penafsiran macam di atas itu ternyata agak sulit untuk menyentuh pola pemikiran manusia zaman ini. Barangkali karena konsep tentang “dosa” kini terasa tak jelas lagi, barangkali juga karena pandangan terhadap “dunia” kini pun tidak lagi sedemikian negatif, bahkan mungkin sebaliknya: positif sekali.

Dalam situasi itulah pandangan kuno Petrus Abelardus tiba-tiba jadi terasa menarik kendati memang tidak konvensional. Bagi rahib intelektual abad ke-12 yang urakan dan liar namun cerdas dan jujur ini, penyaliban Kristus bukanlah pertama-tama perkara “dosa”. Yang utama adalah Kristus disalib untuk menarik perhatian dan hati manusia pada aspek terdalam kehidupan yang bernama “penderitaan”. Ini perlu agar komitmen manusia terhadap “kebaikan” tidak menjadi buta dan naïf. Penderitaanlah yang mampu menggali perasaan terdalam kemanusiaan kita, dan karenanya yang mampu juga sungguh-sungguh membuka mata hati kita terhadap makna “kebaikan” dan “kasih” yang sesungguhnya. Dengan demikian bagi Abelardus, penyaliban Kristus adalah tindakan solidaritas terdalam Allah terhadap manusia yang paling menderita, juga sebuah isyarat tegas bahwa kebaikan dan kasih Allah adalah kebaikan dan kasih yang sangat paham kepahitan dunia.

Demikian bagi Abelardus pengurbanan Kristus adalah terutama demi intensifikasi kasih, pendalaman makna pengurbanan bagi orang lain. Konteksnya adalah seperti yang pernah diucapkan Paulus, yaitu: kendati Kristus Putera Allah, Ia merendahkan diri, menghambakan diri bagi dunia, hingga mati di salib. Dalam rangka belas kasih bagi mereka yang menderita, Ia sendiri akhirnya habis digilas derita. Dalam perspektif ini “cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri” sebetulnya akhirnya berarti “cintailah sesamamu karena ia adalah dirimu sendiri”. Salib memang radikalisasi kasih.

Pengurbanan diri bagi orang lain adalah tema yang selalu memukau dan mengharukan sepanjang zaman. Itu menunjukkan bahwa memang ada sesuatu yang ganjil di situ, tapi juga bahwa ada sesuatu yang dirasa luhur di sana. Ganjil, sebab sudah bagai hukum alamlah kenyataan bahwa manusia secara spontan mengutamakan dirinya sendiri. Namun toh luhur dan mengagumkan, sebab kita merasa bahwa mengurbankan diri bagi orang lain itu pada titik tertentu memang suatu keharusan.

Suatu ketika seorang polisi di Hawai ketika sedang patrol tiba-tiba melihat seseorang yang hendak bunuh diri terjun ke jurang. Dengan spontan polisi itu menghentikan mobilnya lalu melompat menangkap orang tersebut. Sayang sang polisi malah terbawa terjun. Untunglah ada polisi lain berhasil meraih salah satu tubuh mereka sebelum jatuh ke jurang. Maka semua berhasil diselamatkan.

Di kemudian hari polisi yang nyaris mati itu diwawancarai sebuah majalah. Ketika wartawan bertanya, “kenapa tidak kau biarkan saja orang itu jatuh? Kamu sendiri kan bisa mati karena kelakuanmu itu?” Si polisi menjawab: “Nggak tahu, tapi saya tidak bisa membiarkan dia. Kalau toh saya biarkan, untuk hari selanjutnya saya tak akan bisa hidup lagi”.

Filsuf Schopenhauer mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman pengurbanan macam itu, sebutlah pengalaman heroik, menunjukkan bahwa pada tingkat metafisis sesungguhnya “aku” dan “orang lain” hanyalah dua aspek dari satu kehidupan. Pada dasarnya semua manusia itu hanyalah aspek-aspek dari satu kehidupan. Keterpisahan antarberbagai manusia hanyalah akibat dari kondisi ruang dan waktu saja. Pada dasarnya kita manusia itu satu identitas. Kenyataan ini baru akan terasa sebagai “kebenaran” pada saat-saat kritis macam yang dialami polisi tadi. Maka imbauan pengurbanan diri demi cinta, atau pernyataan bahwa inti kehidupan pada dasarnya adalah cinta, itu tiada lain adalah imbauan untuk hidup sesuai dengan kenyataan dasariah metafisis itu: bahwa kita itu satu, bahwa membiarkan orang lain mati konyol berarti kita sendiri bunuh diri. Maka menarik pulalah pikiran filsuf lain, Levinas, bahwa dasar otentik sikap etis pada orang lain adalah: keyakinan bahwa nasib orang lain sebetulnya adalah tanggung jawab saya.

Kenyataan dasariah itu semua pulalah yang digarisbawahi oleh peristiwa salib. Dari Abelardus kita sadari bahwa salib lebih terasa bermakna bila dilihat dalam kerangka “cinta” ketimbang dalam kerangka “dosa”. Dari Schopenhauer dan Levinas kita dapatkan bahwa pengurbanan diri demi cinta menunjukkan bahwa pada hakikatnya semua manusia itu satu adanya. Maka tak ada salahnya kita menganggap “salib” sebagai simbol bagi segala upaya radikal untuk mempersatukan berbagai bentuk keterpecahan manusia. Maka, apabila atas nama salib kita justru makin tegas terpisah dari sesama, bahkan saling membunuh, betapa ironisnya, dan betapa terbalik-baliknya penghayatan kita. (*/Sugiri Hartono)

 

*Tulisan ini dipetik dari majalah refleksi iman Sinyal Transendensi No 3 Mei 1996, yang diterbitkan oleh Ordo Salib Suci Propinsi Sang Kristus

 

 

2,200 total views, 6 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 29 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022