SENI MERAWAT JIWA

Pada bulan April tahun 2014, terbit sebuah buku menarik bertajuk: “Seni Merawat Jiwa: Tinjauan Filosofis” (Jakarta: OBOR). Mengenai buku tersebut, Pius Pandor CP –penulisnya— mengatakan:

 

“…..Munculnya buku ini berawal dari kondisi jiwa manusia modern yang kurang terawat dengan baik. Secara fenomenologis, hal itu disebabkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal, bisa terjadi karena manusia kurang merawat jiwanya, sehingga tujuh perusak kepribadian, yakni: nafsu liar, malas, rakus, iri hati, marah, sombong, dan lesu, dengan mudah menyerang dan menyebarkan virus yang melemahkan jiwa. Bisa juga karena tujuh dosa sosial seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi –“Politik tanpa prinsip, kekayaan tanpa kerja keras, bisnis tanpa moralitas, kesenangan tanpa nurani, pendidikan tanpa karakter, sains tanpa humanitas, dan peribadatan tanpa pengorbanan”— merongrong jiwa kita. Sementara itu, faktor eksternal bisa juga terjadi karena manusia sulit menampik tawaran pola hidup hedonis dan konsumeris yang menggiurkan. Tambahan pula karena adanya dominasi sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama begitu kuat merongrong jiwa sehingga membuatnya merana.

Berdasarkan dua faktor utama di atas, langkah selanjutnya adalah mencari solusi bagaimana menggairahkan jiwa. Di sini, kita berbicara tentang manajemen jiwa (the souls’s management). Artinya, berbicara bagaimana usaha menata, mengolah dan merawat jiwa. Dalam diskursus filosofis, kita mengenal istilah filoterapi, filsafat untuk merawat jiwa. Dengan demikian, jiwa tidak terbenam di dalam rutinitas keseharian yang kadang-kadang penuh dengan rumor, mitos, gosip, konflik, kekarasan, dan sebagainya, tetapi senantiasa berjuang mencari apa yang benar, baik dan bermakna.

Supaya jiwa selalu mencari dan mengembangkan apa yang benar, baik dan bermakna, Seni Merawat Jiwa perlu dipromosikan dan dikembangkan. Mempromosikan dan mengembangkan Seni Merawat Jiwa, di sini, ibarat membuka jendela. Di dalamnya kita akan menemukan intisari kehidupan. Namun, untuk masuk ke dalamnya, kita harus melewati penyingkapan atau proses membuka jendela jiwa melalui tiga lapisan utama, yaitu: jendela pengenalan, jendela peradaran, dan jendela eureka.

Jendela pertama dalam proses mengembangkan Seni Merawat Jiwa adalah pengenalan. Lewat jendela ini, kita diajak untuk mengenal jati diri kita, orang-orang yang mengitari diri kita, apa yang hendak kita perjuangkan dalam hidup ini, dan bagaimana menggapainya. Jendela kedua adalah jendela peradaran. Jendela ini sejatinya memberikan kita rambu-rambu bagaimana seharusnya mengembangkan Seni Merawat Jiwa. Akhirnya, jendela ketiga eureka atau jendela penemuan jati diri. Lewat jendela ini kita akan menemukan model-model manusia yang sedang berziarah menelusuri lorong-lorong kehidupan dan yang sedang berjuang mempromosikan dan mengembangkan Seni Merawat Jiwa.

Judul buku ini diinspirasi oleh pemikiran Jan Patockha, salah satu filosof tersohor Cekoslowakia (1907-1977). Dia pernah membuat pernyataan yang mengagumkan bahwa Philosophy is the care of soul – “Filsafat itu untuk merawat jiwa” (Patockha, 2005:91). Konsep cemerlang ini terinspirasi oleh Plato yang disebutnya sebagai ‘guru kebijaksanaan’ dalam perawatan jiwa.

Menurut Patockha, intisari filsafat Plato adalah perawatan jiwa. Hal ini selaras dengan pandangan Plato sendiri yang menegaskan bahwa hakikat manusia adalah jiwanya. Semua orang diundangnya untuk melakukan gerakan merawat jiwa.

Ada tiga gerakan perawatan jiwa dalam pemikiran Plato.

Pertama, merawat jiwa dalam dimensi onto-kosmologis. Gerakan pertama ini menekankan posisi jiwa sebagai pusat yang menghubungkan kaitan antara hakikat manusia dan hakikat alam semesta. Keterbukaan manusia akan alam semesta menurut Patockha berawal dari rasa takjub. Rasa takjublah yang memungkinkan manusia mengarahkan daya cipta untuk merayakan martabat dan kebebasan berdasarkan refleksi filosofis. Dalam konteks ini, berfilsafat berarti keterbukaan terhadap dunia dalam rangka pemaknaan atas hidup.

Kedua, merawat jiwa dalam dimensi politis. Gerakan kedua ini menekankan dimensi sosial perawatan jiwa. Berkaitan dengan hal ini, ada dua jalan untuk merawat jiwa. Jalan pertama, kecakapan melihat realitas yang tidak kelihatan di tengah realitas yang kelihatan. Di sini, realitas yang tidak kelihatan dan realitas yang kelihatan merupakan dua ranah yang dapat membantu kita menguak hakikat kebenaran dan keadilan. Jalan kedua, pentingnya peran polis atau masyarakat dalam mengembangkan Seni Meraqwat Jiwa. Supaya perawatan ini tercapai, polis harus merupakan komunitas rasional, yaitu komunitas yang digerakkan akal budi dengan menjunjung tinggi kebebasan dan keutamaan. Dengan demikian, setiap anggota yang hidup di dalamnya berusaha mengendalikan diri sehingga pada akhirnya mampu melibatkan diri dalam mengembangkan Seni Merawat Jiwanya sendiri dan sessamanya. Untuk melakukan hal ini, pengenalan diri menjadi pintu utama yang harus dilalui. Dalam konteks ini Patrockha (2005:110) menggemakan kembali pesan orakel Delphi tentang Gnoti seauton (Kenalilah dirimu sendiri) dan Meden agan (Jangan bnerlebih-lebihan).

Ketiga, merawat Jiwa dalam dimensi metafisis. Gerakan ketiga ini menekankan kedudukan individu dalam kaitan dengan sesuatu yang tak berhingga, atau kekekalan. Berkaitan dengan hal ini Patrokha (2005:125) mengatakan: “Jiwa adalah subyek yang terpanggil untuk menemukan kekekalan”. Untuk itu, jiwa melakukan gerakan purifikatif, yaitu membebaskan dirinya dari keterikatan akan hal-hal duniawi untuk berjumpa dengan keabadian. Dengan demikian, keabadian dimaksudkan sebagai usaha untuk menemukan hakikat jiwa yang menggerakkan dirinya sendiri.

Tafsiran Patrokha tentang tiga gerakan merawat jiwa di atas, kiranya merupakan salah satu upaya untuk mengatasi kondisi jiwa manusia modern yang kurang terawat dengan baik, sebagaimana telah ditampilkan dalam bagian awal dari prakata buku ini. Penemuan ini selanjutnya merupakan undangan sekaligus signal bagi pembaca-pembaca budiman untuk merawat jiwa kita sendiri dan jiwa sebagai bangsa…..” (h. vii-x)

 

“Seni Merawat Jiwa: Tinjauan Filosofis”. Sebuah buku yang baik untuk dibaca terutama oleh mereka yang “baru” akan “mengawali” hidup, atau: mereka yang hendak berjalan lagi melangkah melakoni perubahan dalam nasibnya….memulai lembar hidup yang baru….. (*/dack)

 

 

1,831 total views, 3 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 27 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022