GEREJA KEHILANGAN IDENTITAS*

source: spiritualitaskatolik.files.wordpress

Simone Weil, filsuf Perancis kontemporer, ternyata adalah juga seorang mistikus Kristiani sejati. Budayawan terkemuka Leslie Fiedler bahkan sempat menyebutnya seorang “santa dari abad sekuler”. Namun ada yang aneh pada mistikus ini, yaitu bahwa suatu ketika dalam surat kepada pembimbing rohaninya, Romo Perrin, ia berkata bahwa justru karena ia ingin menghayati kekatolikan secara lebih sejati, maka ia tak akan pernah mau dipermandikan menjadi warga Katolik.

Simone Weil memang rada eksentrik, seperti kecenderungannya untuk selalu berpenampilan tidak cantik. Namun sikapnya tadi menyiratkan sebuah perkara besar yang dihadapi agama Katolik saat ini: perkara kaburnya identitas.

Suatu kenyataan yang agak paradoksal kini kita alami: di satu pihak sepertinya memang ada kebangkitan agama, dan di Indonesia ungkapan simbol identitas fisiknya terasa amat hingar bingar, di pihak lain sejak Konsili Vatikan II secara internal identitas Katolik konon justru terasa makin kurang jelas. Sekarang ini, kata seorang aktivis ITB militan, apa bedanya sih antara seorang militan Katolik dengan militan humanis ateis? Toh pada tingkat praxis operasional keduanya sama-sama humanis, hanya pada tingkat teoritis dogmatis saja berbeda, sementara perbedaan ini pun tak membawa efek apa-apa.

Keunikan Identitas Kristiani

Konsili Vatikan II memang telah memicu refleksi dan perumusan ulang atas inti identitas Katolik, baik dalam konteks intern tradisi maupun dalam interaksi dengan agama-agama besar di luarnya. Secara umum kita memang menjadi jauh lebih “low profile” dan berintegrasi baik dengan problematika sekuler maupun dengan agama-agama lain. Namun persis inilah yang kemudian melahirkan kesan bahwa identitas kekatolikan itu tak jelas lagi. Terlalu low profile, terlalu sekuler, terlalu toleran terhadap agama lain, terlalu berintegrasi, hingga sosoknya kini memang tak jelas lagi.

Namun rasanya itu cuma kesan belaka. Kenyataannya tokh tak separah itu juga. Bicara soal keunikan identitas, sebetulnya perlu kita bedakan antara identitas fisik dan identitas pada tingkat lebih esensial yang nonfisik. Identitas memang bisa tampak pada simbol-simbol fisik. Itu bisa berupa kayu salib yang terpasang di dinding atau pun stiker di mobil-mobil. Bisa pula berupa jumlah gedung gereja di sebuah kota, jumlah menteri yang duduk di pemerintahan, atau bahkan kenaikan statistik umat setiap tahun. Namun itu semua sebetulnya belumlah menunjukkan kekuatan eksistensi gereja, belumlah memperlihatkan bahwa Gereja memiliki identitas yang solid. Pada tingkat yang lebih mendasar dan esensial identitas perlu dilihat pada tataran yang lain, yaitu pada tataran Nilai. Keunikan identitas di sini lalu kita lihat pada nilai-nilai mana yang diprioritaskan bahkan dimutlakkan oleh Gereja atau oleh Kristianitas. Maka lalu soal kuat atau lemahnya identitas bisa diukur dengan melihat sejauh mana nilai-nilai itu berhasil tumbuh dan mengakar dalam budaya dan pola perilaku masyarakat umum.

Bila sudut pandangnya adalah prioritas nilai, dapatlah kita katakan bahwa keunikan identitas Kristiani memang tidak terletak pada penekanan atas kemutlakan kekuasaan Allah yang dahsyat dan akbar, tidak pula atas kemutlakan keesaan-Nya, tidak atas kemutlakan hukum sebab-akibat semesta dan pembebasan diri daripadanya dalam moksa, tidak juga atas kemayaan dan kesia-siaan dunia yang penuh derita dan pencerahan manusia dalam alam nirwana. Tanpa mesti menggunakan kerangka pemikiran canggih ala Hans Kung atawa David Tracy, kita masih selalu bisa berkata bahwa keunikan Kristianitas adalah penekanannya atas kemutlakan kasih. Satu-satunya yang mutlak itu kasih. Dasar kebenarannya adalah kenyataan bahwa inti terdalam kehidupan memang kasih itu. Orang Kristiani meyakini bahwa semesta tercipta dari kasih, kehidupan pun lahir dan berkembang dari kasih, dan segalanya bergerak menuju kepenuhan dan kian meratanya kasih. Maka kalau orang Kristiani meyakini bahwa kebenaran agamanya itu mutlak, itu semata-mata karena kasih memang mutlak, artinya: mendasar, total, dan universal. Dalam perspektif Kristiani ini, lalu Allah tiada lain ya sumber terdasar segala kasih. Dalam rangka ungkapan kasih ini pula muncul figur Kristus maupun Roh Kudus. Maka “Tritunggal” bisa dimengerti sebagai cara Allah bekerja dalam sejarah sejarah manusia: cara Allah memperlihatkan apa artinya mengasihi dan berkasih-kasihan itu sesungguhnya.

Kasih ini memang tak sesederhana ketaatan pada hukum dan pencaharian pahala, namun tidak pula serepot peningkatan kesadaran dalam meditasi menuju satori, juga agak kurang peduli pada alam akhirat sebab ia lebih peduli pada hubungan manusiawi di dunia ini. Lebih gawat lagi sikapnya terhadap derita: bukannya berusaha keluar daripadanya melalui 8 jalur sakti, ia malah rada sembrono mencebur ke dalamnya, sebab konon derita adalah salib yang mempesona. Barangkali inilah justru keunikan agama kasih ini, yang juga membuatnya tampil sebagai sikap iman yang terasa longgar dibanding agama-agama lain.

Evolusi Kasih

Meskipun demikian perlu diwaspadai memang, apa itu “kasih”, sebab kasih dan kasih memang banyak macamnya. Secara sederhana dapat saja dibedakan: kasih pada tingkat “pemuasan diri” (self-sufficiency), Kasih pada tingkat “perluasan diri” (self-expansion), dan kasih pada tingkat “penyangkalan diri” (self-denial).

Dalam skala mikro bisa disebut contoh yang biasa: ketika seorang pria dan wanita saling jatuh cinta, maka cinta itu terjadi pada tingkat “pemuasan diri”. Ketika kemudian seorang anak lahir dari hubungan mereka, maka cinta itu memasuki tahap “perluasan diri”. Namun ketika anak itu tumbuh menjadi seorang dewasa yang otonom dan bebas, cinta kedua orang itu menjadi suatu keterlibatan yang berjarak, yang mengekang diri, yang tidak memonopoli, apalagi menjajah. Mereka tidak bisa lagi mendikte si anak, malah bisa saja si anak menentang, menyangkal, bahkan membunuh mereka. Pada situasi macam itulah cinta mereka memasuki tahap “penyangkalan diri”. Di sini cinta menghargai dan menghormati otonomi pihak yang mereka cintai hingga tahap dimana peran mereka sendiri bisa sangat tersisih seolah tanpa arti.

Dalam skala makro hal ini bisa juga dikenakan pada perjalanan Gereja sepanjang sejarah. Era Konstantin dan abad Pertengahan dimana Gereja mengalami kejayaan di Eropa bisa saja dianggap sebagai tahap “pemuasan diri”. Lalu bersama dengan kolonialisme Gereja pun lantas ber-ekspansi berupaya membaptis dunia, itulah tahap “perluasan diri”. Dan di sana Gereja atau Kristianitas umumnya menganggap diri sebagai pusat keselamatan satu-satunya. Kemudian bersama dengan kian berkembangnya otonomi manusia dan kian intensifnya interaksi antarkultur dan agama, Gereja sampai pada kesadaran baru bahwa otonomi manusia memang mesti dihormati, dunia adalah suatu medan yang perlu digali dan dikaji, dan terutama bahwa sang Kebenaran ternyata demikian kaya, seperti halnya realitas semesta, sehingga memiliki banyak pusat juga, bahwa kasih Gereja memang harus kian intens terlibat namun serentak berjarak, menahan diri dan penuh hormat. Situasi kontemporer dimana Gereja menjadi amat “low profile” ini barangkali bisa kita sebut tahap “penyangkalan diri”, dan karena itu serentak suatu tahap kematangan yang unik juga.

Garam Menjadi Air

Seandainya kita bermain dengan analogi, maka bagus juga membanyangkan bahwa umat Katolik yang menganggap diri “garam” dunia itu kini telah mencair menjadi “air”, atau lebih tepat “zat cair”. Kasih memang seperti air juga. Pada tahap “pemuasan diri” air memang berperan sekedar sebagai pemuas dahaga. Pada tahap “perluasan diri” air memang bisa juga menjadi air bah yang menggenangi seluruh kota bahkan menenggelamkannya. Namun pada tahap “penyangkalan diri”, ia harus puas hanya berperan sebagai zat cair saja, di dalam bensin, minyak goreng, oli, Coca Cola, kecap, atawa secangkir kopi di warung tetangga.

Kasih yang menyangkal diri adalah zat cair itu. Seperti halnya dalam bensin, minyak goreng, dan Coca Cola, zat cair itu merupakan “roh”nya namun hadir tanpa label nama, maka kasih orang Kristiani memasuki dengan intim setiap agama dan setiap golongan manusia, sebagai roh kemanusiaan serentak Roh Tuhan yang memupuk serta mengembangkan setiap potensi kasih dalam diri mereka, namun tanpa mengibarkan bendera. Dengan itu memang sepertinya kita justru kehilangan identitas, namun barangkali justru pada tingkat inilah Gereja menjadi sungguh-sungguh “Katolik”, yang artinya memang “umum, universal”, alias hadir di mana-mana, sebagai “sukma” dari segala. Identitas kita tidak lagi terletak pada label nama, melainkan pada nilai kasih, pada kian terwujudnya kasih itu secara universal. Barangkali ini pula alasannya mengapa Simone Weil tidak pernah mau dibaptis. Dan dalam rangka Kristianitas yang matang tadi, boleh jadi seorang Kristiani tak seberapa beda dengan seorang aktivis humanis. Namun toh tidak sama, dalam hal: ia lebih radikal daripada para humanis, sebab bagi seorang Kristiani mengasihi sesama itu bukan sekedar pilihan opsional atau selera individu, melainkan suatu kewajiban mutlak, sesuatu yang bersifat imperatif.

Adapun Gereja sebagai institusi tidak ada salahnya kita anggap sebagai “mata air” atau sumber zat cair yang tak habis-habisnya. Daripadanya (mestinya) kita dapatkan selalu sumber energi baru juga, seolah umat dapat selalu menyusu kepadanya. Oleh institusi ini idealisme kasih senantiasa dipupuk, dikobar-kobarkan, dan dirayakan. Dalam kerangka itu pulalah simbol-simbol fisik masih diperlukan. Dengan kata lain, simbol-simbol fisik masih berguna terutama dalam konteks intern: untuk membantu mengintensifikasi penghayatan nilai Kristiani terutama nilai kasih, di antara kita sendiri.

Dengan itu semua akhirnya mau dikatakan bahwa kekhawatiran seolah kita sedang kehilangan identitas barangkali tidak perlu ada. Boleh jadi yang terjadi adalah bahwa kita justru sedang memasuki tahap “pematangan identitas”, yaitu tahap ketika kasih mulai menyangkal diri sendiri.

Kesulitan umum untuk menerima cara pandang macam di atas itu adalah masih besarnya kecenderungan untuk menganggap diri sebagai “pusat”, yang memonopoli kebenaran dan ingin menaklukan orang lain atas nama kebenaran itu. Kecenderungan egosentrisme kekanakan atau etnosentrisme yang sudah kadaluarsa ini memang masih juga ngotot bercokol menguasai kebanyakan orang. Apa boleh buat, orang memang lebih suka pada rasa aman, betapapun semu dan mengecohnya hal itu. Masalahnya kan sang Kebenaran itu sendiri sebetulnya bagaikan matahari. Siapakah yang bisa meraihnya dan mengantonginya? Siapakah yang bisa memonopoli kebenaran dan memenjarakannya dalam sebuah sistem saja? Matahari terlalu jauh dan terlalu membakar, namun ia memberikan sinar kepada semua, dengan intensitas yang sama namun ditangkapi dan diolah dengan cara berbeda-beda dan melahirkan kehidupan yang beragam pula. Biarkanlah begitu, sebab Allah, sang Kebenaran itu memang teramat kaya dan teramat luaslah kasih-Nya. Tentang siapa sesungguhnya Dia pada dirinya sendiri, siapakah yang dapat mengetahui sepenuh-penuhnya? Namun siapa atau apapun Dia, kita tahu pasti bahwa Dia adalah juga sang “Kasih sejati”. Dan kalau kita percaya bahwa Dia adalah kasih, maka segala hal tentu dikasihi-Nya tanpa kecuali, dengan intensitas yang sama, namun memang dengan cara yang berbeda-beda. Sedang keluasan dan kedalaman kasih itu tentulah mengatasi kategori manusia pula. (*/Ignatius Bambang Sugiharto)

*Tulisan ini dipetik dari majalah refleksi iman “Sinyal Transendensi” No 3 Mei 1996 yang diterbitkan oleh Ordo Salib Suci Propinsi Sang Kristus

**Ignatius Bambang Sugiharto adalah dosen dan guru besar filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung

3,728 total views, 3 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 32 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022