SPIRITUALITAS YANG ESTETIS*

www.lauramcalister.com Bible-on-Pope-John-Paul-II-Coffinthumb-720x480 <> at St. Peter's Basilica on May 1, 2011 in Vatican City, Vatican.

Inti Injil itu bukan melulu berisi petuah-petuah atau ajaran-ajaran moral, tetapi juga merupakan suatu kisah. Karena suatu kisah maka sasarannya adalah “menggambarkan” dan “menceritakan” suatu peristiwa atau “membeberkan” kenyataan. Malah “menampilkan” suatu scene pribadi protagonisnya, yaitu Yesus. Kalau Injil dipahami sebagai petuah moral, walhatsil Injil harus didekati lewat etika. Injil menjadi alat ukur hidup baik-buruk, suci-dosa, surga-neraka. Artinya Injil direduksi sebagai penjabaran dekalog belaka. Akibatnya, realitas yang ilahi menjadi semata-mata yang kudus bukan yang indah. Sebaliknya bila Injil dilihat sebagai suatu kisah, maka pendekatannya menyarankan bahasa seni. Realitas ilahi bukan untuk ditakuti lagi, tetapi dipandang untuk dikagumi. Yang ilahi disembah bukan karena mengerikan tetapi karena mengagumkan dan rindu untuk menghampirinya. Logos tidak terutama untuk dimengerti tetapi untuk dialami dan dirasakan sentuhan-sentuhannya. Aktivitas memahami kandungannya bukan lagi bersibuk dengan menafsirkan secara ontologis atau epistemologis, tetapi dengan masuk ke dalam kenyataannya (inhabited) dengan “pengalaman”. Pada gilirannya Injil itu bukan pertama-tama “didengarkan” tetapi “ditatap”. Tidak verbal tetapi piktural.Gereja Katolik Ortodoks sudah sejak lama mempunyai tradisi yang kuat dalam mendekati Injil sebagai suatu kisah. Sehingga liturgi lebih visual daripada verbal. Yang menjadi dasar kerinduan religiositas mereka akhirnya bukanlah untuk mengetahui realitas ilahi, tetapi untuk mengalami kehadirannya. Sengsara, kematian dan kebangkitan Kristus sebagai the root of metaphor Kristianisme, dihadirkan dan digelar dalam upacara liturginya agar menjadi kenyataan;  “derita-Mu deritaku, mati-Mu matiku, dan bangkit-Mu bangkitku jua”. Karena memang itulah saripati pelaksanaan perintah suci Kristus, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”.

Medium yang dipakai untuk menghadirkan realitas ilahi itu adalah ICON. Gambar kudus. Bukan sembarang gambar kudus, tetapi gambar yang sudah dikonsekrir, baik pelukisnya maupun lukisannya. Gambar yang merupakan hasil meditasi tingkat tinggi, askese yang berat, dan juga bukan sekedar ekspresif personal nan subjektif, tetapi melulu berdasarkan wahyu ilahi. Makanya sebuah icon itu tidak mengenal optik-perspektif, bentuk dan dimensi ruang. Icon akhirnya penjadi prototype dan hypostasis yang merepresentasikan pribadi yang digambarkan. Memandang icon, menghormatinya menjadi sama dengan melakukan itu semua kepada yang digambarkan. Ho on, “dialah itu” kata orang Byzantium.

Ours is the age of postliteracy, kata Mark C. Taylor dalam bukunya “Imagologies” (1966). Zaman ini adalah zaman yang ditandai dengan kultur simulacrum. Logos telah dan harus siap menjadi imago. Imago Dei menjadi Deus imaginis. Membaca Kitab Suci sebagai sejumlah huruf-huruf dan setumpuk kata-kata telah menjadi absurd. Khotbah pastor di gereja sampai mulutnya berbusa sekedar menciptakan literal event menjadi sia-sia dan mubazir saja. Kalau toh masih ada yang mau mendengarkan, ia tidak akan memahaminya. Karena bahasa sudah berlainan. Kultur simulacrum tanpa disadari telah memaksa si pengkhotbah untuk turun dari mimbar, kalau ia tidak dapat menciptakan logos menjadi imago. Zaman ini adalah zaman kenyamanan orang-orang buta huruf, buta baca, dan tuna rungu. Mereka lebih ingin melihat daripada mendengar apalagi harus membaca. Hilangnya budaya baca sepertinya sudah menjadi keharusan sejarah. Kenyataan ini bukan suatu malapetaka namun justru suatu rahmat.

Kata-kata dan ide telah menjadi gambar. Grapheme menjadi icon, menulis menjadi menggambar. Kapan saja dan di mana saja kita diserbu oleh gambar-gambar. Bukan sekedar gambar biasa saja, tetapi malah gambar-gambar elektronik yang omniscience, omnipotence dan omnipresence. Imagologi telah menggeser ideo-logi. Dan ironisnya, Taylor menulis, Pendeta Robert Schuller yang Protestan pun, seorang iconoclast yang fanatik itu secara tak disadarinya telah berbalik menjadi iconoclatri dalam berdakwah lewat “televangelisme”-nya. Suatu fakta kedahsyatan kultur “simulacrum”.

Zaman ini ditandai dengan “ledakan gambar”. Bahasa gambar mendominasi peradaban kita dengan menggeser kata-kata. Ia telah memperangkap seluruh perhatian kita. Zaman yang menunjukkan keampuhan bahasa gambar. Tak dapat disangkal, bahwa melihat itu selalu mendahului perkataan. Seperti seorang anak kecil yang secara instingtif akan melihat suatu objek terlebih dahulu sebelum ia memiliki kata untuk mengucapkannya. Realitas mendahului logika.

Kultur simulacrum bisa menjadi blessing in disguise. Betapa tidak. Bila kecenderungan mendasar religiositas manusia adalah ingin bertemu dengan realitas ilahi yang misteri, maka bahasa seni, konkretnya bahasa gambar menjadi medium yang paling ampuh untuk berdialog dan berkomunikasi. Karena seni dan iman mempunyai bahasa yang sama. Atau lebih tepatnya lagi, seni dan iman itu mempunyai hubungan afinitas yang tak terpisahkan, yang satu membutuhkan dan menentukan yang lainnya. Selain keduanya membahasakan realitas yang sama, juga keduanya mampu memberikan pelepas dahaga akan yang sublim, yang ilahi dan yang misteri. Keduanya berobsesi tentang realitas yang melampaui batas pikir dan rasa manusia.

Di sinilah Icon menjadi sarat dengan makna. Tidak heran kalau Gereja Ortodoks menempatkan icon sejajar dengan Kitab Suci. Liturginya pun tidak dapat dipisahkan dengan penghormatan pada icon, karena icon telah membuktikan intensitas dan totalitas peribadatan mereka. Icon merupakan kemanunggalan antara ekspresi “verbal” dan “piktural” wahyu ilahi. Icon yang sudah sejak abad kedua diangap “omnipresence” itu telah mengantisipasi kultur “simulacrum” kita sekarang ini.

Mutatis mutandis, spiritualitas yang memandang hidup yang hitam-putih, suci-dosa pada akhirnya toh harus diberi alternatif. World view beragama yang etis-sentris perlu ditawari paradigma lain, katakan saja “paradigma estetis”. Kultur “simulacrum” membutuhkan paradigma baru agar bisa berkomunikasi dengan “sunyata”, untuk memenuhi kerinduan religiositas manusia sesuai dengan konteks kapan dan dimana sekarang berada. Bahasa gambar, bahasa icon, dan bahasa seni melihat yang ilahi sebagai yang mengagumkan, yang indah dan cemerlang. Ritual sebagai ekspresi iman, harapan, dan kasih, seyogyanya lebih visual dan imaginal daripada verbal. Di sinilah apa yang dikatakan Paus Yohanes Paulus II bahwa seni menjadi doa dan doa menjadi seni, menjadi kenyataan. Tanpa The priesthood of art, ekspresi iman akan menjadi gagap sewaktu berdialog dengan yang misteri. Katanya. (*/Fabie S.H.)

 

*Tulisan ini dipetik dari majalah refleksi iman “Sinyal Transendensi” Th 11 No 7 Januari 1997 yang diterbitkan oleh Ordo Salib Suci Propinsi Sang Kristus

2,790 total views, 6 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 29 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022