PETUALANGAN INTELEKTUAL ALBERTUS MAGNUS*

Sebutan “magnus” (besar, agung) bagi santo Albertus adalah sesuatu yang tidak berlebihan. Perilaku intelektual rahib dominikan abad 13 ini cukup mengagumkan. Meskipun pemikiran-pemikirannya tidak sangat orisinal, vitalitasnya dalam studi dan keberaniannya menyesuaikan iman kristiani dengan bahasa jaman sangat layak untuk disimak.

Kala itu pemikiran dan keyakinan dilanda hiruk pikuk pola pikir filsafat Yunani, filsafat Islam dan tradisi teologi para Bapa Gereja yang penuh kontroversi. Di abad pertengahan itu dunia pengetahuan tengah mengalami masa kejayaannya. Bagi mereka yang berakal, maka filsafat Plato dan perspektif Aristoteles versi para filsuf muslim seperti Avicenna (Ibn Sinna), Averroes (Ibn Rusjd) dan Al-Farabi adalah tawaran-tawaran yang memikat. Bukan hanya filsafat yang merajalela, ilmu-ilmu lain pun seperti ilmu alam, logika, retorika, matematika, bahkan kimia, botani dan zoology pun memperlihatkan perkembangan mengesankan. Kendati penalaran akali yang naik daun ini menimbulkan banyak kontroversi, daya pikatnya bagi jaman tidak terelakkan, dan karenanya Gereja saat itu ditantang untuk mengintegrasikannya dengan penalaran imani secara serius dan mendalam.

Adalah Albertus yang mampu menjawab tantangan itu. Kapasitas studinya menakjubkan. Alih-alih membentengi diri dari invasi beragam ilmu dan cara pikir yang membingungkan itu ia justru menceburkan diri ke dalamnya. Pola pikir keislaman maupun filsafat Aristoteles yang cenderung “sekuler” ditelaahnya dalam-dalam dan dipadukannya dengan tradisi teologi para Bapa Gereja sebelumnya. Hasilnya adalah teologi yang fasih membahasakan iman secara bernalar dan “modern”. Dan itu baru tampak di kemudian hari terutama dalam karya murid terbesarnya, Thomas Aquinas. Demikian kokoh dan mendasar pondasi yang ditanamkan Albertus pada Thomas, sehingga filsafat Thomistik di kemudian hari kerap disebut Philosophia perennis, filsafat yang abadi dan relevan bagi sepanjang jaman.

Salah satu gagasan Albertus yang menarik hingga kini misalnya adalah keyakinannya bahwa pengetahuan tertinggi kita tentang Tuhan selama kita masih berada di dunia ini hanyalah didapat secara negatif. Artinya yang dapat kita ketahui secara manusiawi hanyalah apa yang bukan atau tidak bisa dikenakan pada Tuhan, terutama misalnya bahwa Tuhan itu sesuatu yang tidak terbatas. Tapi apa persis “tidak terbatas” itu nyaris tak mungkin kita mengerti sebab manusia yang serba terbatas tidak bisa mengalami ketakterbatasan. Hal lain lagi yang bagus untuk dipikir-pikir sebelum tidur misalnya pandangan Albertus bahwa roh itu bukan sesuatu yang tinggal dalam badan, melainkan sebaliknya: badan adalah sesuatu yang tinggal dalam roh, sebab roh itu lebih hakiki daripada badan. Pada dasarnya segenap semesta bersifat rohani.

Tidak puas dengan hanya menggumuli metafisika, Albertus pun menerjuni bidang-bidang ilmu yang sekarang disebut ilmu “empiris”. Bersama Robert Grosseteste dan Roger Bacon, Albertus adalah salah seorang yang sebetulnya mengawali tradisi eksperimental dalam dunia keilmuan modern seperti yang kita kenal saat ini. Menakjubkan, oleh sebab bila dunia keilmuan modern baru tinggal landas pada abad 16, maka Albertus telah mengantisipasinya sejak abad 13, 300-an tahun jauh sebelumnya. Pada abadi itu ia telah merancang metodologi dan prosedur teknis yang wajib dijalankan oleh seorang ilmuwan dalam penelitiannya di laboratorium, dalam rangka menjamin ketepatan hasil penelitiannya. Keluasan wilayah penelitian yang dirambah Albertus pun cukup mencengangkan: Fisika, Psikologi, Astronomi, Geografi, Zoologi, Botani, hingga Mineralogi. Jadi di samping merenungi buku-buku di kamar dan perpustakaan ia pun gemar kelayapan ke gunung dan hutan demi penelitian ilmiah. Gelegak gairah intelektualnya menjangkau rentangan luas dari konsep paling abstrak dan kosmis dalam filsafat dan teologi hingga observasi paling konkrit ragawi tentang burung-burung, serangga bahkan mineral-mineral. Suatu komitmen total terhadap dunia pengetahuan, yang kini sangat langka.

Situasi dasar yang dihadapi Albertus agung saat itu pada intinya adalah: tantangan untuk mengintegrasikan secara mendalam pluralisme pandangan yang muncul baik dari luar, yaitu pandangan agama lain dan pandangan ilmiah sekuler, maupun dari dalam Gereja sendiri, yaitu berbagai kontroversi teologis aktual. Dan, aneh bin aneh, ini ternyata adalah persis tantangan Gereja yang kita hadapi hari-hari ini juga. 700-an tahun telah berlalu, tantangannya masih sama. 700-an tahun lalu orang memiliki keberanian dan kemampuan macam itu langka dan sulit mendapat tempat juga. Albertus memang Magnus. Dan kita cukup “manyun” saja. (*/I. Lelatu Sabrangkali)

*Tulisan ini dipetik dari majalah refleksi iman “Sinyal Transendensi” No 4 Juli 1996 yang diterbitkan oleh Ordo Salib Suci Propinsi Sang Kristus.

2,314 total views, 9 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 37 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022