PSE ST IGLO BERBAGI TAKJIL

Takjil dambil dari bahasa Arab yaitu ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan yang artinya adalah “menyegerakan” atau “cepat-cepat”. Maksud dari menyegerakan ini adalah untuk segera membatalkan puasa yang sudah dilakukan ketika waktunya tiba.

Di Indonesia, kata “takjil” yang semula merupakan kata kerja lambat laun dimengerti sebagai kata benda. Di sini, “takjil” berarti “makanan pembuka puasa”. Kita sering menyebut takjil sebagai makanan, minuman, atau hidangan yang digunakan untuk berbuka puasa sebelum makanan utama.

Untuk menunjukkan bahwa Gereja sungguh toleran, perduli dan mau berbagi rasa dengan saudara-saudara Muslim yang tengah menjalankan ibadah Puasa, Gereja kerap menyelenggarakan kegiatan berbagi takjil. Itulah pula yang dilakukan oleh PSE St Iglo pada hari Jumat, 24 Mei 2019 yang lalu.

Sejak pukul 15.00 WIB, sejumlah pengurus PSE dengan dibantu oleh sejumlah umat lain dan OMK tampak sudah berhimpun dan sibuk mengadakan persiapan untuk kegiatan berbagi takjil yang sedianya akan dilaksanakan beberapa waktu selanjutnya. Tampak Bu Ari, Bu Rini, Bu Agnes, Bu Awet, Bu Krisma, Bu Tri, Pak Johanis (selaku koordinator kegiatan), Pak Thomas, Pak Rony, Pak Yohanes dan perwakilan OMK seperti Bung Egen dan Mbak Helen dan beberapa lagi lainnya serta sekitar 30-an warga Gereja St Iglo yang lain sibuk menyiapkan paket-paket takjilan berisi kolak, bubur, roti dan sejumlah makanan serta minuman lainnya untuk dibagikan kepada saudara-saudara yang menjadi sasaran pembagian takjil tersebut. Tahun ini, mereka yang dapat bergembira menerima paket-paket takjilan adalah mereka yang menjadi warga Mesjid Nurul Yakin, yang terletak di perumahan belakang RS AURI “Hassan Toto” Semplak, dan warga Mesjid Jami Ash Sholihin, yang terletak di depan markas Paskhas Semplak, serta warga-warga yang kebetulan melintas di jalan raya depan Gereja St Iglo.

Romo Anton juga tampak mendampingi di tengah-tengah kegembiraan dan kesibukan menyiapkan takjil tersebut sore itu. Bahkan, beliau kemudian rela menjadi “supir Grab cabutan” yang membantu mengangkut dan mengantarkan paket-paket takjilan tersebut ke tempat-tempat sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam salah satu bagian dari doa berkat yang dibawakannya sebelum keberangkatan mengantarkan dan menyerahkan paket-paket takjilan tersebut, Romo Anton sempat menyampaikan bahwa semua ini dilakukan untuk “menciptakan kebersamaan, menjalin kasih dan menunjukkan perhatian sebagai sesama Warga Negara”. Dengan kegiatan berbagi takjil itu diharapkan dapat sungguh tumbuh persaudaraan dan damai di antara Warga Gereja St Iglo dan umat Muslim di sekitar Gereja.

Sekitar pukul 16.30 WIB, setelah semua siap dan rapi, “pasukan” pewarta berkat dan sukacita itu pun diberangkatkan. Membawa pesan damai.  Sekitar 700 paket takjil pun dibawa serta. Tempat pertama yang dituju adalah Mesjid Nurul Yakin. Selanjutnya adalah Mesjid Jami Ash Sholihin. Di Mesjid Nurul Yakin warga Gereja St Iglo diterima oleh Ustadz Endin. Sedang di Mesjid Jami Ash Sholihin warga Gerjea St Iglo diterima oleh Ustadz Muhammad Ali. Pada umumnya, kedua tokoh Mesjid tersebut menyambut dan menerima kedatangan warga Gereja St Iglo dengan tangan terbuka dan penuh persahabatan. Dalam sambutan penerimaannya, mereka menyatakan harapan bahwa semoga yang dilakukan oleh warga Gereja St Iglo hari itu dapat mempererat hubungan di antara kedua warga dari dua agama yang berbeda itu. Dengan takjil, dua hati yang sebelumnya mungkin masih berjarak semakin dicairkan dan dipertemukan. Kita berharap bahwa dengan demikian semoga persaudaraan dan damai itu memang dapat semakin bersemayam di dalam hati semakin banyak warga dari dua kelompok Umat Allah itu.

Setelah selesai menyampaikan “berkat” kepada kedua warga Masjid yang telah disebut di atas, kegembiraan masih belum usai. Acara berikutnya dilanjutkan dengan membagi-bagikan jatah takjil yang masih tersedia –sekitar 300 paket— kepada mereka-mereka yang kebetulan melintas di jalan raya di depan Gereja St Iglo. Kegiatan ini berlangsung cukup meriah, meski kadang tercipta sedikit “kekisruhan”, karena banyak mobil, angkot atau motor yang terpaksa mengerem mendadak dan berhenti untuk menyambut menerima tawaran takjil yang disampaikan umat Gereja St Iglo. Namun, syukur, tak ada hal buruk yang terjadi. Semua berlangsung lancar, meriah dan penuh tawa sukacita.

Kira-kira pukul 17.30 WIB, seluruh paket takjil telah ludes terbagikan. Para peserta penggiat acara “berbagi takjil” pun dapat bernapas lega karena satu agenda acara yang penuh makna di “bulan penuh berkat” ini telah berhasil dilaksanakan. Mereka kemudian berhimpun kembali di halaman Gereja St Iglo untuk melepas lelah. Berfoto-foto bersama, atau sekedar bersenda gurau dan bercakap-cakap di antara mereka.

Sekitar pukul 18.15 WIB, seiring dengan turunnya sang mentari ke peraduan mewarnai temaram senja, satu persatu umat penggiat acara “berbagi takjil” pun meninggalkan halaman Gereja, kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. Membawa serta sebentuk doa dalam hati mereka: Semoga damai di bumi sungguh tercipta lewat apa yang mereka upayakan sore itu……

Semoga berkat Tuhan beserta kita semua. Amin. (*/dack)

3,499 total views, 31 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 29 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022