RD Antonius Dwi Haryanto: DATANG UNTUK MELAYANI

Pengantar

Berdasarkan Surat Pengangkatan No 030/SK-KB/VII/2016 yang dikeluarkan oleh Bapak Uskup Diosesan Keuskupan Sufragan Bogor, Mgr.  Paskalis Bruno Syukur, maka RD Antonius Dwi Haryanto ditetapkan sebagai Pastor Paroki di Paroki Santo Ignatius Loyola – Semplak. Pengangkatan tersebut mulai efektif tanggal 31 Juli 2016 hingga 31 Juli 2020. Keputusan itu sendiri akan ditinjau kembali setelah 31 Juli 2020.

Itu berarti bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan “merah-biru”nya kehidupan Paroki St Ignatius Loyola Semplak mesti, setidaknya, dikonsultasikan dengan RD Antonius Dwi Haryanto. Pengurus Gereja maupun umat seluruhnya diminta untuk dapat bekerja sama dengan beliau jika menyangkut kegiatan “menggereja” di Paroki tersebut.

Sebuah communio (persekutuan umat Paroki St Ignatius Loyola Semplak, misalnya) baru dapat sungguh hidup jika umat dan segala unsur yang terlibat di dalamnya dapat saling berkomunikasi dengan baik. Komunikasi itu sendiri dapat berjalan dengan sempurna jika setiap unsur yang melekat padanya sungguh saling mengenal secara mendalam satu dengan yang lainnya.

Dihitung dari tanggal berlaku efektifnya Surat Pengangkatan tersebut di atas maka itu berarti sudah sekitar 3 tahun RD Antonius Dwi Haryanto hadir dan berkarya di tengah-tengah kita, umat Paroki St Ignatius Loyola Semplak. Pertanyaannya, seberapa jauh kita telah sungguh mengenal beliau?  Ataukah, baru secara sambil lalu saja kita, terutama umat kebanyakan, menanggapi kehadirannya?

Dalam rangka untuk mengenal secara lebih mendalam sosok RD Antonius Dwi Haryanto itu maka beberapa waktu lalu (7 Juni 2019) Tim “Acheropita”, yang terdiri dari Pak Yopi, Bung Didiet dan Mickey Dhadack, melakukan wawancara dengan beliau demi untuk menggali pengetahuan-pengetahuan yang mungkin diperlukan jika kita hendak memahami secara lebih baik sosok beliau yang tersebut di atas itu. Sebagian hasil wawancara tersebut adalah sebagaimana yang kami sampaikan berikut ini. Kami berharap informasi tersebut dapat dibaca oleh khalayak luas umat Paroki St Ignatius Loyola Semplak agar kita dapat lebih saling mengenal sehingga komunikasi di antara kita pun dapat berjalan lebih sempurna dan communio di Paroki ini pun dapat memperoleh kemungkinan hidupnya yang lebih baik.

Sekalipun sederhana, semoga catatan kecil ini dapat berguna juga. Selamat membaca!

Menggembalakan Kambing

Adalah RD (Remendus Dominus) Antonius Dwi Haryanto, Pastor Paroki St Ignatius Loyola Semplak. Umat menyapanya dengan panggilan akrab: Romo Anton. Terlahir di Rangkasbitung pada tanggal 25 Januari 1964 sebagai putera ke-2 dari 6 bersaudara (yang terkecil adalah adiknya yang seorang perempuan) dari pasangan suami-istri Aloysius Wakijo dan Veronica Supadmi, Romo Anton menghabiskan masa kecilnya di Lebak, Rangkasbitung. Ketika itu, ayahnya adalah seorang mantri kesehatan di Perkebunan Karet Cikadu, sedangkan sang ibunda adalah seorang perawat di RSUD Lebak.

Romo Anton mengenang masa kecilnya sebagai masa yang penuh warna. Tanah kelahirannya memiliki kesan mendalam baginya, yang tak pernah bisa dilupakannya. “Ya, bagi saya waktu masih kecil tuh ya ‘senang-senang susah’….senang karena bisa main, seperti layaknya anak-anak kampung itu….suka main bola, berantem….” paparnya sejenak bernostalgia saat ditemui oleh Tim “Acheropita”. Masa kecil Romo Anton berlangsung sekitar tahun 1970-an. “Karena saya masuk SD itu tahun 1971.”

Dulu Lebak belum seperti sekarang: “Ya waktu itu memang samalah dengan kota-kota lainnya….masih kota yang jauh dari hiburan-hiburan….masih sederhana…” Lebih jauh Romo Anton menuturklan, “Dulu bapak saya kerja di perkebunan…perkebunan karet….sebagai mantri kesehatan….jadi mantri kesehatan di perkebunan karet Cikadu….sekarang sudah berubah menjadi PTP XI….” Ia tinggal di lingkungan perkebunan itu sampai masa ketika ia lulus SD. “SD lulus langsung masuk asrama….trus kita pindah….waktu SD tuh…kita pindah ke Kampung Cijalur…itu kalau romo-romo dah tahu tuh….seperti Romo Jeremy….”

Di Cijalur inilah pengalaman paling mengesan baginya itu terjadi: “Karena depan rumah itu kan masih perkebunan karet….sekarang kan perkebunan kelapa sawit….dan yang saya senang, bapak itu kalau sudah punya kambing dia minta saya untuk nernakin…ngangon kambing….pulang sekolah…waktu SD ya….saya ngangon kambing….di Cijalur waktu SD kelas berapa itu….Saya senang menggembalakan kambing itu….saya jagain….sambil baca….kan sambil bawa tikar ya…kambing diikat di pohon karet…terus kalau sudah habis rumputnya, pindah….cari kayu bakar juga….”

Seperti apa gambaran Romo Anton sendiri mengenai masa kecilnya? Dengan sedikit menerawang Romo Anton menuturkan, “Kalau saya sih waktu kecil ya sebagaimana anak-anak kecil ya…badung ya badung….kadang sampai bikin jengkel orang tua….bikin nangis ibu juga pernah….sampai saya nyesel sampai sekarang….karena kenakalan…masih anak-anak ya….bahkan pernah sampai dijewer telinganya, disabet pakai sapu lidi satu batang….pernah….karena angon kerbau, kerbau orang lain….ke tempat yang jauh….akhirnya mandi juga sama kerbau….berenang sama kerbau bersama teman-teman itu juga pernah….dan itu kalau dikenang itu asyik ya…iya asyik….kalau lihat kerbau teringat….saya pernah naik kerbau ya…mandiin kerbau sama teman-teman….mungkin ibu itu kesal ya….gak pulang-pulang sampai sore….” Karena keasyikan itu Anton kecil jadi lupa waktu. Lalu, lanjut Romo Anton, “Iya…mana waktu itu hujan…sampai dijewer telingaku…ditarik ke sumur…ditanya, ‘Kapok nggak?’…saya jawab, ‘Nggak’…Sudah, itu mah luar biasa….” Berkelahi juga bukan hal yang asing bagi Anton kecil. “Kalau berantem ya berantem….apalagi kalau main bola gitu kan….kalau main bola, ya berantem itu….dengan adik pun berantem…saya juga pernah mau kabur dari rumah….”

Panggilan Imamat

Jangan Lupa Jasa Besar Dari Ibunda Tercinta
Jangan Lupa Jasa Besar Dari Ibunda Tercinta

Seorang Pastor memang tidak menikah. Itu bagian dari janji tentang “kemurnian” yang mesti dipikul sepanjang seorang Pastor menjalani Imamatnya. Dan Romo Anton telah menghidupi janji tersebut seumur hidupnya. Tapi, bukan berarti beliau tidak punya “pengalaman” sedikit pun “dengan wanita”. Saat ditanya apakah ia pernah pacaran atau tidak, sambil tersenyum-senyum, ia pun menjawab, “Pacaran? …. pernah dong … saya itu pacaran maksudnya gini … kayak “kera” itu ya … kenakalan remaja … waktu SD juga pernah … waktu itu kan suka gini: eh, ada salam dari si ini … saya juga senang … pura-pura marah … ah, apa sih lu … sampai gak ngomong sama cewe itu … ya, kalau pacaran sih pernah … dengan anak haji (juga) pernah … di seminari itu …” Bahkan, bukan hanya sekali dua Romo Anton menjalin hubungan asmara dengan “mahluk” bernama “perempuan” itu. Lanjut Romo Anton, “Pernah beberapa kali pacaran kalau dihitung-hitung … sama anak muslim … masih saudaranya juga … terus terang … karena orang tuanya sama saya juga baik … jadi percaya gitu kan …”

Nyatanya, di kemudian hari, Anton Muda memilih jalan hidup yang lain. Ia tidak memilih jalan hidup berkeluarga, melainkan menjawab panggilan hidup sebagai seorang Pastor. Tapi, kapankah “panggilan Imamat” itu mulai dirasakannya?

“….. sebenarnya gini ….. kalau ditanya soal kapan panggilan itu ada, saya tertarik untuk menjadi pastor … pater itu … waktu saya SD … kalau Ibu ke Gereja … pulang dari Gereja itu beli biscuit semacam biscuit Regal atau Roma … iya kan … anak-anak dibagi … kemudian aku ambil sarung dan aku ikat di sini … terus membagikan … Tubuh Kristus, Tubuh Kristus … biasa kan sama kakak adik … terus biasa kan … punyaku habis … terus biasa kan … punyaku habis … terus minta lagi … bagi dong, bagi dong … ya, semacam itu … itu waktu masih SD …”

Waktu itu, laku Anton Kecil bermain jadi romo-romoan, bagi biskuit ke kakak adik bagaikan bagi komuni, mungkin baru dirasakan sebagai sekedar gurauan, meski sebagai gurauan, itu adalah gurauan yang membekas dalam pada diri Romo Anton. “Ya, waktu itu juga ditanya sama pastor tua, Pastor Vermullen…’kamu itu kalau gede mau jadi apa?’…’jadi pastor aja lah’ … ya nggak ada cita-cita yang lainnya … terus kemudian sudah itu sampai lulus SD nggak inget lagi … lulus … lalu saya masuk SMP … SMP saya di asrama.”

Setelah lulus SD, Anton Muda bersekolah di SMP Mardi Yuana. Karena letak sekolah jauh dari rumah, Anton Muda memilih untuk tinggal di asrama milik pastoran yang ada di sana. Masa-masa SMP dilalui nyaris tanpa ada pembinaan khusus yang berkaitan dengan cita-citanya pada suatu masa di Sekolah Dasar dulu. “… terus kemudian SMP biasa, ya, kenal cewe-cewe juga kan … nggak inget kalau mau jadi pastor … nggak inget …” Kalau ada yang seperti tetap mempertautkannya dengan cita-citanya semasa kecil dulu maka itu adalah kunjungan dan sapaan dari pastor-pastor Belanda yang sering berkunjung ke asrama tersebut serta ketekunannya untuk melayani Tuhan di Gereja “…seringkali asrama itu dikunjungi oleh pastor-pastor Belanda … pastor Fransiskan … suka nanya-nanya … saya juga setiap hari itu misdinar  … karena kan pastoran dengan Gereja hanya nyebrang aja … dari jalan itu … kemudian tiap pagi saya bantu pastor itu untuk misa harian … jadi misdinar saya … di situ juga suka ditanya ‘kamu mau jadi pastor?’ … ‘Ya, oke lah.’ …”

Titik terang sekaligus hal “menggelikan” terjadi dan mulai memancar saat Anton Muda lulus SMP. Romo Anton menguraikannya demikian, “… selesai lulus dari SMP kan waktu itu Romo Harjono juga ada di situ … terus ditanya sama Romo Harjono …’Ton, kamu lulus ini mau kemana? SMA?’ … ‘Iya, Romo.’ …’Kamu nggak mau masuk Seminari?’ … terus aku tanya, ‘Seminari itu apa?’ … kan nggak tahu … dulu kan nggak kayak sekarang … seminari tuh ini … dulu nggak …”

Jadi hingga saat lulus dari SMP, Anton Muda belum pernah dengar yang namanya “Seminari”. Cetus Romo Anton, “Lulus SMP tuh belum tahu Seminari tuh apa … gak ada yang ngarahin …. trus kemudian ditanya sama Romo Harjono, ‘Mau masuk SMA atau Seminari’ … Aku tanya, ‘Romo, Seminari itu apa?’ …. Seminari itu untuk calon imam, calon romo’ … ‘Ya udah, saya mau itu aja’ … saya langsung, ‘Itu aja Romo…saya mau…’ Karena saya masih di asrama kan … karena Romo Harjono kan tinggal di pastoran itu juga … sebagai pastor rekan … terus kemudian ‘Ya udah, … kalau kamu mau masuk seminari…bener nih?’  … ‘Iya’ … ‘Kan itu untuk calon romo?’ …. ‘Ya udah kamu bilang sama Bapak sana, pulang’ … ya toh….karena itu kan dari asrama ke rumah … harus pulang … naik angkot lah … terus saya bilang sama Bapak, cerita sama Bapak sama Ibu…saya bilang, ‘Pak aku tuh mau masuk seminari’ … padahal Bapak waktu itu juga gak tahu seminari itu apa … ‘Mau jadi romo pak…jadi masuk seminari’ … ‘o ya, bener? … ‘Iya’ … ‘Ya udah … ayo …’ Mendukung … langsung aja mendukung…”

Kedua orang tua Romo Anton kala itu antusias mendukung niat dan minat Anton Muda untuk menjadi seorang Imam. Apakah itu karena mereka masih punya saudara-saudara Anton Muda yang lain sehingga mereka rela “melepas” kepergian Romo Anton? Mengenang itu Romo Anton tertawa terbahak sambil menjelaskan, “Masih ada empat … hahaha … tapi sebenarnya memang prinsip bapak ibu saya itu … akhirnya saya tahu … terserah kalau memang Tuhan mau memanggil semua juga silahkan … mau jadi romo mau jadi suster silahkan … terus akhirnya saya dikasih waktu … terus ada pendaftaran Seminari … terus saya ke Bogor sama Bapak … ditemenin Bapak …terus saya ketemu Romo Jarwo … mendaftarkan diri ke Seminari … terus kemudian akhirnya diterima di situ … diterima …”

Krisis Panggilan

Berjalan di jalan Tuhan memang membesarkan hati. Itulah yang dijalani dengan penuh iman oleh Romo Anton. Tapi itu bukan berarti lalu ia tak pernah menemui masa sulit sedikit pun. Begitulah pula yang dialami oleh Romo Anton. Dalam perjalanan Imamatnya ia pun pernah merasakan adanya “Krisis Panggilan”. Hal itu terjadi saat ia berada di Seminari Tinggi. Mengenai hal ini Romo Anton menjelaskan, “Belum jadi Romo … masih jadi frater … krisis panggilan …. terus terang aja saya waktu itu gelisah … gimana … kenapa … saya merasa bahwa saya tidak pantas … bahwa saya tidak layak … terus terang aja saya ceritain …. ke teman sekamar … yang sekarang jadi uskup … Mgr Tri … saya ceritain … Nyil, kok gue  … gue keluar aja ya …. kenapa? …. Iya, kok gue ngerasa gak pantas ya … nggak layak untuk jadi pastor atau romo …. ah, nggak lah …. Ya, kamu tuh talentanya ada … kamu bisa bergaul dengan siapapun … dari yang kecil sampai yang tua … dari tukang becak sampai …. kamu kenal semuanya … dia perhatikan ya …. ah, gak ah … gue keluar aja … .trus udah gitu saya konsultasi dengan pembimbing rohani saya … suster …. waktu itu suster … ah siapa itu ya … orang Amerika ….”

Lebih jauh Romo Anton memaparkan, “Suster dari Maryknol dia … ya …. dari Amerika … tapi dia juga ngajar di FF (Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, pen.) …. saya pernah krisis seperti itu …. Eh, kemudian suster itu juga bilang …. dia kan sebagai pembimbing rohani saya … Anton, kamu saya lihat, kamu tuh kenal dari angkatan bawah…di kampus … sampai ke angkatan atas … kamu kenal semuanya …. kamu dikenal oleh mereka … kamu akrab dengan mereka … ini kalau jadi pastor, ini bagus kamu … masih kurang puas … iya toh … akhirnya datang ke uskup … waktu itu …. rektor di seminari tinggi … Mgr Nicolaus Geise … saya ngobrol … Mgr, saya pengen keluar …. kenapa? … saya gak layak dan pantas rasanya untuk jadi romo gitu … eh, gini Anton … saya jadi uskup bukan kemauan saya sendiri …. dan saya juga merasa tidak layak … dan pantas … tapi Tuhan yang memilih saya untuk menjadi uskup …. dari situ saya mikir … tapi ah, saya mau pulang aja deh …. saya mau ngomong sama orang tua … akhirnya saya pulang …. ke Rangkas, ketemu bapak ibu … trus kemudian waktu itu bapak ibu mau ke … ke Goa Maria … biasa, rutin ke Goa Maria gitu kan …. trus kemudian saya ceritain … Pak, Bu, saya tuh mau keluar dari romo …. kenapa? …. saya ngerasa tidak layak dan pantas … saya merasa seperti itu … lalu bapak ibu bilang … itu panggilanmu … terserah … terserah kamu …. kalau kamu mau keluar ya terserah … kamu juga anak bapak, anak ibu …. kalau kamu terus juga masih anak bapak ibu … bapak ibu hanya bisa berdoa … dan itu panggilan kamu, jadi romo … terserah, kamu pikirin aja …. terus akhirnya … waktu itu di rumah gak ada siapa-siapa … hanya bapak ibu dan saya …. waktu pulang … trus kemudian … dan ternyata mungkin bapak dan ibu doa semaleman … saya gak tahu lah … pokoknya tidur pulas … lalu bangun pagi-pagi … mandi cepet-cepet … Pak, Bu, aku pamit ya, ke Bandung … berangkat lagi … karena bus itu kan lewat jalan raya depan rumah gitu ya … trus Bapak tanya, gak jadi keluar? … nggak, gak … nggak jadi ….hahahaha…..gak jadi, Pak … dari saat itu sampai sekarang …. gak pernah ada lagi krisis panggilan …. jadi pokoknya, saya juga heran … iya to … ternyata kekuatan doa dari orang tua itu yang luar biasa juga … yang membuat saya sampai akhirnya ditahbiskan … .dan dukungan dari mereka itu sangat luar biasa….dan kalau ditanya apakah merasa bahagia … itulah seperti itu … ternyata bahwa bantuan doa-doa dari berbagai … dari keluarga … dari orang tua … itu sangat dahsyat … terus terang aja … itu secara spontan saya bilang ya udah saya mau berangkat lagi …. ya udah … nggak jadi? … nggak … .itu udah deket bus tuh … bapak ngejar … bener nih … iya pak …. daaah, sampai ketemu lagi …. ya udah … cium tangan sama ibu bapak trus naik bus …. udah dari situ sudah tenang….”

Semenjak itu, demikian diakuinya, Romo Anton merasa tidak pernah lagi mengalami “Krisis Panggilan”. Bahkan jika tengah mengalami problem-problem berat, ia hanya menganggapnya sebagai “tantangan saja”.

Misa Syukur 25 Tahun Presbyterat RDA

Menggembalakan Umat

Pemberian Ulos Kepada RD Antonius oleh Komunitas Batak di Ignatius Loyola

Tanggal 11 Juni 1994, Romo Anton ditahbiskan di Bogor oleh Mgr Leo Sukoto. Petikan Injil yang dibawanya sebagai motto tahbisan adalah “Anak manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani” (Markus 10 : 45). Sejak itu, Romo Anton resmi dan sah menjalani hidup sebagai Gembala Umat.

Berbagai tempat di Keuskupan Bogor telah pernah diselaminya dalam kapasitasnya sebagai “hamba Tuhan yang setia”. Sebut saja: Paroki Keluarga Kudus Cibinong, Paroki St Markus Depok, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Kota Wisata, dan Paroki Hati Maria Tak Bernoda Cicurug Sukabumi. Hari-hari ini, ia tengah menikmati tugas kegembalaannya sebagai Pastor Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor.

Ketika ditanya apa kesulitan dalam menggembalakan umat, Romo Anton menjawab singkat: “Kalau umat ngeyel…” Tapi, oleh sebagian umat sendiri sebenarnya Romo Anton itu sering dianggap sebagai romo yang cukup “cerewet”. Untuk pelbagai hal yang berkaitan dengan Perayaan Ekaristi ia dapat disebut tergolong “perfeksionis”. Sehubungan dengan persoalan ini Romo Anton punya tanggapan tersendiri: “Eh…saya melihat…ya…melihat…ada semacam bahwa umat terlena dengan keenakan…maaf ya…keenakannya dalam hal apa…seakan-akan bahwa ya sudah datang ke gereja…iya kan…hanya sebagai kewajiban…atau sebagai rutinitas…ah minggu ini gue harus ke gereja…iya kan….dan itu juga kemudian seakan-akan…ya sudah, itu sudah mencukupi…nah, saya yang melihat hal seperti itu…dan saya diajarkan…dalam ajaran-ajaran itu kan….dan bahkan dalam pengalaman…saya gak mau umat menjadi seperti itu….datang ke gereja hanya sebagai kewajiban…atau hanya sebagai formalitas…tapi lebih kepada bahwa aturan-aturan dalam gereja tuh apa sih…atau dalam misa…misalnya ke gereja itu kan nggak boleh terlambat…ada yang lebih perfeksionis lagi… itu gereja tutup…kalau udah waktunya misa…tutup…seperti di Timor Leste…yang mayoritas katolik…adik saya tentara…harus nunggu…nunggu yang nanti…kenapa…karena itu sudah waktunya misa…tidak boleh ada yang datang terlambat…kalau orang dengar mungkin oh itu terlalu…sebenarnya itu adalah menyadarkan umat bahwa tujuan kita ke gereja itu untuk ketemu Tuhan…bukan dengan segala macam…ah, udahlah…kalau udah terima komuni kudus sudah lah…nggak seperti itu…dalam ajaran gereja nggak seperti itu….nggak sah…harus mulai dari awal…sampai berkat penutup….tanya Romo Driyanto…” Ia paling miris bila menemukan umatnya berpakaian “you can see….belahan dadanya segini….pakai sendal….”

Dari mulai Tata Cara Perayaan Ekaristi hingga soal cara berpakaian “yang benar”, Romo Anton memang tak pernah bosan mengingatkan umat mengenai apa yang terbaik untuk dilakukan. Dijabarkannya pula, “Ya…semacam itu….dan banyak orang yang akhirnya tersadarkan…betul juga ya romo…soal cara berpakaian…orang mengatakan Romo Anton cerewet, bawel…tapi yang penting saya sudah menyampaikan seperti itu….dan puji Tuhan kan sekarang ini banyak yang ke gereja berpakaiannya rapi, sopan….tapi orang yang berpakaian tidak rapi dan sopan itu bukan orang sini…saya tahu bukan orang dari paroki sini…karena tidak pernah mendengarkan seperti itu….terus terang aja…ada pengakuan dari anak OMK…Orang Muda Katolik di paroki lain…saya tegur…lu mau misa atau mau jalan-jalan…pake kaos, pake celana jeans, pake sandal…lu kalau ke pesta ulang tahun, ke pesta perkawinan gimana…saya gitukan…gaya anak muda ngomongnya…ah….mau ketemu Tuhan gimana…okelah bahwa Tuhan itu sahabat kita…Tuhan itu sudah nganggap kita itu sahabat…tapi kebangetan lah kalau sahabatnya gitu kan…hormatilah Dia juga….yang ngundang kamu…akhirnya dia ngaku juga….orang-orang dari gereja lain rapi berpakaiannya kalau ke gereja…orang-orang yang mau ke mesjid juga ….kita sebagai orang katolik kok tidak ada perasaan sebagai orang yang disapa … dan itu banyak juga yang seperti itu…yang tadinya tersinggung akhirnya….akhirnya mikir….itu ada kan…dalam pesta itu ada yang berpakaiannya tidak pantas…ya semacam itulah…kalau kita itu datang ke gereja terlambat…pulang cepat….misa itu sah kan kalau dari awal sampai berkat penutup….dan banyak pastor…maaf nih…banyak pastor yang tidak berani menegur….ya gak tahu…kalau saya dari kecil sudah diajarkan hal-hal…saya gak punya dulu…ke gereja…karena gak punya sepatu…orang sekolah aja nyeker…saya ke gereja pake sandal jepit…tapi saya berpakaian rapih….meskipun gak bagus…dari situ saya tertanam…” Pendeknya, Romo Anton ingin agar umatnya memakai dan melakukan yang terbaik yang mereka miliki.

Sementara ketika ditanya soal penilaian dirinya mengenai umat St Ignatius Loyola Semplak, Romo Anton menjawab, “Ya karena umat di sini kan….artinya paroki ini kan paroki baru…paroki baru…ya sekarang mungkin 4 tahun….dan tadinya saya mungkin juga merasa berat banget…ya to…berat banget…. kenapa saya katakan berat …. karena mungkin selama ini umat paroki ini lebih condong kan tergantung pada Katedral…ya kan..nah untuk kemudian…berdikari…atau menjadi paroki itu memang membutuhkan satu kesadaran dari umat…ya…kesadaran inilah yang sebenarnya kemudian…memang…harus disadarkan benar-benar…artinya diingatkan bahwa umat di paroki ini bukan lagi umat wilayah…tapi umat paroki…yang harus berdiri sendiri…segala sesuatunya berdiri sendiri…bukan berarti kemudian kita tidak ada kerjasama atau tidak ada keterkaitan dengan paroki-paroki lain…tapi bahwa segala urusan-urusan keparokian itu harus di….nah ini yang sebenarnya nggak gampang…”

11 Juni 2019 RD Antonius Dwi Haryanto sempurna menjalani 25 tahun Tahbisan Presbyterat-nya. Waktu terus bergulir. Masih ada mimpi-mimpi Romo Anton yang belum terwujud. Kita doakan supaya beliau senantiasa dianugerahi kesehatan dan cahaya Roh Kudus agar dapat tetap tegar dan setia mengarungi Imamatnya serta sanggup untuk terus menerangi hidup umat yang digembalakannya. Amin! (*/yopi/didiet/dack)

359 total views, 17 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 29 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022