MENULIS

oleh: Michael Dhadack Pambrastho

 

 

Di akhir karyanya, Tractatus (1921), Wittgenstein mengucapkan sesuatu yang menjadi terkenal, yaitu: “Tentang apa yang tak bisa kita bicarakan, kita harus diam”. Ucapan yang tajam dan mengandung kebijaksanaan tertentu dengan kedalaman yang bisa jadi tak terbilang. Ucapan ini mungkin bisa kita hadapkan kepada mereka-mereka yang terlanjur senang omong dan menganggap segalanya “bisa”, “mudah” dan “harus” dikatakan. Padahal kita tahu, kegemaran mengobral omongan seringkali adalah justru tanda kedangkalan. Dan, itu bisa jadi membuat mual subyek lain yang menjadi rekan berbincang. Tetapi, bagaimana dengan kategori manusia yang lain: yang memakai ucapan Wittgenstein itu sebagai kedok untuk bersembunyi atau lari dari kewajiban untuk bicara? Untuk bersaksi? Tidakkah ucapan Wittgenstein itu justru dapat dipakai sebagai alat pembenaran bagi sikap-sikap “tak acuh”, “kerendahhatian yang salah tempat”, ketidakpedulian, kebodohan-kedunguan-ketololan, atau mungkin juga ke“pengecut”an?

Soal-soal ketuhanan, penghayatan iman, pengalaman-pengalaman mistik-keagamaan adalah beberapa contoh bidang-bidang yang ambigu. Di satu sisi, bidang-bidang itu memang kerap tampil “takterbahasakan”. Di hadapan mereka kita cenderung melulu terpana dan hanya bisa “diam” membisu. Di sisi lain, kemajuan hidup religiusitas kita seringkali hanya bisa tumbuh, meningkat kualitasnya dan berkembang kuantitasnya karena didorong, bertumpu dan disandarkan pada pengalaman kita terlibat –membaca atau mendengar dari orang lain atau juga mengucapkan sendiri— dalam berbagai “kesaksian” mengenai berbagai bidang yang ambigu itu tadi. Artinya, lewat bahasa kita lahir, tumbuh dan berkembang. Sebagai manusia, pertumbuhan dan perkembangan ruh kita ditentukan oleh banyak-sedikitnya, berkualitas-tidak berkualitasnya “omongan” (omongan orang lain atau pun omongan diri kita sendiri) yang kita serap. Lewat omonganlah –lisan atau pun tertulis— kedewasaan kita sebagai manusia (juga, atau malah terutama, dalam hal-hal rohani) menjadi mungkin tercapai atau malah mampat dalam kenaifan yang terbilang terbelakang dan konyol.

Sebelum diangkat ke surga Yesus memberikan sebuah amanat agung: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat 28: 18-20). Yesus mengajak kita untuk berani keluar dari diri kita, untuk “pergi” menghadapi semua bangsa, menjadikan semua bangsa murid Yesus, membaptis dan mengajar mereka. Kita diajak atau diminta untuk berani dan sanggup memberikan “teladan”, “kesaksian” dan “pengajaran”. Teladan, kesaksian dan pengajaran, kita sama tahu, bisa disampaikan dalam bentuk “omongan” bisa dalam bentuk “perbuatan”.

Yesus mengajari dan kemudian meminta kita untuk memberi teladan, kesaksian dan pengajaran. Yesus mengajari dan kemudian meminta kita untuk berani “omong” dan “berbuat”. Yesus mengajari dan kemudian meminta kita untuk “berbahasa”. Pertanyaannya sekarang: apakah kita telah cukup memahami Yesus dan memenuhi permintaan-Nya itu secara cukup memadai?

Kalau kita perhatikan, Gereja Santo Ignatius Loyola Semplak ini sudah punya bangunan Gereja yang terbilang megah. Jumlah kelompok koor terus bertambah. Hiasan altar dalam setiap Perayaan Ekaristi senantiasa semarak dan semerbak. Kegiatan umat pun warna-warni, senantiasa bergelombang sepanjang waktu. Di titik ini, kita boleh mengatakan bahwa kita sudah cukup banyak “berbuat”. Tetapi, bagaimana dengan “omong”, lisan ataupun tertulis? Apakah kita sudah cukup merefleksikan segala perbuatan kita dan mentransformasi berbagai penggal pengalaman religiositas kita menjadi titik-titik renung yang linguistis, sistematis, dan inspiratif?

Kalau patokannya adalah media cetak elektonik “Acheropita”, barangkali jawabannya adalah negatif. Umat (dan ini merujuk pada keseluruhan warga Gereja St Ignatius Loyola Semplak: warga biasa, ketua lingkungan, ketua wilayah, pengurus DPP/DKP, dan sebagainya itu) mungkin sedikit banyak sudah tergerak untuk melirik dan membacanya. Tapi jumlah yang sanggup dan bersedia menyumbangkan tulisan, boleh dibilang, masih amat jauh dari yang diharapkan. Budaya dan kerja “omong” –terlebih omong lewat tulisan— rupanya masih amat terbelakang.

Kita mungkin lalu bertanya: apa sebenarnya yang terjadi? Bukankah sebagian terbesar warga Gereja St Ignatius Loyola Semplak adalah bagian dari “kelompok terdidik” yang sebenarnya daripadanya dapatlah diharapkan munculnya tulisan-tulisan yang “menyentuh” dan “menggerakkan”???

Nyatanya, banyaknya orang yang mengenyam pendidikan tak berbanding lurus dengan jumlah produksi tulisan di dalam komunitas tersebut. Itu bisa terjadi dalam skup nasional maupun daerah. Meminjam uraian Agus R. Sarjono saat mengomentari tentang lemahnya daya kaum terdidik kita (Indonesia, pen.) dalam hal bahasa, ia menyebut bahwa hal itu terjadi karena “memang kaum terdidik Indonesia masih tinggal sebagai kaum terdidik yang ‘buta huruf’. Nyaris semua waktunya habis digunakan untuk berdesakan dengan pembantunya di depan TV menikmati paha, pembunuhan, balas dendam dalam film, serta cinta yang ruwet, berbelit, dan tidak masuk akal dalam telenovela.” (“Bahasa dan Bonafiditas Hantu”, h. 29-30).

Dalam konteks paroki kita, masalah kesenjangan antara dimensi “omong” dan “berbuat” itu mungkin bisa lebih parah. Santo Hieronimus mengatakan, “Sebab tidak mengenal Alkitab berarti tidak mengenal Kristus.” Langkanya tulisan di media “Acheropita”, terutama yang berkaitan dengan iman dan spiritualitas, jangan-jangan menunjukkan betapa kita tidak sungguh mengenal “Yesus”. Dan itu terjadi mungkin karena kita memang hampir tidak pernah membaca Kitab Suci, atau: kita memang ambigu, mendua: menganggap penting masalah agama dengan berbagai aksi kita “berbuat” ini dan itu sekaligus melecehkan soal iman sebagai hal yang tak terlalu pantas diperhatikan dan dibicarakan (di”omong”kan). Semacam kepribadian yang terbelah. Schizophrenic!!!

 

 

Semplak, 5 Oktober 2019

 

 

 

657 total views, 7 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 31 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022