Ke dalam Tangan-Mu Kuserahkan Jiwa-Ku*

oleh: Yan Sunyata, OSC**

 

 

Mistik sekarang ini sedang mengalami inflasi. Gejala paranormal, ekstase, visiun, halusinasi sering ditempeli sebutan mistik. Bahkan oleh kalangan psikologi dan sosiologi. Padahal mereka yang disebut kaum mistisi menganggapnya sebagai embel-embel, menyikapinya secara kritis. Mereka tidak menggandrunginya juga.

Salib dan mistik tentu ada kaitan. Sebelum kita menentukan hubungannya, kita amati dahulu mistik itu apa. Baru sesudah itu kita melihat salib sebagai peristiwa mistik.

 

I. MISTIK

 

  1. Doa

 

Mistik itu apa? Mistik itu kerinduan yang menggebu-gebu untuk mencapai persatuan dengan Allah. Dalam tradisi Katolik, mistik itu terutama ditempatkan dalam bidang doa kontemplatif. Dalam doa yang intensif dan mendalam, orang dapat mengalami kehadiran Allah. Pengalaman itu merupakan tingkat tertinggi kegiatan doa. Di dalam doa level teratas ini manusia menikmati Allah. Allah tampil sebagai sumber segala, Ilahi, menyerap manusia dengan rasa bahagia serta damai. Manusia mengalami dirinya terangkat dari dunia, unsur waktu dan tempat untuk sementara tidak berperan. Ia tercebur dalam samudera cahaya dan kebaikan, kelembutan dan kerelaan.

Doa kontemplatif di sini berarti doa yang melihat Tuhan, yang langsung menyentuh kebenarannya yang biasanya dibungkus dalam ayat suci, doktrin dan dogma, dikemas dan dipendam dalam gagasan dan simbol. Sentuhan langsung yang datang menyambar itu membuat manusia bergetar dan bergerak menggedor-gedor sekat yang masih ada, memburu kebenaran yang terus menerus memanggil dan menawan. Seluruh diri dan hidupnya dipikat dan diisi, dan karenanya meruncing pada kebenaran yang pernah menyentuh dirinya.

 

2. Pengalaman

 

Persatuan dengan Sang Ilahi merupakan pengalaman. Dalam pengalaman ini manusia dicabut dari gaya berat kejasmanian, diterima masuk dalam alam rohani, dunia Ilahi. Ia berada dalam pelukan Sang Ilahi.

Pengalaman itu dapat berlangsung in ictu oculi (sekejab mata, Agustinus) atau berjam-jam, diiringi meredanya kepekaan badan, atau timbulnya semacam kekebalan (Katharina dari Siena). Manusia yang mendapat pengalaman itu merasa “tenggelam dalam samudera kedamaian” (Katharina dari Siena), berada dalam “firdaus cinta yang murni” (Katharina dari Genua), di sana “Allah melakukan segala, manusia diam saja” (Theresia dari Avila, Elisabeth de la Trinité), maka manusia bersatu dengan Allah tanpa medium, “tanpa beda, tanpa selisih” (Ruusbroec).

Persatuan manusia-ilahi itu boleh kita hubungkan dengan gagasan advaita. Dua tetapi satu, satu tetapi dua. Paradoks ini harus tetap kita pegang dalam menyimak pengalaman mistik. Gregorius dari Nyssa (abad ke-4) sudah mengatakan, bahwa relasi antara Allah dengan manusia itu bagaikan relasi pengantin baru, intim dan total. Bagi orang yang belum pernah mendapat pengalaman mistik, itu kedengaran aneh, tidak masuk akal. Itu terbukti dalam sejarah Gereja waktu misalnya Meister Eckart dituding sebagai seorang pantheis. Persatuan itu terjadi dalam la noche oscura, malam gelap, kata Yohanes a Cruce. Dan situasi itu sudah gelap sekaligus terang. Suatu kontradiksi linguistik. Dalam artian, di samping mengandung dua unsur berlawanan, itu memang mustahil diekspresikan, tidak mungkin diperkatakan atau dibahasakan.

Dalam pengalaman mistik “aku” pun mulai redup bahkan padam. Hanya ada Allah saja, “Aku hilang” (Bernardus dari Clairvaux), tidak ada perbedaan antara Allah dengan substansi “aku”, segala adalah Allah (Yuliana dari Norwich). Pengalaman mistik itu memiliki tiga tahap: [1] tahap kesadaran yang kita sebut dengan doa kontemplatif; [2] tahap membatin, yang kita lukiskan sebagai persatuan ala advaita: satu tapi dua, dua tapi satu; dan [3] tahap kembali pada kehidupan sehari-hari, rekonstruksi diri dan kehidupan.

 

3. Syarat

 

Seorang mistikus yang menerima pengalaman berharga itu bukan orang yang hanya tinggal termangu dan termenung. Sebagai jalan yang harus dititinya menuju pengalaman itu, kehidupannya tidak lepas dari puasa dan mati raga, siap-siaga menanti kedatangan Tuhan. Hidupnya jelas tidak boleh buas dan liar. Ia harus juga melepaskan diri dari ikatan-ikatan dengan dunia yang menjadikannya budak dunia. Dan sesudah pengalaman itu ia kembali ke dunia dengan kebebasan yang lebih murni dan sejati. Seorang mistikus memang berada dalam dirinya yang paling dasar, dalam Seelengrund, di lubuk dirinya. Sekaligus juga ia bersibuk berbelas kasih kepada sesama di permukaan hidup. Sikap dan perasaan berbelaskasih kepada sesama, itulah checkpoint-nya. Sangat dekat dengan Allah, sang maha pemikat, sekaligus sangat dekat dengan sesama yang masih berlumuran dosa dan derita.

Meskipun pengalaman itu membuat manusia mengatasi dirinya, melejit keluar dari situasi dan kondisinya sebagai manusia, l’homme passé infinement l’homme (B. Pascal), toh kemanusiaannya harus dijaga jangan sampai oleng atau sempoyongan. Maksudnya, fungsi nous, akal atau rasio tetap harus berjalan. Kontrol dan interpretasi rasio tetap mengawal. Demikian juga peran pemimpin rohani tidak boleh diabaikan. Segenap kaum mistisi besar patuh dan taat kepada pemimpin rohani yang kebanyakan memang ahli teologi. Mistik Katolik memiliki tiga titik pusat, yakni Kristus, Kitab Suci, dan wibawa yang mengawal.

Ditakar dengan pengalaman Kristus, mengacu dan berdasar pada pengalaman Kristus, pengalaman mistik mempersatukan manusia dengan Allah melalui, di dalam, dan berkat Kristus. “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan-Nya” (Mat 12:27). Dan Yesus yang tidak terlewatkan dan tak terlangkahi itu mencanangkan, kehadiran Allah atau Kerajaan Allah di dunia terombang-ambing antara sudah dan belum. Polarisasi antara sudah dan belum ini berkecamuk pula di lubuk hati para pengikut Yesus. Dan seperti diri-Nya, Ia mengajak para pengikut-Nya agar terus menerus mencari kehendak Allah, impian dan cita-cita Allah, jalan menuju kehadiran Allah. Untuk itu, tentu dengan inspirasi dan kondisi jaman ini: individualitas, kreativitas, demokrasi.

 

4. Cinta, dan Karenanya Mendengarkan

 

Mistik menempuh jalur pribadi. Mistik menerbitkan hubungan timbal-balik di bidang personal. Maka terpantiklah puncak intensitas relasi antar pribadi, yaitu cinta. Dan cinta memang membawa nikmat dan kegembiraan, pada tingkat rohani maupun jasmani. Kehadiran Sang Pencinta dirasakan mengherankan dan mengasyikkan.

Namun seperti cinta pada umumnya, mistik juga tidak lolos dari rasa kosong, sepi, hambar. Terutama kalau Dia tidak ada. Sebenarnya itu tidak mengapa. Karena seorang mistikus atau mistika tetap berdoa, tetap melakukan aktualisasi iman meskipun dikepung kegersangan afeksi dan imajinasi. Pokoknya, tetap dan selalu menantikan kedatangan Sang Pencinta. Kedatangan itu tidak bisa tidak tentu berlangsung dalam apa yang kita sebut peristiwa bahasa.

Ia berbicara, bersabda. Dan sabda-Nya itu lembut, sekaligus melengking. Untuk dapat menangkapnya diperlukan sikap yang mampu menembusi sound of fury dunia, bahkan diskursus religius. Mendengarkan sabda Tuhan adalah menangkap kehadiran Sang Ilahi dalam bahasa. Itu tidak terjadi sembarangan. Kalau boleh disebut tempat, menurut teori Morados (Theresia dari Avila) sabda Ilahi itu hanya terdengar di suatu pusat jauh di dalam inti pribadi kita. Tempat itu disiapkan melalui desentralisasi dan sekaligus konsentrasi. Melepaskan apa yang mengisi diri kita dan mengejar Sang Pencinta. Karena tempat itu berada di pusat subyek, maka terjadi internalisasi. Wahyu yang sudah ada, menjadi milik dan pesan pribadi, subyektifikasi. Meresapkan lambat-lambat. Hasil yang lain, manusia makin mengenal dan memahami dirinya. Juga, karena harus memperkatakan apa yang mustahil diperkatakan, jadi usaha yang sulit dan njelimet, maka banyak mistisi kemudian tergolong sastrawan yang genius, ikut menyumbang pada khazanah bahasa religius maupun sastra pada umumnya.

Kendati besar sekali sumbangannya, sastra mistik ini diperkirakan tidak akan mengalir lagi. Suatu saat akan mongering, berhenti. Menurut A. Vergote, ahli filsafat, teologi, dan psiko-analisa, sastra mistik itu, seperti nasib sastra kenabian, mungkin sekali akan stop.

 

 

II. MISTIK DAN SALIB

 

  1. Yesus Bukan Seorang Mistikus

 

Dibekali catatan tentang mistik yang tidak lengkap, kita akan menyoroti peristiwa salib. Kita melihat-lihat kaitan antara salib dengan mistik. Salib adalah Yesus Kristus. Salib adalah gurat terdalam dan terpenting dari identitas Yesus.

Yesus bukan seorang mistikus. Ia tidak memiliki ciri yang sangat khas bagi seorang mistikus. Ia diberitakan jarang berdoa. Dari lain pihak, Ia mendorong para pengikut-Nya agar berdoa terus-menerus. Kalau pun Ia berdoa, itu hanya dan melulu agar Ia dapat melaksanakan kehendak Bapa. Permohonan lain tidak ada. Seluruh hidup-Nya merupakan pergaulan yang intens dengan Bapa, segenap hembusan nafas-Nya adalah saat tepat, kesempatan emas untuk membuat keputusan eksistensial demi Kerajaan Allah, kairos.

Kaum mistisi mengerahkan energi yang ditumpuk dalam libido untuk mengejar Allah. Unsur afeksi, imajinasi dan kekuatan intelektual digunakan. Daya-daya yang bersifat manusiawi, fana, tidak lepas dari kesalahan, keruh. Kehidupan seorang mistisi senantiasa dibauri derita dan sekaligus harapan, karena Sang Kekasih datang dan pergi, tidak mungkin ditambat oleh hati secara tetap. Itulah kerinduan yang menggebu, yang tetap merasuk dan menderas. Dan itu justru tidak ada pada Yesus. Orang yang membaca Injil mendapat kesan, betapa sempurna, sederhana, dan spontan pertautan Yesus dengan Tuhan.

Persatuan dengan Allah itu bukan milik yang ditahan untuk kebahagiaan-Nya sendiri, melainkan diteruskan kepada manusia, terutama yang lemah dan kata orang: tidak layak, bagaikan banjir cinta  dan kebaikan ilahi yang mewah melimpah. Cinta Ilahi berada tetap pada Yesus, bukan kadang-kadang datang, kadang-kadang pergi. Kerinduan dan kepuasan kepenuhan afeksi tanpa henti bolak-balik berbalasan. Yesus sudah berada dalam Kerajaan Allah, terus-menerus berada dalam pelukan Bapa. Maka, ini kesimpulan A. Vergote, Yesus itu mistikus tanpa kerinduan mistik. Le mystique sans desir mystique. Ia mengalami senantiasa kehadiran cinta Ilahi. Ia tidak mengejar dan memburu cinta. Ia sudah berada dalam kehadiran Allah yang mencintai-Nya.

 

2. Pengalaman-Abba: Pengalaman-Sumber

 

Apa yang membuat Yesus begitu jauh mendahului kaum mistisi? Pengalaman-Abba yang menjadi jiwa sumber, dasar diri Yesus! Pengalamn-Abba itu menjadi nafas ketampilan Yesus, warta-Nya, praksis-Nya. Seluruh kehidupan Yesus merupakan perayaan dan ortopraksis dari pengalaman-Abba itu. Dengan kehidupan yang diisi pengajaran, mukjizat dan pergaulan yang memancing rasa kagum dan heran, rasa segan dan rasa hormat, rasa kaget dan jengkel, Yesus mengekspresikan persatuan-Nya dengan Sang Pencinta yang memburu dan mencintai setiap manusia.

Para murid mendapat kesan, itulah inti dari peristiwa Yesus. Ia mendapat pengalaman religius, intimitas yang sangat mendalam dengan Allah, Abba tanpa kualifikasi transendental.

Sebutan “Abba” (Pater) tidak biasa. 3 Mak 6:3,8 merupakan trend baru dalam kalangan Yahudi di diaspora Yunani, di sekitar abad pertama. Doa dan sastra para nabi, sastra Yahudi tahap akhir tidak menggunakannya. Injil Yunani pun hanya menyebut satu kali kata, “Abba” (Ibrani), Mrk 14:36. Umat kristiani beberapa kali: Gal 4:6; Roma 8:15. Sebutan Sang Bapa, Bapa, Bapa-Ku (Pater, Yunani), Mat 11:25-26, 26:39-42, Luk 10:21, 22:42, 23:34-46 rupanya merujuk pada Abba (Ibrani). Ada exeget, Yeremias dan van Iersel, mengklaim kata-kata ini sebagai sabda otentik Yesus, asli Yesus.

“Abba” mengungkapkan kehidupan terdalam dan paling intim dari Yesus, rahasia dan kunci kehidupan Yesus. Di dalam kata itu mengental momen-momen pengalaman Allah yang terbaik dan terindah bangsa Israel. Dapat dikatakan, spiritualitas Israel memuncak dalam diri Yesus. Yahweh yang memelihara, melindungi dan mengawal menjadi pengalaman Yesus yang khas, pribadi dan hakiki.

Di dalam kultur Yahudi “Abba” itu berisikan: wibawa, perlindungan, pemeliharaan, pusat keluarga. Terhadap “Abba”, bapa keluarga, yang mewakili nilai-nilai itu seorang anak harus hormat, taat, memberi kegembiraan, takzim sampai mati. Terutama melaksanakan kehendak-Nya, seperti Yesus, Luk 22:42, Mat 26:42, Yoh 4:34, Ibr 10:9, Yoh 5:30. Dari dalam persatuan bahagia yang meruah dalam diri-Nya yang terdalam, Yesus berbicara. Berbicara apa yang diajarkan Bapa di lubuk pribadi-Nya (Siapa Dia? Dari mana wibawa itu? Mat 13:54-56, Yoh 6:42, 7:27). Maka, apa yang dikatakan Yesus mungkin sekali adalah perkara yang paling penting yang dapat dikatakan tentang manusia. Yakni, harapan itu ada. Harapan yang tidak mungkin dijaring dari sejarah umat manusia, dari riwayat individu, dari gerakan-gerakan sosial dan politik. Harapan itu hanya bisa berasal dari Allah, bagi-Nya, “tidak ada yang mustahil” (Mrk 10:27).

 

III. KE DALAM TANGANMU KUSERAHKAN JIWAKU

 

  1. Salib: Kehancuran

 

Kita sampai pada pokok tulisan ini. Apakah salib merupakan peristiwa persatuan manusia dengan Allah yang berkobar dan mendalam, pengalaman mistik? Ya, asal tetap diingat, bahwa manusia yang dijatuhi rahmat pengalaman luar biasa ini bukan seorang mistikus, bukan orang yang masih mengejar-ngejar. Ia sudah bersatu dengan Allah secara tetap.

Peristiwa salib adalah pertama-tama peristiwa kehancuran, penderitaan, absurditas yang nista dan menyakitkan. Yesus bukan orang sakti dan kebal yang berkuasa lolos dari penderitaan. Ia roboh, jatuh berkeping-keping. Ia menjadi cacing, unsur biologi yang paling hina dan sederhana. Vermis sum et non homo, aku cacing dan bukan manusia, kata-kata yang diletakkan pada bibir Yesus. Itu situasi Yesus yang tergantung di salib. Tanpa terjerumus ke dalam dolorisme, yang mengagungkan penderitaan, atau asketisme yang menghebatkan mati raga, kita perlu melihat realitas penderitaan di salib.

 

2. Salib: Bersatu dengan Bapa

 

Kematian di salib ini memang bukan datang dengan tiba-tiba, bukan tanpa dinyana. Itu konsekuensi kehidupan, sikap dan bicara Yesus di hadapan publik. Para murid dengan salah satu cara menangkap kebenaran ini: Yesus itu rahmat. Yesus itu pemberian Allah kepada manusia supaya manusia selamat. Dan untuk itu tampak dengan jelas, dengan mengesankan dan mengagetkan pada salib.

Waktu tergantung pada salib, Yesus tampak terikat mahakuat pada Allah; Allah yang membebaskan dan mengampuni. Mengalami persatuan dengan Allah berarti mengalami diterima, dihormati, disayangi oleh Allah secara tidak tergugat, tidak peduli apa kita ini pemungut cukai, anak durhaka, pejinah, perampok, pengkhianat, pembunuh. Yesus ternyata manusia yang mendapat pengalaman Abba, pengalaman-Allah yang baru, tidak ada duanya.

Maka Ia tegar, kuat, bertahan. Ia tidak kehilangan diri-Nya sewaktu diamuk oleh sengsara yang diaduk-aduk oleh khaos. Diterjang badai itu, in the midst of the sorrow, Ia menjerit: Eloi, Eloi lama sabacthani (Mat 27:46, Mrk 15:34). Mazmur 22 ini, pada bagian pertamanya memang berisikan jeritan maut, kebimbangan, ketakutan. Namun, bagian keduanya memuat kepercayaan, penyerahan, pujian, dan syukur.

 

3. Salib: Dekat dengan Manusia

 

Dekat dengan Allah adalah dekat dengan manusia. Itu ciri mistik yang sangat mendalam. Hakikat terdalam dari Sang Tersalib adalah juga keterarahan-Nya yang total dan radikal kepada sesama manusia. Ia tetap berakar di dalam relasi dengan Allah, dan karenanya terarah secara total dan radikal kepada sesama.

“Bapa ampunilah mereka….” (Luk 23:34). Ini bukan basa-basi yang kosong, melainkan memuncrat dari hati-Nya yang terdalam, dari persatuan-Nya dengan Allah di lapisan dasar hidup-Nya. Ia terus-terusan menggapai sesama manusia guna dipertemukan dengan Sang Abba yang menyelamatkan. Tidak ada jalan yang terlalu jauh, tidak ada lautan yang terlalu dalam yang ditempuh-Nya supaya manusia bebas dan supaya manusia menghormati dan menerima sesamanya. Termasuk jalan yang menyakitkan ini, Salib ini.

 

4. Salib: “Ke dalam Tangan-Mu….”

 

Memandang Dia yang tersalib bisa saja orang teringat pada kata-kata Cicero: inimici mei omnia mea mihi, non meipsum ademerunt, para musuhku telah merampas segala milikku, kecuali diriku (kebebasan, cita-cita, diri sendiri). Tanpa menjadi fatalis yang lesu atau pemberontak yang marah, Yesus menjalani sengsara dan kematian-Nya. Tidak tenggelam dalam atau lari dari penderitaan-Nya. Ia menerima dan mengolah secara kreatif. Ia berada di atas angin ribut yang menggoncang-goncang diri-Nya, Ia berhasil menguasai, menjinakkan situasinya, melakukan domestication de circonstances (G. Marcel).

Dari Sang Tersalib berpancarlah ajakan dan kekuatan kepada semua manusia, supaya jangan berhenti membebaskan diri, individual maupun sosial-politik. Jangan pernah ada orang yang tertindas, terbelenggu, terhina. Ada penjamin yang mengawal perjuangan ini sampai puncak keberhasilan yang tertinggi, yakni Allah yang bersatu dengan Yesus Kristus. Maka dengan ikhlas, bahagia dan bebas Ia berkata: “Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan jiwa-Ku” (Luk 23:46).

 

 

Bumi Serpong Damai, 20 Juni 2002

 

 

Kepustakaan

 

De Jong, S., Varen naar de overkant, Den Haag, 1987.

Hinnells, J.R., Dictionary of Religions, The Penguin, 1984.

Laffont, R., Dictionnaire de la Sagesse Orientale, Paris: Bouquins, 1989.

Schillebeeckx, E., Jesus, het verhaal van een levende, Bloemendaal: H. Nelissen, 1974.

Vergote, A., Het meerstemmige leven, Kampen: DNB, 1987.

________., Jesus de Nazareth sous le regard de la psychologie religieuse,” dalam Jesus Christ, Fils de Dieu, Brussel: Fac. Universitaires Saint Louis, 1981.

Walftave, J. dan Moyaert P., Mystiek en Liefde, Leuven: Univ. Press, 1988.

 

 

*Dipetik dari buku “Salib:  Simbol Teror, Teror Simbol (Kajian Multidimensi)”, Ign. Bambang Sugiharto dan C. Harimanto Suryanugraha (ed), Bandung: SangKris, 2003

 

**Yan Sunyata OSC, Drs., menyelesaikan studi teologinya di Universitas Katolik Leuven (Belgia), dan mengenyam kembali di Universitas Katolik Nijmegen (Belanda). Pernah aktif mengajar di pelbagai perguruan tinggi, khususnya Unpar, Institut Teknologi Bandung (ITB), Unika St. Thomas (Medan) dan STF Driyarkara (Jakarta). Perintis dan penulis tetap jurnal Filsafat dan Teologi Melintas (Fakultas Filsafat Unpar). Ia meninggal dunia pada 22 September 2002 dan dimakamkan di Bandung.

 

245 total views, 3 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 52 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022