Dialektika Api Yesus

oleh: Michael Dhadack Pambrastho

 

 

SEBUAH truisme yang biasa kita dengar dan terima bersama adalah bahwa Yesus senantiasa mengajarkan dan membawa damai, sukacita dan kerukunan. Para pengikut-Nya pun lalu diandaikan akan menuruti melakukan hal yang sama.

Pertanyaannya, bagaimana persisnya 3 (tiga) matra kebenaran tersebut harus dipahami dan dijalankan? Di hadapan dunia kita kini, yang ditandai dengan macam-macam kejahatan, korupsi, pornografi dan aneka ragam dekadensi ini, sikap “damai” yang macam bagaimanakah, nuansa “sukacita” yang seperti apa dan atmosfer “kerukunan” model yang mana yang semestinya kita hayati dan kita kembangkan? Haruskah kita, yang demi mengejar “damai”, lalu mengharamkan konflik? Mestikah kita, yang demi memburu “kerukunan”, lalu wajib bermanis-manis lidah, memasang paras muka bersahabat, menyunggingkan senyum termanis di bibir, kepada siapa saja yang hadir di hadapan kita, tak perduli apakah orang itu baik atau jahat, cacat moral atau tidak, spiritualitasnya memble atau tinggi? Apakah kita dituntut untuk mengambil sikap kompromistis, permisif dan cenderung menutup mata terhadap segala negativitas manakala kondisi-kondisi “damai”, “sukacita” dan “kerukunan” dibahayakan? Apakah kita wajib untuk selalu mengalah, mengorbankan segalanya, semuanya semata-mata demi agar kita tidak “bertengkar” atau “berselisih paham” dengan orang lain?

Sebelum beranjak lebih jauh, mungkin ada baiknya jika kita kembali lagi kepada Yesus. Benarkah Ia senantiasa membawa damai, sukacita dan kerukunan? Kalau ya, “damai”, “sukacita” dan “kerukunan”  yang macam bagaimana yang Ia anjurkan?

Dalam terang Injil Suci, ada beberapa teks yang bisa jadi membuat situasi penalaran kita tentang Yesus menjadi sedikit problematis. Sudah sejak awal sekali retakan makna tentang kedirian Yesus dialirkan ke tengah-tengah arus pemahaman kita. Nubuatan Simeon menyatakan hal itu. Dalam Lukas 2: 33-35 diungkapkan: “Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan –dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri— supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

“…untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang…”. “….menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan…”. Tidakkah ini mengandung arti bahwa Yesus, sejatinya, tidaklah anti konflik? Sampai di sini, imaji kita tentang relasi antara Yesus dan “damai” tampaknya mesti ditata dan ditinjau ulang jika kita memang menghendaki untuk dapat sungguh memahami Yesus.

Teks lain bahkan lebih lugas dan tegas memproblematisasi konstruk pemahaman kita tentang damai yang diwartakan Yesus. Di dalam teks lain tersebut, bahkan Yesus sendiri seperti mengkonfirmasi bahwa kalaupun Ia memang mewartakan damai, sukacita dan kerukunan maka “damai”, “sukacita” dan “kerukunan” yang Ia kehendaki bukanlah “damai”, “sukacita” dan kerukunan” dari jenis yang murahan ataupun gampangan. Dalam perikop bertajuk “Yesus membawa pemisahan” disingkapkan: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.” (Lukas 12: 49-53)

Yesus membawa “api”. Yesus membawa “pertentangan”. Yesus membawa “pemisahan”. Sekali lagi, sekilas, ini menunjukkan pertentangan dengan keyakinan bahwasanya Yesus itu pembawa “damai”, “sukacita” dan “kerukunan”. Bagaimanakah semuanya ini mesti dipahami?

Ditinjau secara hermeneutis, kita dapat mencoba meraba lalu merekonstruksi pemahaman kita tentang apa sesungguhnya yang dikehendaki dan bagaimana sebenarnya “ruang-dalam” dari diri Yesus.

Yesus datang ke dunia membawa serta nilai-nilai agung: kasih, pengampunan, pelayanan dan pengorbanan. Tetapi., sepertinya, semua itu merupakan nilai-nilai “surgawi”. “Dunia”, agaknya, tak mengenalnya, tak mau mengenalnya dan bahkan cenderung membencinya. Keberadaan Yesus di dunia bagaikan api yang membakar dan menghanguskan dosa-dosa manusia sekaligus memurnikan iman orang-orang yang pecaya kepada-Nya. Karya-karya Yesus menimbulkan “pertentangan”.

Dalam bukunya yang bertajuk “Tafsir Injil Lukas”, Stefan Leks menafsirkan Luk 2:34 sebagai berikut: “Karya Yesus akan menimbulkan dua akibat yang sangat berlainan. Dengan cara ini Luk memperkenalkan Yesus sebagai pribadi yang ‘ditawarkan’ Allah kepada iman para pendengarnya.” Dalam bagian lain Stefan Leks juga menulis: “Luk memang menulis tentang kontradiksi yang ditimbulkan oleh Yesus di kalangan bangsa Yahudi. Ia yakin bahwa kontradiksi itu tidak akan terbatas pada satu bangsa itu saja. Kontradiksi itu menjadi pusat perhatiannya baik dalam Injil maupun dalam Kisah Para Rasul (>Kis 28:19,25).” Sedang dalam bagian yang lain lagi Stefan Leks mengungkapkan:  “Yesus adalah sebuah tanda. Tanda tidak memaksa siapa-siapa. Penyelamatan bukan tanda-hadiah yang tinggal diterima secara fisik, melainkan sesuatu yang harus ditanggapi dengan percaya. Allah mau menyelamatkan, tetapi Ia tidak mau disembah oleh kaum budak.//Kata perbantahan secara modern dapat diungkapkan dengan kata ‘kontradiksi’. Yesus akan menjadi tanda yang akan menimbulkan kontradiksi, yaitu dua sikap yang saling berlawanan. Sikap anti akan menghasilkan kejatuhan manusia, sedangkan sikap pro akan menghasilkan kekuatan baru dan damai.”

Dalam pengalaman kita sehari-hari, memilih Yesus –artinya: memilih “yang baik”— segera saja akan mengundang perselisihan dengan “orang-orang yang tak baik”. Dalam sebuah kantor yang lebih mirip “sarang tikus pencuri”, sikap jujur yang dipilih oleh seorang pegawai akan segera melahirkan situasi permusuhan dengan orang-orang yang terbiasa korup di tempat itu.

Jika teks-teks tentang Yesus dibaca maka kita akan mendapatkan bahwa Yesus itu lembut hati, tapi Ia juga bisa tajam menyengat. Yesus murah hati, sekaligus bisa sangat menuntut.

Kelembutan hati Yesus tampak paling jelas saat Ia berada di titik sengsara dan Peristiwa Salib-Nya. Ia mengampuni bahkan mendoakan para pendosa yang menganiaya, mengolok-olok dan menyalibkan-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34)

Tetapi kalau di satu sisi kita katakan bahwa Yesus itu lembut hati, itu tidak berarti lalu kemudian bahwa Yesus “lembek” di hadapan stagnasi dan dekadensi yang dialami orang atau lembaga di zaman-Nya yang seharusnya berbuah baik. Simaklah betapa dalamnya gugatan Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berikut ini. Yesus bahkan tak segan menyebut mereka “celaka”, “munafik” dan “keturunan ular beludak”:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ukar beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!” (Matius 23:27-36)

Yesus murah hati. Kita mengetahuinya saat Ia menggandakan roti, memberi makan kepada ribuan orang yang memerlukan makanan. Kita juga mengetahui kemurahan hati Yesus dari fakta bahwa Ia mengampuni dosa dan mentahirkan banyak orang kusta, mencelikkan mata orang buta dan menyembuhkan orang lumpuh.

Tetapi, kita juga tahu bahwa Yesus bisa sangat menuntut. Misalnya, apa yang terjadi dengan Petrus. Yesus mengharapkan bahwa murid-murid-Nya, khususnya Petrus, memahami apa yang dipikirkan Allah. Tetapi ketika Petrus nyatanya tak mengerti itu, Yesus pun mengecam Petrus dengan amat keras: “Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: ‘Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Markus 8: 31-33)

Yesus yang bisa sangat menuntut juga bisa kita temui dalam kisah “Yesus menyucikan Bait Allah”. Yesus menghendaki Bait Allah menjadi tempat yang sungguh kudus. Tetapi, ketika didapati-Nya tidaklah demikian yang terjadi maka membuncahlah amarah-Nya: “Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: ‘Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!’ Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya. Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.” (Markus 11: 15-19)

Melalui berbagai teks kita mendapati bahwa Yesus begitu kaya akan dimensi. Kita mungkin tak akan sanggup menakar segala kekayaan itu. Namun demikian, ada satu hal yang pasti: dalam upaya melangsungkan Karya Penyelamatan-Nya Yesus tidak pernah bersikap kompromistis. Kalau boleh diungkapkan dalam sebuah istilah yang terbilang modern, Yesus itu dialektis.

Maka, para pengikut-Nya pun hendaknya mengambil pilihan pola sikap yang sama dengan Yesus dalam menghadapi dunia dan manusia: dialektika, dalam pengertian yang sepenuh-penuhnya dari istilah tersebut.

Dialektika sendiri barangkali dapat ditafsirkan dengan berbagai macam cara. Saat mencoba menjelaskan dialektika Hegel dalam hubungan dengan Sekolah Frankfurt, Sindhunata mengungkapkan bahwa ada 4 (empat) pokok pengertian dalam konstruksi pemaknaan atas dialektika Hegel tersebut. Keempat pokok pengertian tersebut adalah: pertama, berpikir secara dialektis berarti berpikir dalam totalitas. Kedua, seluruh proses dialektis itu sebenarnya merupakan “realitas yang sedang bekerja” (working reality). Ketiga, berpikir dialektis berarti berpikir dalam perspektif empiris-historis. Dan keempat, berpikir dialektis berarti berpikir dalam kerangka kesatuan teori dan praxis. (Sindhunata, 1983)

Secara khusus, mengenai pokok yang pertama (“berpikir secara dialektis berarti berpikir dalam totalitas”), Sindhunata menguraikannya sebagai berikut:

 

Totalitas ini bukan berarti semata-mata keseluruhan, di mana unsur-unsurnya yang bertentangan berdiri sejajar. Tapi totalitas itu berarti keseluruhan yang mempunyai unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), dan saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai). Pemikiran dialektis menekankan bahwa dalam kehidupan yang nyata pasti unsur-unsurnya saling berkontradiksi, bernegasi dan bermediasi. Tidak mungkin unsur-unsur itu hanya berdiri sejajar atau bergabung tanpa kontradiksi, negasi dan mediasi. Yang terakhir ini hanya dapat dibayangkan secara abstrak, sehingga hanya merupakan kesadaran yang kosong belaka. Pemikiran dialektis menolak kesadaran yang abstrak itu. Misalnya antara individu dan masyarakat. Menurut pemikiran dialektis, individu selalu saling berkontradiksi, bermediasi dan bernegasi terhadap masyarakatnya.

 

Kalau individu tidak saling berkontradiksi, bernegasi dan bermediasi dengan masyarakatnya, maka individu tidak jadi menemukan dirinya yang sesungguhnya; sebaliknya masyarakat juga tidak dapat menjadi makin sempuna, tinggal seperti semula, tanpa perubahan apa-apa. Dalam hubungan ini mesti dicatat bahwa pemikiran dialektis sama sekali lain dengan kompromi, justru karena pemikiran dialektis mempunyai kontradiksi, negasi dan mediasi sebagai ciri dan sifatnya. Kompromi dengan gampang dicapai dengan persetujuan, di mana unsur-unsurnya yang bertentangan dengan mudah pula diabaikan. Kompromi dengan demikian menjadi sekedar perpaduan. Malahan dalam arti tertentu kompromi bisa berarti saling meniadakan unsur-unsur yang bertentangan. Lain dengan pemikiran dialektis. Pemikiran dialektis justru mengharuskan unsur-unsur tersebut saling bertarung; semua unsur dianggap mempunyai potensi kebenaran, jadi tidak boleh ditiadakan. Juga unsur-unsur tersebut dibiarkan saling bernegasi; dengan saling mengingkari dan diingkari, setiap unsur berhak mempertahankan dirinya serentak juga makin memahami kebenaran dirinya, sementara ia juga melihat bahwa unsur lain tidak boleh dikorbankan demikian saja, justru karena unsur lain tersebut mati-matian mempertahankan dirinya dengan cara mengingkari kebenaran lawannya. Lalu unsur-unsur tersebut saling bermediasi: tiap pihak merasa diperkaya jika ia diperantarai oleh lawannya, lawannya ternyata memberikan sesuatu yang tidak dipunyainya, demikian pula sebaliknya. Jelaslah bahwa proses dialektis tidak dapat sekedar dirumuskan sebagai “thesis” – “antithesis” – “synthesis”. Rumusan sederhana ini bisa mengaburkan proses dialektis yang sesungguhnya menjadi semata-mata komproni yang berarti perpaduan dan malah bisa berarti saling meniadakan. Proses dialektis tidak mengarah pada sintesis dalam arti perpaduan, melainkan mengarah pada tujuan baru sama sekali, yakni “rekonsiliasi” (Aufhebung), di mana tercakup pengertian “pembaharuan”, “penguatan” dan “perdamaian”.

 

Semoga menjadi cukup jelas bahwa dalam upaya merealisasikan damai, sukacita dan kerukunan Yesus tidak mengambil jalan kompromistis, permisif atau bahkan cenderung menutup mata terhadap segala bentuk hambatan, kesulitan dan negativitas melainkan mengambil jalan dialektis: bergumul, berjibaku dan berjuang. Namun, semuanya itu dilakukan tidak dalam belitan nuansa kekerasan apapun melainkan diliputi oleh Kasih yang mendalam terhadap dunia dan manusia dengan pengharapan akhir terciptanya bentuk-bentuk rekonsiliasi: pembaharuan, penguatan, perdamaian. (***)

 

 

Semplak, 15 April 2020

 

 

SUMBER RUJUKAN

 

  1. Alkitab Deuterokanonika, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 2003
  2. Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, Yoyakarta: Kanisius, 2003
  3. Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam rangka Sekolah Frankfurt, Jakarta: PT Gramedia, 1983

 

 

198 total views, 3 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 52 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022