Seorang Nabi dan Seorang Mistikus*

oleh: Albert Nolan, OP**

 

 

Dalam spekulasi-spekulasi mereka mengenai siapakah Yesus, orang-orang sezaman-Nya sepakat bahwa Dia adalah seorang nabi (Mrk 8:27-28 par; Luk 7:16). Beberapa mungkin berpikir bahwa Dia adalah seorang nabi palsu, tetapi Dia dengan jelas berbicara dan bertindak seperti seorang nabi. Dan, memang itulah cara bagaimana Yesus memandang diri-Nya (Luk 4:24). Dia tidak pernah menentang orang yang menyebut-Nya nabi. Dalam inspirasi dasar ini, spiritualitas Yesus adalah seperti spiritualitas para nabi Ibrani.

 

Berseru

 

Para nabi adalah orang-orang yang berseru ketika orang-orang lain diam. Mereka mengkritik masyarakat mereka sendiri, negara mereka sendiri, atau institusi religius mereka sendiri. Mereka yang mengkritik negara-negara musuh atau agama-agama asing tidak disebut nabi. Nabi-nabi sejati adalah orang-orang, baik laki-laki maupun perempuan, yang bangkit dan berseru mengenai praktik-praktik masyarakat mereka sendiri dan pemimpin-pemimpin mereka sendiri ketika orang-orang lain diam.

Hal ini tentu saja memunculkan tegangan dan kadang juga konflik antara seorang nabi dan sebuah kemapanan. Dalam Kitab Suci Ibrani, kita melihat bagaimana para nabi bentrok dengan raja-raja dan kadang juga dengan para imam. Yesus sangat menyadari tegangan atau konflik ini dalam tradisi-tradisi para nabi. “Berbagahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah. Sebab sesungguhnya, upahmu besar di surge; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi” (Luk 6:22-23 par). Yesus memandang mereka yang telah membunuh para nabi pada masa lampau sebagai nenek moyang atau para pendahulu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mat 23:29-35).

Tegangan atau konflik terjadi antara kekuasaan dan pengalaman. Para nabi sejati bukanlah bagian dari struktur kekuasaan masyarakat mereka atau institusi religius mereka. Tidak seperti para imam dan raja-raja, para nabi tidak pernah ditunjuk, ditahbis, atau diurapi oleh sebuah kemapanan religius. Mereka mengalami panggilan khusus yang datang langsung dari Allah, dan pesan mereka datang dari pengalaman mereka akan Allah, “Maka berkatalah Tuhan Allah.”

Kita sudah melihat betapa dalam dan radikalnya Yesus berseru melawan pandangan-pandangan dan praktik-praktik dalam kemapanan sosial dan religius zaman-Nya. Dia menjungkirbalikkan dunia mereka. Konflik yang ditimbulkan oleh penjungkirbalikan ini menjadi begitu hebat sehingga pada akhirnya mereka membunuh-Nya untuk bisa membungkam-Nya. Setiap usaha untuk mempraktikkan spiritualitas yang sama seperti Yesus menuntut usaha untuk belajar berseru dengan lantang sebagaimana DIa lakukan dan untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi.

 

Membaca Tanda-tanda

 

Para nabi adalah orang-orang yang dapat menyatakan masa depan, bukan sebagai seorang peramal nasib, melainkan sebagai orang-orang yang telah belajar untuk membaca tanda-tanda zaman mereka. Hal itu dilakukan dengan memusatkan perhatian mereka pada dan menjadi sadar sepenuhnya akan kecenderungan-kecenderungan politik, sosial, ekonomi, militer, dan sekaligus religius zaman mereka.

Membaca tanda-tanda zaman merupakan bagian integral spiritualitas Yesus. Pada langkah pertama, seprti juga para nabi Israel, Yesus melihat angkatan perang dari sebuah imperium sangat kuat yang mengancam – dalam hal ini adalah Imperium Romawi. Kekuatan imperial sangatlah dikenal oleh para nabi. Dalam berbagai kesempatan, orang-orang Israel telah ditindas oleh Mesir, Kanaan, Assyria, Babilonia, Persia, dan Yunani. Para nabi memberi peringatan melawan kerja sama dengan struktur-struktur kekuasaan ini dan menjanjikan bahwa masing-masing kekuatan itu suatu hari akan surut dan jatuh – dan demikianlah yang terjadi. Dalam hal ini, para nabi melihat tangan-tangan Allah.

Dalam pandangan Yesus, hanyalah soal waktu saja sebelum tentara Roma merasa perlu untuk menyerang dan menghancurkan Yerusalem. “Ketika engkau melihat Yerusalem dikepung oleh tentara, maka ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat” (Luk 21:20). “Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engakau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau” (Luk 19: 43-44_).

Bagi kebanyakan orang Yahudi, kehancuran Bait Allah di Yerusalem berarti kehancuran pemujaan mereka, budaya mereka, dan bangsa mereka. Perhatian Yesus bukanlah pada masa depan Bait Allah tetapi pada orang-orang Yerusalem, terutama para wanita dan anak-anak yang sangat menderita di tangan orang-orang Roma (Luk 19:44; 21:21-14). Tetapi Yesus tahu, sebagaimana para nabi Israel juga telah tahu, bahwa semua kekuasaan akan datang dan pergi. “Yerusalem akan diinjak-diinjak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu” [1] (Luk 21-24).

Apa yang juga dilihat oleh Yesus adalah lingkaran kekerasan yang menimpa para petani Galilea. Studi-studi terakhir membuat kita sadar akan masyarakat tani di mana Yesus hidup dan kenyataan bahwa Yesus sendiri mungkin juga seorang petani. Para pekerja seperti tukang kayu dan nelayan adalah juga petani. [2] Para petani tidak hanya miskin, tetapi mereka juga dieksploitasi dan ditindas tidak hanya oleh orang-orang Romawi tetapi juga oleh Herodes dan para tuan tanah yang kaya raya. Mereka menanggung beban pajak yang berat sehingga mereka terus-menerus terbelit utang. Sementara keadaan mereka semakin memburuk, apa yang berkembang adalah lingkaran kekerasan. [3] Para petani dan pekerja harus berjuang untuk bertahan menghadapi eksploitasi ini. Akibat yang muncul adalah penindasan yang semakin keras yang pada gilirannya akan memunculkan revolusi yang kemudian kembali memunculkan penindasan yang lebih keras lagi.

Yesus, dengan membaca tanda-tanda zaman-Nya dari sudut pandang petani Galilea, melihat bahwa lingkaran kekerasan tidak memberi harapan apa pun bagi orang-orang miskin dan bagi mereka yang tertindas. Orang-orang hidup tanpa kekuatan dan tanpa pertolongan. Apakah berkaitan dengan para petani Galilea ini kita diberitahu bahwa Yesus melihat orang banyak “lelah dan telantar seperti domba tanpa gembala” (Mat 9:36)?

Pengalaman tidak aman membawa orang pada peningkatan gairah religius: gerakan-gerakan baru, sekte-sekte baru, dan juga gagasan-gagasan baru. Orang-orang gelisah untuk mengetahui apa yang akan Tuhan kerjakan dan apa yang Tuhan kehendaki untuk mereka kerjakan. Meskipun hal ini tidak begitu sama dengan kehausan spiritualitas zaman ini, kegelisahan itu merupakan pencarian akan Tuhan.

Dengan mengamati luka dan derita para petani dan orang-orang miskin yang lain yang menjadi semakin miskin dari hari ke hari dan memohon makanan sehari-hari, yang dihentak oleh kemunafikan dan pembenaran diri dari para pemimpin religius, serta yang digerakkan oleh rasa kehilangan dan kehancuran banyak orang yang tulus, Yesus tampaknya memutuskan bahwa orang-orang butuh penyembuhan. Ada tanda-tanda bahwa inilah saatnya.

Ketika para murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Yesus apa yang sedang terjadi, Dia menjawab, “Yesus menjawab mereka, ‘Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik’!” (Mat 11:4-5)

Penyembuhan yang sukses di antara orang-orang miskin dan berita mengenai kasih Allah yang dibawa oleh Yesus sendiri kepada para petani dan pengemis merupakan tanda nyata bahwa sesuatu yang baru sedang mulai. Itu adalah apa yang telah dinubuatkan oleh Yesaya (29:18-19; 35:5-6; 61:1-2). Tidak hanya Yesus yang mengerjakan hal-hal ini. Murid-murid-Nya dan juga mereka yang berasal dari luar lingkaran Yesus sibuk dengan pekerjaan besar ini (Luk 9:49-50 par).

Di dalam tanda-tanda pengharapan ini, dan mungkin juga dalam banyak tanda-tanda yang lain, Yesus melihat tangan Tuhan. Dan jika ini sungguh karya Allah, “maka Kerajaan Allah telah datang kepadamu” (Luk 11-20 par). Dengan kata lain, Pemerintahan Allah telah mulai.

 

Utusan Allah

 

Sebagaimana juga para nabi, Yesus berbicara bagi dan atas nama Allah. Tampaknya Dia, bahkan melakukannya dengan lebih yakin dan lugas daripada para nabi yang lain. Dia tidak mengawali pesan-Nya dengan kata-kata seperti, “Tuhan bersabda”. Dia langsung menyatakan pesan-Nya dengan, “Tetapi Aku berkata kepadamu”.

Dari mana Yesus memperoleh keyakinan tak tergoyahkan bahwa Dia dapat berbicara bagi Allah? “Dari mana orang ini memperoleh kebijaksanaan-Nya?” tanya orang-orang sezaman-Nya (Mat 13:54). Lebih dari itu, Yesus hanyalah tukang kayu dari sebuah kampung Galilea yang tidak penting, yang disebut Nazaret.

Para nabi mengalami tidak hanya panggilan khusus dari Allah, melainkan juga kedekatan khusus dengan Allah yang memampukan mereka untuk mengerti perasaan dan pikiran Allah mengenai apa yang sedang terjadi atau yang akan terjadi di masa depan. [4] Pengalaman mistik akan kesatuan dengan Allah inilah yang memampukan mereka untuk berbicara atas nama Allah.

Dalam membaca Injil-injil, kesan umum yang kita peroleh adalah bahwa Yesus sungguh adalah seorang yang bertindak: berkhotbah, mengajar, menyembuhkan, dan menghadapi para pemimpin religius dan politik. Apa yang tidak selalu kita perhatikan ialah bahwa di belakang semua aktivitas ini ada hidup doa yang terus-menerus dan kontemplasi yang mendalam.

Satu dari ingatan-ingatan yang terus dimiliki oleh murid-murid tentang Yesus adalah kenangan akan seorang pribadi yang sering khusuk dalam doa. Mereka sering melihat-Nya berdoa. Kadang-kadang, Dia pergi beberapa jauh dari mereka untuk berdoa (Mat 26:36; Luk 22:41; 11:1). Mereka mengatakan bahwa pada suatu ketika saat Ia sedang berdoa, mereka melihat penampilan-Nya berubah dan wajah-Nya bercahaya (Mat 17:2 par).

Tampaknya Yesus mengambil semua kesempatan untuk masuk ke dalam sebuah tempat hening dan sendirian untuk berdoa dan berefleksi. Markus mengisahkan, “Pagi hari, ketika hari masih gelap, Dia bangun dan pergi ke tempat sunyi, dan di sana Dia berdoa (Mrk 1:35 lih juga 6:46 dan Luk 4:42). Lukas menyatakan bahwa Yesus berdoa dengan teratur (5:16). Sebelum memilih dua belas rasul, Dia melewatkan waktu semalam-malaman di dalam doa (Luk 6:12). Dia menyarankan untuk berdoa di tempat pribadi karena Dia tidak memiliki waktu untuk mereka yang “senang berdiri dan berdoa di sinagoga-sinagoga dan di sudut-sudut jalan sehingga mereka dilihat oleh orang-orang lain” (Mat 6: 5-6). Dia menyebut orang-orang seperti itu munafik. Kita dapat yakin bahwa Dia melewatkan banyak waktu untuk berdoa di belakang pintu yang tertutup.

 

Tahun-tahun Kontemplatif

 

Yesus pertama-tama dan terutama adalah seorang kontemplatif. Kesibukan hidup publik-Nya tampaknya mulai dari usia tiga puluh tahun, dan berlangsung kurang dari tiga tahun. Periode sebelum ini disebut sebagai hidup tersembunyi Yesus. Tersembunyi atau tidak, saya yakin bahwa hidup itu dipenuhi dengan doa, kontemplasi, dan diskresi. Bagaimana Dia dapat bertindak dengan kejelasan dan keyakinan seperti itu selama hidup publik-Nya yang singkat? Dia sepenuhnya manusiawi dan oleh karena itu harus tumbuh dan berkembang dalam waktu seperti orang-orang lain. Lukas menyatakan, “Yesus tumbuh di dalam hikmat dan besar-Nya” (Luk 2:52 NIV; lihat juga Luk 2:40).

Pada tahap tertentu, Dia pasti belajar untuk membaca dan menulis – di Sinagoga tentu saja. Lukas menggambarkan Dia yang mendengarkan para teolog terpelajar pada waktu itu, yakni para ahli Taurat dan mengajukan pertanyaan kepada mereka di Bait Allah (Luk 2: 41-50). Dengan satu atau lain cara, Dia melewatkan tahun-tahun untuk berkenalan dengan arti Kitab Suci, dengan tanda-tanda zaman, dan dengan panggilan dan perutusan-Nya sendiri.

Sebuah pengalaman akan kasih Allah yang khusus dan penggilan Allah terjadi ketika Dia ada dalam doa setelah pembaptisan di Yordan (Luk 3: 21-22 par). Dia merasa bahwa Roh Allah telah turun atas-Nya seperti seekor merpati dan bahwa Dia telah dipilih untuk menjadi seorang nabi atau hamba atau anak Allah lewat cara yang khusus.

Kita diberi tahu bahwa Yesus melewatkan empat puluh hari di padang gurun. Angka empat puluh adalah angka tematik. Angka itu menggemakan kembali perjalanan empat puluh tahun yang ditempuh para budak Israel di padang gurun. Mungkin Yesus melewatkan lebih dari empat puluh hari di padang gurun. Apa pun peristiwanya, Dia tampaknya berbicara mengenai periode itu sebagai sebuah periode pencobaan ketika Dia berjuang dengan kehendak Allah dan inti dari panggilan-Nya (Luk 4: 1-13; Mat 4: 1-11). [5] Haruskah Dia melewatkan hidup-Nya untuk memperoleh roti untuk memberi makan mereka yang lapar (mengubah batu menjadi roti)? Haruskah Dia mengambil kuasa dan pemerintahan atas Israel dan atas bangsa-bangsa di dunia (sebagaimana dijanjikan oleh setan)? Haruskah Dia melakukan sesuatu yang sensasional seperti meloncat dari bubungan Bait Allah untuk menarik perhatian (dengan harapan bahwa para malaikat akan menangkap-Nya)?

Dapatkah di sini kita melihat perjuangan Yesus sendiri melawan ego-Nya? Ego, sebagaimana telah kita lihat, adalah gambaran yang salah mengenai diri kita yang dapat kita samakan atau kita tolak sebagai sebuah cobaan. Dapatkah setan menjadi jalan pikir pra-modern mengenai apa yang sekarang kita sebut sebagai ego kita?

Kita dapat juga menduga bahwa selama tahun-tahun yang lebih kontemplatif ini Yesus sibuk dengan membaca tanda-tanda zaman-Nya. Sebagaimana telah saya tunjukkan dalam Jesus Before Christianity, ketika Herodes menagkap Yohanes Pembaptis, Yesus meninggalkan padang gurun dan Sungai Yordan, dan memulai pelayanan pewartaan dan penyembuhan di Galilea – yang berfokus pada kaum miskin, para pendosa, dan mereka yang sakit, mereka yang hilang dari kawanan Israel. [6] Bukankah pelayanan ini merupakan buah dari reinterpretasi kontemplatif atas tanda-tanda zaman-Nya? Apa yang sekarang mulai ialah sebuah masa baru, masa yang cukup berbeda dari masa Yohanes Pembaptis.[7]

Kesatuan Yesus dengan Allah adalah bahwa Dia menjadi semakin sadar tentang bagaimana Dia tumbuh dalam kebijaksanaan selama tahun-tahun sebelum Ia memulai pelayanan publik-Nya. Sementara tidak mungkin bagi kita merekonstruksi perkembangan kesadaran ini, ada beberapa indikasi mengenai apa makna doa kontemplatif dan mistik-Nya.

 

Mistik Yesus

 

Yesus adalah seorang mistikus. “Mistikus” dan “mistisisme” bukanlah istilah-istilah Kitab Suci, tetapi mengungkapkan dengan sangat baik pengalaman yang dimiliki oleh para nabi dalam Kitab Suci. Tulisan-tulisan para mistikus dapat membantu kita menafsirkan pengalaman-pengalaman religius para nabi, dan secara khusus pengalaman kesatuan Yesus dengan Allah yang sungguh sangat mendalam. Semua mistikus berbicara mengenai pengalaman kesatuan dengan Allah.

Kesatuan unik Yesus dengan Allah telah menjadi subyek debat teologis selama berabad-abad dan subjek definisi doktrinal dan pernyataan iman.[8] Ini bukanlah pokok perhatian kita di sini. Penelusuran kita dalah mengenai beberapa indikasi mengenai bagaimana Yesus mengalami kesatuan-Nya dengan Allah.

Para ahli sekarang ini berbicara mengenai pengalaman kesatuan Yesus dengan Allah sebagai pengalaman akan Bapa-Nya, pengalaman-Nya akan Allah sebagai Bapa yang mengasihi.[9] Para mistikus yang lain menggambarkan pengalaman mereka dengan gambaran perkawinan atau kesatuan seksual atau kelahiran Anak Allah atau hilangnya diri dan menyatu dengan Allah atau dengan yang Absolut. Yesus mengalaminya sebagai relasi ayah-anak atau orang tua-anak.

Semua mistikus memberi tahu kita bahwa kata-kata atau gambar-gambar yang kita gunakan untuk menggambarkan kesatuan dengan Allah tidaklah memadai. Tidak satu pun bisa memuat di dalamnya pengalaman kesatuan dengan Allah yang tak terbahasakan, yang tak terbayangkan. Namun demikian, kita butuh mempergunakan kata-kata atau metafor-metafor, juga bila mereka tidak memadai, untuk berbicara mengenai pengalaman manusia yang paling mendalam ini. Yesus melakukannya dengan berbicara kepada Allah dan tentang Allah sebagai Abba.

Satu dari ingatan paling kuat yang dimiliki oleh para murid mengenai Dia adalah bahwa Dia menyebut Allah dengan sebuah kata kekeluargaan yang sudah familier, Abba, dan bukan dengan kata-kata religius yang suci[10] dan bahwa Ia juga mengajar murid-murid-Nya untuk melakukan hal yang sama. Hal ini sangatlah mengejutkan dan tidak biasa bahwa sebuah kata asli Aram yang digunakan oleh Yesus kadang-kadang tetap dipakai dalam Perjanjian Baru Yunani sebagai “Abba Bapa” (Mrk 14:36; Gal 4:6; Rom 5:15). Sebagai sebuah cara unik untuk menyapa dan menyebut Allah, cara ini adalah cara yang unik.[11]

Dalam usaha kita untuk mengenal spiritualitas Yesus, arti dari penggunaan kata abba ini tidaklah berarti bahwa Ia adalah laki-laki atau bahwa abba adalah kata yang dipergunakan oleh anak-anak, melainkan bahwa abba mengungkapkan sebuah intimitas, kedalaman. Allah dikatakan sebagai orang tua yang mengasihi yang memeluk, mendekap, dan melindungi anak-anak-Nya. Dan seperti cinta setiap orang tua yang baik, cinta itu hangat dan tanpa syarat. Beberapa mungkin akan lebih mengaitkan cinta ini dengan seorang ibu yang perhatian daripada dengan seorang bapak[12] meskipun ada ayah-ayah yang hangat. Perhatian adalah sesuatu yang umum, baik sekarang ini maupun pada masa lampau.

Yang lebih membuka cakrawala daripada penggunaan kata abba adalah penggambaran Yesus mengenai Allah yang mengasihi sebagaimana dalam perumpamaan tentang anak yang hilang. Ayah ini bergembira pada saat anaknya itu pulang. Ia tidak berpikir mengenai hukuman atau balasan, dan tidak ingin mendengar apa pun mengenai keroyalan anaknya dan penghambur-hamburan uang yang dilakukannya. Reaksi spontan dari bapa ini adalah pengampunan tanpa syarat.

Yesus memandang diri-Nya sebagai anak yang belajar meniru ayah-Nya. Dia belajar untuk mengampuni tanpa syarat seperti yang dilakukan oleh Allah. Dia belajar untuk murah hati seperti Bapa-Nya juga murah hati (Luk 6:36). Karena Bapa-Nya membuat matahari bersinar dan hujan turun atas orang baik dan orang jahat, Yesus belajar untuk mengasihi orang baik dan orang jahat, termasuk juga para musuh dan mereka yang menganiaya-Nya (Mat 5: 44-45 par).

Jika kita kesulitan berpegang secara serius pada Yesus dan untuk hidup sebagaimana Dia hidup, itu karena kita belum mengalami Allah sebagai Bapa kita. Pengalaman akan Allah sebagai Bapa merupakan sumber kebijaksanaan Yesus, kejelasan-Nya, keyakinan-Nya dan kemerdekaan radikal-Nya. Tanpa pengalaman ini, tidaklah mungkin mengerti mengapa dan bagaimana Dia melakukan hal-hal yang dilakukan-Nya.[13]

 

Tradisi Mistik-Kenabian

 

Belum lama berselang, ada kecenderungan untuk memisahkan yang rohani dari yang politis, doa dari usaha keadilan, mistisisme dari tindak kenabian. Mereka yang haus akan spiritualitas seolah-olah tidak haus akan keadilan. Politik dan perjuangan pembebasan dirasakan seluruhnya duniawi dan tidak rohani. Di lain pihak, mereka yang dirasuki cinta akan keadilan dan kebebasan sering berpikir bahwa masuk ke dalam doa dan mistik berarti lari ke dalam individualisme.

Tentu saja ada beberapa kekecualian – orang-orang yang melihat doa dan keadilan sebagai dua sisi dari satu keping mata. Saya berpikir mengenai Thomas Merton, Dorothy Day, Oscar Romero, Helder Camara, Dorothee Soelle, Mahatma Gandhi, dan sejumlah figur yang lain dari berbagai tradisi iman yang berbeda di Afrika Selatan dan di mana-mana. Apa yang menarik kita di sini ialah jalan yang sungguh sederhana di mana kenabioan dan mistik membentuk sebuah keutuhan tak terpisahkan di dalam hidup dan spiritualitas Yesus.

Sekarang kita menyebutnya tradisi mistik-kenabian.[14] Istilah ini semakin sering dipergunakan di dalam teologi dan spiritualitas Kristen, bukan hanya sebagai sebuah usaha untuk mengatasi antagonisme antara keduanya di masa lampau, tetapi juga sebagai sebuah cara mengenali bahwa secara umum paling tidak di dalam tradisi Yudeo-Kristiani tidak ada pemisahan atau antagonisme semacam itu. Para nabi adalah mistikus-mistikus dan para mistikus adalah nabi-nabi. Setiap gagasan bahwa seseorang dapat menjadi seorang nabi yang menyerukan keadilan dan perubahan sosial tanpa sebentuk pengalaman kesatuan dengan Allah tidaklah terpikirkan. Sama tak terpikirkannya dengan setiap gagasan bahwa seseorang dapat menjadi seorang mistik yang sungguh sempurna tanpa menyerukan dengan kritis ketidakadilan-ketidakadilan zamannya. Kita sering lupa bahwa para mistikus dari Basilius Agung sampai Katarina dari Siena berseru dengan lantang melawan ketidakadilan-ketidakadilan orang-orang kaya, penguasa-penguasa politik, dan para pemimpin Gereja pada zaman mereka.

Mereka dalah orang-orang yang berpegang pada Yesus secara serius dan seperti Yesus sendiri mereka berakar pada spiritualitas mistik-kenabian.

 

Kekuasaan Institusional

 

Saya selalu merasa bahwa ada dua sejarah Gereja Kristen: sejarah institusi dengan para paus dan perang-perang kekuasaan, skisma-skisma, konflik-konflik, dan perpecahan-perpecahan, birokrasi; dan sejarah para martir, para kudus, para mistikus dengan devosi mereka pada doa, kerendahan hati, dan pengurbanan diri, kebebasan dan kegembiraan mereka, keteguhan dan cinta mendalam mereka bagi siapa pun dan bagi apa pun. Yang terakhir ini kita sebut tradisi mistik-kenabian dan yang sebelumnya kita sebut tradisi kekuasaan institusional.

Selalu saja ada sejumlah tumpang tindih antara keduanya, tetapi dalam keutuhannya kedua sejarah atau tradisi ini berjalan bersama ke arah yang tanpa ada tegangan dan konflik satu sama lain. Kita telah menyaksikan bagaimana para nabi Israel berselisih dengan kekuasaan religius dan politik, tetapi pada waktu yang sama dapat disebut para kudus dan mistikus. Bahkan sedikit pandangan saja pada tulisan Robert Ellsberg, All Saints, menyatakan konsistensi di mana para kudus dan para mistikus mendapati diri mereka di dalam konflik, atau paling tidak di dalam sebuah relasi yang tegang dengan kemapanan religius zaman mereka.[15]

Para mistikus, seperti juga para nabi, tidak ditunjuk oleh penguasa religius untuk menjalankan tugas mereka sebagai mistikus. Kekuasaan para kudus, para mistik, dan para nabi selalu didasarkan pada kesucian mereka dan kedekatan mereka dengan Allah – pada pengalaman mereka. Kekuasaan institusional selalu mendapati dirinya dalam kesulitan berhadapan dengan kemerdekaan dalam roh seperti itu.

Karakteristik lain yang pantas dicatat dari tradisi mistik adalah sejumlah besar wanita yang tampak secara nyata di sana; para wanita yang secara luas menuliskan pengalaman-pengalaman mistik mereka dan yang bertindak sebagai penasihat dan konselor bagi semua, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Kita hanya berpikir mengenai para mistikus besar, seperti Katarina dari Siena, Teresia dari Avila, Hildegard dari Bingen, Yulian dari Norwich, Mechthild dari Magdeburg, dan Katarina dari Genoa. Di lain pihak, institusi tetap saja begitu patriarkal. Mereka yang ada dalam kekuasaan selalu dan senantiasa laki-laki.

Apa yang perlu kita perhatikan adalah di dalam konflik antara tradisi mistik-kenabian dan kekuasaan institusional pada zaman-Nya, Yesus pertama-tama merupakan seorang wakil dari tradisi mistik-kenabian. Dia bukanlah seorang imam dan bukan pula seorang ahli Taurat. Dia adalah seorang awam – dan seorang petani. Kekuasaan institusional diwakili oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, para imam dan para penatua, orang-orang Saduki dan Sanhedrin.

Tetapi, salahlah mengira bahwa Yesus menolak institusi religius zaman-Nya. Dia menghormati institusi itu, misalnya ketika Dia mengatakan bahwa mereka “menduduki kursi Musa” (Mat 23:2), bahkan Dia mengatakan memerintahkan untuk mencintai semua yang menjadi bagiannya. Tetapi, Ia sungguh-sungguh menolak cara institusi itu dipergunakan dan disalahgunakan untuk menindas orang-orang (Mat 23: 3-4). Inilah peran seorang nabi dan mistikus di semua agama dan tradisi iman di segala zaman dan di segala tempat.

Baik tradisi mistik-kenabian maupun kekuasaan institusional dapat digunakan untuk mendominasi dan menindas. Di lain pihak, seorang dukun bisa menempatkan diri sebagai nabi, mistikus, atau juga seorang kudus.

Yesus bukanlah seorang anarkis dalam artian Ia berpikir bahwa orang dapat mengatur segalanya tanpa struktur kekuasaan sama sekali. Dia ingin mengubah keseluruhan kemapanan religius zaman-Nya dari akarnya. Dengan pemikiran inilah Dia mulai membangun Kerajaan-Keluarga Allah sebagai Israel baru dengan struktur baru, yakni dua belas rasul.[16] Tampaknya Dia menginginkan sebuah struktur yang lebih menyerupai sebuah keluarga, sebuah struktur egaliter di mana mereka yang memiliki kekuasaan menjalankannya sebagai sebuah pelayanan bagi yang lain. Ketika kedua belas rasul mulai berdebat mengenai siapa yang terbesar di antara mereka, Dia mengingatkan mereka untuk tidak menjadi seperti para pemimpin yang menggunakan kekuasaan mereka dan menjadi tuan atas yang lain, melainkan untuk menjadi para hamba yang ingin melayani daripada dilayani (Mrk 10: 42-45 par).[17] Spiritualitas mistik-kenabian relevan juga bagi mereka yang mendapati diri-Nya di dalam posisi sebagai penguasa.

 

Spiritualitas Mistik-Kenabian bagi Semua Orang

 

Setiap orang yang ingin berpegang pada Yesus dengan serius harus mempersiapkan diri menjadi seorang nabi dan mistikus. Dalam sejarah Israel sebelum Yesus, para nabi adalah individu-individu yang langka. Maksud Yesus adalah membuka semangat kenabian bagi semua orang. Setiap orang dapat dan harus membaca tanda-tanda zaman sebagaimana setiap orang dapat membaca langit dan memperkirakan cuaca esok hari (Mat 16: 1-4).

Kemudian, kita juga akan menjadi cukup berani untuk berbicara seperti para nabi. Ini adalah pengalaman orang-orang Kristen pertama setelah kematian yesus. Pencurahan Roh Kudus pada Pentakosta dan sesudahnya adalah sebuah pencurahan roh kenabian. Petrus menyatakan diri di dalam Kisah Para Rasul (2:17) dengan mengutip Nabi Yoek (2:28), “Pada akhir zaman ….. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua orang, dan anak-anakmu laki-laki serta perempuan akan bernubuat, dan orang-orang mudamu akan melihat penglihatan-penglihatan, orang-orang tuamu akan bermimpi.”

Kita dapat juga menjadi mistikus. Pada kenyataannya, sebagaimana telah kita lihat, kenabian dan mistik berjalan bersama. Kesatuan mistik dengan Allah bukanlah sebuah pengalaman yang hanya diperuntukkan bagi beberapa orang spesial dan khusus. Benar bahwa setiap orang tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mendayagunakan kesempatan seperti itu. Tetapi, Yesus tidak berpikir bahwa hanya Dia sendiri yang dapat mengalami sebuah intimitas dengan Allah sebagai Bapa-Nya. Allah adalah Bapa dan Bapa bagi semua, “Bapa-Ku dan Bapamu” (Yoh 20:17; “Bapa Kami” (Mat 6:9 par). Kita semua dapat mengalami, dalam tataran tertentu, intimitas dengan Allah sebagaimana akan kita lihat.

Menurut prediksi yang sering dikutip dari teolog besar abad XX, Karl Rahner, “Orang-orang Kristen masa depan akan menjadi seorang mistik atau tidak ada sama sekali.”[18]

Apa yang kita dapati di sana adalah persoalan lain. (***)

 

 

*Tulisan ini aslinya merupakan salah satu bab dalam buku “Jesus Today” yang ditulis oleh Albert Nolan, OP  (Albert Nolan, Jesus Today, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009)

 

**Alber Nolan, OP adalah seorang imam Katolik Roma Afrika Selatan dan anggota ordo Dominikan. Ia juga menulis sebuah buku lain tentang Yesus yang berjudul “Jesus Before Christianity” (1976)

 

 

Catatan Kaki

 

  1. Beberapa ahli Perjanjian Baru yakin bahwa nubuat tentang kehancuran Yerusalem ditulis setelah kehancuran itu terjadi pada tahun 70 M. Tetapi, saya cenderung berpikir bahwa Yesus sungguh-sungguh membuat nubuat ini. Lihat Albert Nolan, Jesus Before Christianity, 25th anniversary ed. (Maryknoll, NY: Orbis, 2001), 21-23. Tetapi, betul seperti itu atau tidak, perhatian terhadap kaum wanita dan anak-anak adlah ciri spiritualitas Yesus.
  2. Pernyataan awal saya bahwa Yesus adalah dari kelas menengah karena Dia adalah anak tukang kayu (Jesus Before Christianity, 127) sekarang tampaknya harus dikoreksi. Lihat terutama Dominic Crossan, The Historical Jesus: The Life of a Mediterranean Jewish Peasant (Edinburgh T. & T. Clark, 1991) dan Richard A. Horsley, Jesus and the Spiral of Violence: Popular Jewish Resistance in Roman Palestine (san Fransisco: Harper and Row, 1987).
  3. Lihat studi brilian Richard A. Horsley tentang hal ini dalam Jesus and the Spiral of Violence.
  4. Gerhard von Rad, The Message of the Prophets, terj. D. M. G. Stalker (New York: Harper and Row, 1972; London: SCM, 1968), 42, 50, 165-166.
  5. Bagi saya sepertinya tidak mungkin bahwa komunitas-komunitas Kristen awal mengangkat gagasan mengenai Yesus yang dicobai jika Dia tidak berbicara sesuatu mengenai diri-Nya.
  6. Nolan, Jesus Before Christianity, 27.
  7. Ibid., 93-97.
  8. Kesatuan Yesus dengan Allah pada umumnya dikatakan sebagai kesatuan hipostatik, yakni kesatuan antara Yang Ilahi dan manusia di dalam satu pribadi, dan hubungan-Nya dengan Bapa sebagai hubungan antara dua pribadi dalam Trinitas. Hal ini menjadikan Yesus sebagai satu-satunya Anak Allah dan orang-orang yang lain seperti para mistikus, anak-anak angkat Allah.
  9. Sebuah ringkasan penelitian terakhir mengenai penggunaan kata abba oleh Yesus lihat Roger Haight, Jesus Symbol of God (Maryknoll, NY: Obis, 1999), 100-101.
  10. Edward Schillebeeckx, Jesus: An Experiment in Christology, terj. Hubert Hoskins (London: Collins, 1979), 260.
  11. James D. G. Dunn, Christology in the Making (Philadelphia: Westminster Press, 1980), 26.
  12. Robert Hamilton-Kelly, God the Father: Theology and Patriarchy in the Teaching of Jesus (Philadelphia: Fortress, 1979), 81.
  13. Schillbeeckx, Jesus, 266, 268.
  14. David Tracy, “Recent Catholic Spirituality: Unity and Diversity”, dalam Christian Spirituality: Post-Reformation and Modern, vol.3 (London: SCM, 1990), 160-170. Lihat juga Philip F. Sheldrake, “Christian Spirituality as a Way of Living Publicly: A Dialectic of Mystical and Prophetic,” Spiritus: Journal of Christian Spirituality 3, no. 1 (2003), 24-27.
  15. Lihat Robert Ellsberg, All Saint: Daily Reflections on Saints, Prophets, and Witnesses for Our Time (New York: Crossroad, 1997).
  16. Lihat argumentasi sangat menarik dari Horsley mengenai historisitas penunjukan dua belas rasul oleh Yesus dalam Jesus and the Spiral of Violence, 199-208.
  17. Juga jika kata-kata dalam Markus 10:42-45 merupakan kata-kata Gereja Perdana daripada kata-kata Yesus sendiri, kata-kata itu mengungkapkan dengan sangat baik roh ajaran dan spiritualitas Yesus.
  18. Karl Rahner, The Practice of the Faith (New York: Crossroad, 1983), 22.

 

416 total views, 6 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 52 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022