PANDEMI COVID-19 TAK MENGALAHKKAN UMAT KATOLIK MEMUJI TUHAN DAN BER-COMMUNIO

oleh: Felix Rahno Armunanto

 

Kebiasaan manusia untuk bersosialisasi melalui pertemuan, tatap muka, kunjungan dan berkumpul, harus berubah menjadi soliter dengan tinggal di rumah, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dsb. Dari pola hidup semula yang kurang peduli pada kebersihan dan kesehatan, harus berubah untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan dengan cuci tangan, memakai masker, dsb.

Perubahan tata kehidupan ini tak terkecuali juga berimbas pada hidup rohani dan hidup menggereja. Dari semula umat Katolik merayakan Misa Kudus di gereja, harus diganti dengan mengikuti perayaan Misa Kudus secara live dari rumah masing-masing. Kegiatan lingkungan, seperti Ibadat Sabda, doa bersama, Pendalaman Kitab Suci dan doa Rosario, dengan tiba-tiba harus dihentikan dan diganti dengan kegiatan rohani dan doa sendiri-sendiri di rumah masing-masing.

Demikian pula di lingkungan kami, mengikuti anjuran Gereja dan pemerintah untuk tidak berkegiatan dengan berkumpul, maka selama bulan Mei 2020 diputuskan untuk merayakan bulan Maria, berdevosi kepada Bunda Maria dengan berdoa Rosario dalam keluarga masing-masing secara serentak setiap jam 17.00. Sebelumnya kami pun mengawali dengan mengikuti perayaan Ekaristi oleh Bapa Uskup secara live dari rumah masing-masing. Perubahan sangat terasa, dari yang semula penuh keakraban dan tawa ria ketika berkumpul sebelum dan sesudah berdoa bersama, tiba-tiba keriuhan menghilang, sunyi dan seakan-akan menjadi cuek satu sama lain.

Sebagai makhluk sosial, ternyata manusia tidak dapat hidup sendiri, selalu ada kerinduan untuk berkumpul dan saling menyapa. Muncul dorongan dari tiap keluarga untuk mencari cara agar dapat bertemu, saling menyapa dan memelihara kehidupan rohani bersama kembali.

Menjelang akhir bulan Maria, kerinduan untuk berkumpul dan berdoa bersama makin terasa. Mulailah kasak-kusuk dan saling menghubungi via telepon, untuk dapat ‘berkumpul’ melakukan doa Rosario Penutupan Bulan Maria bersama-sama. Jadilah disepakati untuk mengadakan doa Rosario bersama secara virtual untuk seluruh keluarga-keluarga warga lingkungan. Sebagai persiapan, dimotori oleh Ibu-ibu kemudian disebarkan undangan, disiapkan teks doa dan pembagian tugas antar keluarga agar kegiatan doa Rosario bersama tersebut dapat berjalan lancar.

Akhirnya pada hari Minggu, 31 Mei 2020, jam 17.00, dilaksanakan kegiatan Penutupan Bulan Maria melalui doa Rosario bersama secara virtual dengan melibatkan 16 keluarga warga lingkungan. Pendarasan Doa Bapa Kami dan Salam Maria, diakhiri dengan Litani dan doa Ratu Surga, melalui estafet antar keluarga berlangsung dengan mulus. Setelah doa Rosario, suasana makin seru dan penuh tawa ria ketika keluarga-keluarga dapat saling menyapa penuh keakraban kembali, tak ubahnya seperti bertemu dan bertatap muka langsung.

Pandemi Covid-19, ternyata tidak dapat mengalahkan umat Katolik untuk terus memuji Tuhan dan ber-communio. Kita tidak tahu sampai kapan tata kehidupan soliter Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan New Normal dapat berangsur pulih kembali tanpa keharusan menjaga sekat-sekat jarak. Namun pilihan bertemu secara virtual telah membuktikan bahwa umat Katolik dapat terus ber-communio melalui kegiatan-kegiatan lingkungan: doa bersama, pendalaman kitab suci, dll, dalam waktu-waktu kedepan. Semoga pandemi Covid-19 cepat berlalu. [ ]

 

 

258 total views, 6 views today

About Michael Dhadack Pambrastho 52 Articles
Ketua Komsos Paroki St Ignatius Loyola Semplak Bogor Periode 2019-2022